Pesan Terakhir Nabi Musa: Tanam Kapas, Jaga Harga Diri

UAS mengungkap pesan terakhir Nabi Musa tentang menanam kapas sebagai simbol kemandirian dan menjaga kehormatan dalam bedah buku di Jakarta. (Foto: Int/Ilustrasi)

SerambiMuslim.com – Dai kondang, Ustadz Abdul Somad (UAS), membagikan kisah reflektif tentang pesan terakhir Nabi Musa AS kepada anaknya menjelang wafat.

Pesan itu sederhana, namun sarat makna, yakni menanam kapas sebagai jalan hidup yang mandiri dan bermartabat.

Kisah tersebut disampaikan UAS saat membedah bukunya, 35 Kisah Saat Maut Menjemput, di Masjid Baitut Tholibin, Jakarta, Jumat, 27 Februari 2026.

Dalam paparannya, UAS menjelaskan bahwa Nabi Musa tidak meninggalkan pesan tentang kekuasaan atau harta, melainkan tentang kerja dan kehormatan diri.

“Nabi Musa berpesan kepada anaknya, nanti tolong tanam kapas. Kenapa kapas? Karena kapas tidak perlu disiram. Kalau musim panas, daunnya gugur sendiri,” ujar UAS di hadapan jamaah.

Menurutnya, kapas bukan sekadar tanaman, melainkan simbol kemandirian ekonomi. Dari kapas, seseorang bisa memintal benang, menenunnya menjadi kain, lalu menjualnya untuk memenuhi kebutuhan hidup.

“Nanti kapas akan dipintal jadi benang, benang ditenun jadi kain, lalu jual kain. Jangan jual harga dirimu,” tegasnya.

Relevan untuk Pendidikan Anak Perempuan

UAS menilai pesan tersebut sangat relevan dalam pendidikan anak, khususnya perempuan. Ia menekankan pentingnya membekali anak dengan keterampilan agar mampu berdiri di atas kaki sendiri dan menjaga kehormatan.

“Anak perempuan, tanamkan dia kapas. Nanti dia akan jual kain. Lebih baik dia jual kain daripada jual harga diri. Itu penting. Pesankan ke anak-anak perempuan kita,” katanya.

Menurut UAS, nilai utama dari kisah tersebut adalah tentang mencari nafkah secara halal melalui usaha sendiri sebagai bentuk menjaga martabat manusia.

Refleksi Kematian dan Keteladanan

Buku 35 Kisah Saat Maut Menjemput memuat refleksi tentang kematian melalui kisah para nabi, sahabat, ulama, serta tokoh bersejarah, terutama pesan-pesan terakhir mereka sebelum wafat.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, mengapresiasi terbitnya buku tersebut. Ia menilai karya UAS menghadirkan pelajaran sejarah sekaligus refleksi moral bagi masyarakat.

“Buku ini mengingatkan kita tentang kematian. Dengan membaca kisah-kisah ini, semoga kita semakin bersemangat menyiapkan bekal untuk kehidupan setelah mati,” ujarnya.

Senada dengan itu, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto, menilai tema kematian relevan dengan suasana Ramadan sebagai bulan perenungan.

“Mengingat kematian membuat kita lebih bijaksana. Kekayaan dan jabatan tidak akan kita bawa. Pada akhirnya, kita semua sama di hadapan Allah SWT. Semoga refleksi ini melembutkan hati kita,” tuturnya.

Sementara itu, Menteri Kebudayaan Fadli Zon menekankan pentingnya literasi spiritual sebagai bagian dari kekayaan budaya bangsa.

“Kematian adalah sesuatu yang pasti. Buku ini mengingatkan kita untuk memaknai hidup sebagai hadiah yang harus digunakan sebaik-baiknya,” kata Fadli.

Melalui kisah Nabi Musa tentang kapas, UAS mengajak masyarakat merenungkan kembali makna kerja, kemandirian, dan kehormatan sebagai bekal sebelum ajal menjemput. ***