Perbedaan Puasa Umat Islam dengan Umat Sebelumnya

Setelah menjalankan ibadah puasa selama satu bulan penuh di bulan Ramadan dan merayakan Hari Raya Idulfitri pada 1 Syawal, umat Islam dianjurkan untuk melanjutkan amalan dengan menunaikan puasa sunnah di bulan Syawal. (Foto: iStockphoto/Ilustrasi)

SerambiMuslim.com – Salah satu ibadah khas Ramadan adalah sahur, yaitu makan pada dini hari sebelum subuh.

Aktivitas ini tidak hanya memenuhi energi untuk menjalankan puasa, tetapi juga sarat dengan keberkahan bagi umat Muslim.

Dalam sebuah hadis riwayat Ahmad, Nabi Muhammad SAW menganjurkan, “Bersahurlah, sesungguhnya dalam sahur itu penuh keberkahan.”

Sahur juga menjadi pembeda antara puasa umat Islam dan puasa yang dilakukan umat Ahli Kitab, seperti Yahudi dan Nasrani.

Dari Amr bin al-Ash, Nabi SAW bersabda, “Keutamaan yang ada antara puasa kita dan Ahli Kitab adalah makan sahur” (HR Muslim).

Selain sahur, ada beberapa perbedaan lain. Ustadz Ahmad Sarwat dalam bukunya Sejarah Puasa menjelaskan bahwa puasa umat Islam memiliki keringanan (rukhsah) dibandingkan umat terdahulu. Misalnya, Maryam, ibunda Nabi Isa AS, saat berpuasa harus menahan lapar, dahaga, dan juga tidak berbicara, karena berbicara bisa membatalkan puasanya.

Rukhsah lain diberikan kepada mereka yang sakit, musafir, atau tidak mampu berpuasa. Mereka boleh menunda puasa dengan qadha’ atau membayar fidyah.

Rasulullah SAW juga melarang puasa wishal, yaitu puasa terus-menerus tanpa sahur atau berbuka, sebagai bentuk kasih sayang kepada umatnya.

Ketika para sahabat bertanya apakah beliau berpuasa wishal, Nabi menjawab, “Aku tidak seperti kalian, sesungguhnya Allah memberiku makan dan minum” (HR Bukhari dan Muslim).

Selain itu, jumlah hari puasa umat Islam lebih sedikit dibanding umat sebelumnya. Alquran menyatakan dalam Surah al-Baqarah ayat 184:

“Hanya dalam beberapa hari yang tertentu.” (أَيَّاماً مَّعْدُودَاتٍ)

Umat Islam diwajibkan berpuasa hanya pada bulan Ramadan, sementara umat Nabi Daud diwajibkan berpuasa berselang-seling sepanjang tahun.

Mengapa puasa sudah ada sejak zaman dahulu? Perintah berpuasa bagi umat Islam serupa dengan kewajiban yang diberikan pada umat terdahulu. Hal ini menunjukkan bahwa puasa merupakan ibadah yang sudah lama dikenal, sebagai sarana pengendalian diri, mengatur nafsu, dan memfokuskan perhatian pada aspek spiritual.

Dengan demikian, puasa tidak hanya menjadi ritual unik umat Nabi Muhammad SAW, tetapi juga latihan spiritual yang membantu meningkatkan kesadaran diri, keimanan, dan kedekatan dengan Allah SWT bagi semua orang beriman lintas zaman. ***