Perbedaan Nuzulul Quran dan Lailatul Qadar

Bulan suci Ramadan memiliki dua peristiwa penting yang sering dikaitkan dengan turunnya Alquran, yakni Nuzulul Quran dan Lailatul Qadar. Kedua momen tersebut sama-sama berkaitan dengan awal turunnya wahyu kepada Nabi Muhammad SAW. (Foto: iStockphoto/Ilustrasi)

SerambiMuslim.com – Bulan suci Ramadan memiliki dua peristiwa penting yang sering dikaitkan dengan turunnya Alquran, yakni Nuzulul Quran dan Lailatul Qadar. Kedua momen tersebut sama-sama berkaitan dengan awal turunnya wahyu kepada Nabi Muhammad SAW.

Namun, keduanya memiliki makna yang berbeda. Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah KH Tafsir menjelaskan bahwa Alquran diturunkan pada sepuluh malam terakhir Ramadan.

Keterangan tersebut merujuk pada sejumlah ayat Alquran dan hadis Nabi Muhammad SAW. Di antaranya Surah Al-Baqarah ayat 185 serta Surah Al-Qadr yang menjelaskan tentang turunnya Alquran pada malam Lailatul Qadar.

Selain itu, terdapat hadis riwayat Imam Bukhari dari Aisyah RA yang berbunyi, “Carilah Lailatul Qadar pada malam-malam ganjil di sepuluh malam terakhir Ramadan.”

Lalu muncul pertanyaan, mengapa umat Islam di Indonesia memperingati Nuzulul Quran setiap tanggal 17 Ramadan, bukan pada salah satu malam di sepuluh hari terakhir?

KH Tafsir mengutip pandangan ulama tafsir besar, Imam At-Thabari. Menurutnya, Alquran yang turun pada malam Lailatul Qadar merupakan wahyu yang diturunkan sekaligus dalam bentuk utuh (jumlatan wahidatan).

Pada tahap tersebut, Alquran diturunkan dari Lauhul Mahfudz ke langit dunia, namun belum langsung disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW.

“Alquran diturunkan dari Lauhul Mahfudz ke langit dunia, tetapi belum kepada Nabi Muhammad,” ujar KH Tafsir, mengutip penjelasan Imam At-Thabari.

Setelah itu, wahyu diturunkan secara bertahap kepada Nabi Muhammad SAW melalui Malaikat Jibril. Mayoritas ulama meyakini proses turunnya wahyu pertama kepada Nabi terjadi pada 17 Ramadan.

Karena itu, peringatan Nuzulul Quran pada 17 Ramadan dipahami sebagai momentum ketika wahyu Alquran mulai diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW secara berangsur-angsur.

Selain penjelasan tersebut, ada pula pendapat yang mengaitkan tanggal 17 Ramadan dengan Surah Al-Anfal ayat 41. Ayat ini menjelaskan peristiwa Perang Badar yang terjadi pada 17 Ramadan, yang disebut sebagai hari Al-Furqan, yakni hari pembeda antara kebenaran dan kebatilan.

Ayat tersebut berbunyi bahwa Allah menurunkan petunjuk kepada Nabi Muhammad pada hari bertemunya dua pasukan dalam Perang Badar.

Di samping itu, beberapa riwayat menyebutkan wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad SAW adalah lima ayat pertama Surah Al-Alaq. Peristiwa tersebut juga diyakini terjadi pada 17 Ramadan.

Keutamaan Membaca Alquran

Membaca Alquran juga memiliki keutamaan besar dalam Islam. Dalam hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah RA, Nabi Muhammad SAW bersabda bahwa rumah yang di dalamnya dibacakan Alquran akan dipenuhi keberkahan.

“Rumah yang dibacakan Alquran akan terasa lapang bagi penghuninya, dipenuhi kebaikan, dihadiri para malaikat, dan dijauhkan dari setan. Sebaliknya, rumah yang tidak dibacakan Alquran akan terasa sempit, sedikit kebaikannya, malaikat menjauh, dan setan mendekat,” demikian makna hadis tersebut.

Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulum ad-Din juga menyebutkan bahwa setiap huruf Alquran berada dalam penjagaan malaikat. Para malaikat tersebut turut mendoakan orang yang membaca Alquran.

Alquran sendiri terdiri dari 114 surah dengan sekitar 6.616 ayat yang diturunkan secara bertahap di Makkah dan Madinah.

Dalam buku Al-Qur’an dari Masa ke Masa karya Munawar Khalil yang mengutip pendapat ulama Madinah, Atha bin Yasar, disebutkan bahwa Alquran memiliki sekitar 77.439 kata dan lebih dari 325 ribu huruf.

Dengan jumlah huruf tersebut, setiap orang yang membaca Alquran diyakini akan mendapatkan doa dari ratusan ribu malaikat. ***