Masjid Nabawi Dahulu, Begini Sejarah Perkembangannya

Masjid Nabawi awalnya dibangun Rasulullah SAW dengan lantai tanah dan atap pelepah kurma. Simak sejarah perluasan dan keutamaannya dalam Islam. (FOTO: Dok MCH)

SerambiMuslim.com – Masjid Nabawi kini dikenal sebagai salah satu masjid terbesar dan paling istimewa bagi umat Islam. Namun, masjid yang berada di Madinah, Arab Saudi, ini awalnya dibangun dengan sangat sederhana oleh Rasulullah SAW.

Saat pertama kali didirikan, Masjid Nabawi memiliki lantai tanah berbatu dan atap dari pelepah kurma. Seiring perkembangan umat Islam, masjid tersebut mengalami sejumlah perluasan dan renovasi hingga menjadi kompleks masjid megah seperti sekarang.

Masjid Nabawi dibangun Rasulullah SAW pada awal hijrahnya ke Madinah, tepatnya pada bulan Rabiul Awal. Ukuran awalnya sekitar 70 hasta x 60 hasta atau kurang lebih 35 x 30 meter.

Sejarah pembangunan masjid ini tidak terlepas dari kerelaan Bani Najjar menyerahkan tanah mereka. Perkembangannya kemudian berlanjut pada masa para khalifah hingga pemerintahan Arab Saudi.

Tanah Masjid Nabawi Diwakafkan Bani Najjar

Dikutip dari buku ‘Isu-Isu Kontemporer Tentang Islam dan Pendidikan Islam’ karya Syamsul Kurniawan, lokasi awal pembangunan Masjid Nabawi merupakan area yang sebelumnya memiliki bangunan milik Bani Najjar.

Rasulullah SAW kemudian meminta Bani Najjar menentukan harga tanah dan bangunan tersebut. Namun, mereka menolak menerima pembayaran dan memilih menyerahkannya secara sukarela.

“Wahai Bani Najjar, berilah harga bangunan kalian ini?”

Orang-orang Bani Najjar menjawab: “Tidak, demi Allah. Kami tidak akan meminta harga untuk bangunan ini kecuali hanya kepada Allah.”

Penyerahan tersebut menjadi bagian penting dalam sejarah berdirinya Masjid Nabawi. Tanah itu kemudian digunakan untuk membangun masjid yang menjadi pusat kegiatan umat Islam di Madinah.

Bangunan Awal Masjid Nabawi Sangat Sederhana

Anas bin Malik RA meriwayatkan bahwa lokasi pembangunan Masjid Nabawi saat itu masih dipenuhi sejumlah hal yang perlu dibenahi.

“Saat itu di area pembangunan terdapat kuburan orang-orang musyrik, puing-puing bangunan dan pohon kurma. Rasulullah SAW kemudian memerintahkan untuk memindahkan mayat di makam tersebut, meratakan puing-puing dan menebang pohon kurma.”

Setelah lokasi dibersihkan, pembangunan masjid dilakukan dengan bahan-bahan sederhana. Lantainya berupa tanah berbatu, sedangkan atapnya menggunakan pelepah kurma.

Kondisi tersebut sangat berbeda dengan Masjid Nabawi saat ini. Kompleks masjid modern memiliki bangunan luas, lantai bertingkat, serta pelataran yang mampu menampung banyak jemaah.

Masjid Nabawi Mulai Diperluas pada 7 Hijriah

Seiring bertambahnya jumlah umat Islam, kapasitas Masjid Nabawi tidak lagi mencukupi kebutuhan jemaah. Rasulullah SAW kemudian memperluas masjid pada tahun 7 Hijriah.

Dalam buku ‘Misteri Mukjizat Makkah & Madinah: 21 Kedahsyatan Yang Terjadi Di Kota Al-Mukaramah’ karya Namin Asimah Asizun, perluasan tersebut dilakukan dengan menambah sekitar 20 hasta pada panjang dan lebarnya.

Dalam proses perluasan itu, Utsman bin Affan RA disebut menanggung biaya pembebasan tanah yang digunakan untuk memperbesar masjid.

Perkembangan Masjid Nabawi berlanjut setelah Rasulullah SAW wafat. Khalifah Umar bin Khattab RA melakukan renovasi pada 17 Hijriah.

Renovasi berikutnya dilakukan pada masa Khalifah Utsman bin Affan RA, yakni pada 29 Hijriah.

Perluasan dan pembenahan tersebut mencerminkan perkembangan masyarakat Muslim di Madinah. Masjid Nabawi terus berkembang untuk memenuhi kebutuhan ibadah umat Islam.

Perluasan Masjid Nabawi pada Era Modern

Pada masa modern, Masjid Nabawi mengalami perluasan besar-besaran. Pemerintah Arab Saudi mengembangkan kawasan masjid dengan bangunan, lantai atas, dan pelataran yang luas.

Perkembangan tersebut menjadikan Masjid Nabawi sebagai salah satu kompleks masjid terbesar di dunia. Kawasannya kini mampu menampung ratusan ribu jemaah.

Meski mengalami banyak perubahan, Masjid Nabawi tetap memiliki kedudukan istimewa dalam sejarah Islam. Masjid ini menjadi tujuan utama umat Islam yang berkunjung ke Madinah untuk beribadah dan berziarah.

Keutamaan Salat di Masjid Nabawi

Selain memiliki nilai sejarah, Masjid Nabawi juga mempunyai keutamaan dalam ajaran Islam. Rasulullah SAW menjelaskan keutamaan salat di masjid tersebut melalui sebuah hadits.

“Salat di masjidku ini lebih utama dari 1.000 kali salat di masjid selainnya, kecuali Masjid al-Haram.” (HR Bukhari dan Muslim)

Hadits tersebut menerangkan keutamaan beribadah di Masjid Nabawi dibandingkan masjid lainnya, kecuali Masjidil Haram.

Dari bangunan sederhana berbahan tanah, batu, dan pelepah kurma, Masjid Nabawi berkembang menjadi kompleks masjid megah. Perjalanan sejarahnya menunjukkan peran penting masjid tersebut dalam kehidupan umat Islam hingga saat ini. (*)