SerambiMuslim.com – Perkembangan teknologi digital yang begitu pesat menghadirkan kemudahan luar biasa dalam kehidupan manusia. Informasi bergerak dalam hitungan detik, opini cepat terbentuk, dan media sosial menjadi ruang baru bagi publik untuk menilai, memuji, bahkan menghakimi.
Namun di balik kemajuan tersebut, tersimpan tantangan besar dalam menjaga kejernihan hati dan standar penilaian moral di tengah derasnya arus informasi.
Menteri Agama (Menag), Nasaruddin Umar, mengingatkan bahwa menjaga hati di era supercanggih saat ini bukanlah perkara mudah.
“Dulu ukuran baik dan buruk relatif jelas. Standarnya merujuk pada Alquran, hadits, serta pendapat para ulama yang diperkuat oleh tokoh adat dan kearifan lokal,” ujar Menag Nasaruddin.
Menurut Nasaruddin yang juga menjabat sebagai Imam Besar Masjid Istiqlal, saat ini referensi tersebut mulai mengalami pergeseran. Sesuatu yang secara normatif dinilai baik, belum tentu diterima secara sosial. Sebaliknya, hal yang secara nilai dipandang kurang tepat, bisa saja dianggap baik karena didukung oleh kekuatan tertentu.
Ia mencontohkan dalam konteks sosial dan politik, seseorang yang secara kapasitas dinilai layak memimpin belum tentu berhasil menduduki jabatan tertentu.
“Ada orang yang sangat diyakini mampu menduduki jabatan itu, tetapi ia terkalahkan oleh orang di lapis kedua. Kenapa? Karena tidak didukung oleh uang, tidak didukung partai politik, tidak didukung media sosial, atau tidak mendapatkan dukungan internasional,” jelasnya.
Fenomena tersebut, kata dia, menunjukkan bahwa ukuran baik dan buruk tidak lagi sepenuhnya bersandar pada standar normatif sebagaimana sebelumnya. Opini dan persepsi publik kini kerap dipengaruhi oleh kekuatan lain yang memiliki daya dorong besar.
Lebih lanjut, ia menilai di era digital, opini sering kali lebih dominan dibandingkan fakta akademik. Validitas ilmiah belum tentu berbanding lurus dengan penerimaan sosial.
“Ini menjadi tantangan bagi kita semua. Bagaimana mengembalikan standar penilaian yang bersumber pada kata hati dan hati nurani,” tegasnya.
Ramadan sebagai Momentum Pemulihan Batin
Nasaruddin juga menekankan bahwa bulan suci Ramadan menjadi momentum penting untuk melakukan pemulihan batin atau restoring. Ramadan, menurutnya, adalah waktu yang tepat untuk meluruskan pola pikir yang mungkin menyimpang, melembutkan hati yang mulai mengeras, serta menguatkan kembali langkah kehidupan yang sempat melemah.
Ia mengajak masyarakat menjadikan Ramadan bukan sekadar ritual tahunan, tetapi ruang refleksi untuk memperkuat integritas moral di tengah tantangan era digital. ***






