Benarkah Lailatul Qadar hanya untuk Umat Rasulullah?

Lailatul Qadar merupakan malam yang lebih baik dari seribu bulan. Ulama menyebut malam istimewa ini sebagai anugerah khusus bagi umat Nabi Muhammad SAW. (Foto: Int/Ilustrasi)

SerambiMuslim.com – Lailatul Qadar dikenal sebagai malam yang memiliki keutamaan luar biasa dalam bulan Ramadan. Salah satu keistimewaannya adalah malam tersebut diyakini sebagai anugerah khusus yang diberikan Allah SWT kepada umat Nabi Muhammad SAW.

Pendiri Rumah Fiqih Indonesia, Ustadz Ahmad Sarwat, dalam bukunya Jaminan Mendapat Lailatul Qadar menjelaskan bahwa mayoritas ulama berpendapat keutamaan Lailatul Qadar merupakan kekhususan bagi umat Rasulullah SAW.

Ulama hadis terkemuka, Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani, dalam kitab Fathul Bari Jilid 4 juga menyebutkan bahwa umat-umat sebelum Nabi Muhammad SAW tidak memperoleh keistimewaan malam tersebut sebagaimana umat Islam saat ini.

Keterangan tersebut merujuk pada hadis yang diriwayatkan oleh Imam Malik dalam kitab Al-Muwaththa:

“Rasulullah diperlihatkan umur-umur manusia sebelumnya yang relatif panjang sesuai dengan kehendak Allah, sampai (akhirnya) usia-usia umatnya semakin pendek (sehingga) mereka tidak bisa beramal lebih lama sebagaimana umat-umat sebelum mereka beramal karena panjangnya usia mereka. Maka Allah memberikan Rasulullah Lailatul Qadr yang lebih baik dari seribu bulan” (HR Malik).

Hadis tersebut menjelaskan bahwa penetapan Lailatul Qadar sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan merupakan karunia Allah SWT bagi umat Nabi Muhammad SAW. Melalui malam tersebut, umat Islam memiliki kesempatan untuk meraih pahala yang besar meskipun usia mereka relatif lebih pendek dibandingkan umat terdahulu.

Dalam Alquran juga disebutkan bahwa beberapa nabi memiliki usia yang sangat panjang. Salah satunya adalah Nabi Nuh AS yang hidup bersama kaumnya selama ratusan tahun. Hal ini dijelaskan dalam Surah Al-Ankabut ayat 14:

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَىٰ قَوْمِهِ فَلَبِثَ فِيهِمْ أَلْفَ سَنَةٍ إِلَّا خَمْسِينَ عَامًا فَأَخَذَهُمُ الطُّوفَانُ وَهُمْ ظَالِمُونَ

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka ia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun. Maka mereka ditimpa banjir besar dan mereka adalah orang-orang yang zalim.”

Dengan adanya Lailatul Qadar, umat Islam memiliki kesempatan untuk menyaingi besarnya pahala yang diperoleh umat-umat terdahulu meskipun masa hidup mereka lebih singkat.

Selain itu, terdapat pula riwayat mengenai seorang dari Bani Israil yang berjihad di jalan Allah selama seribu bulan. Kisah tersebut membuat para sahabat Nabi merasa kagum terhadap amal yang dilakukannya.

Dalam riwayat Al-Baihaqi disebutkan:

أَنَّ رَجُلاً مِنْ بَنِي إِسْرَائِيل لَبِسَ السِّلاَحَ فِي سَبِيل اللَّهِ تَعَالَى أَلْفَ شَهْرٍ فَعَجِبَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ ذَلِكَ فَأَنْزَل اللَّهُ عَزَّ وَجَل : إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ

“Ada seorang dari Bani Israil yang mengenakan senjata untuk berjihad di jalan Allah selama 1000 bulan. Hal itu membuat kaum Muslimin kagum, lalu Allah SWT menurunkan ayat: Inna anzalnahu fi lailatil qadr… hingga firman-Nya lailatul qadri khairun min alfi syahr” (HR Al-Baihaqi).

Meski demikian, sebagian ulama memiliki pandangan berbeda terkait keberadaan Lailatul Qadar. Mereka berpendapat bahwa malam tersebut juga pernah ada pada masa para nabi terdahulu.

Pendapat ini merujuk pada hadis yang diriwayatkan Imam Ahmad dari Abu Dzar RA:

عن أَبِي ذَرٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَفِيهِ : قُلْتُ : يَا رَسُول اللَّهِ أَخْبِرْنِي عَنْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ أَفِي كُل رَمَضَانَ هِيَ ؟ قَال : نَعَمْ . قُلْتُ : أَفَتَكُونُ مَعَ الأْنْبِيَاءِ فَإِذَا رَفَعُوا رُفِعَتْ أَوْ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ ؟ قَال : بَل هِيَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

“Dari Abu Dzar RA, ia berkata: Aku bertanya kepada Rasulullah SAW, ‘Wahai Rasulullah, beritahukan kepadaku tentang Lailatul Qadar, apakah malam itu ada pada setiap Ramadan?’ Beliau menjawab, ‘Ya.’ Aku bertanya lagi, ‘Apakah malam itu ada bersama para nabi terdahulu, lalu ketika mereka wafat malam tersebut diangkat, ataukah tetap ada sampai hari kiamat?’ Nabi menjawab, ‘Akan tetap ada sampai hari kiamat’” (HR Ahmad). ***