SerambiMuslim.com – Kedutaan Besar Republik Azerbaijan untuk Indonesia bersama OIC Youth Indonesia dan Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) Pimpinan Pusat Muhammadiyah menggelar Ramadan Iftar Gathering sebagai upaya mempererat hubungan persahabatan serta memperkuat nilai toleransi dan harmoni di dunia Islam.
Kegiatan yang mengangkat tema “Strengthening Connectivity and Values-Based Smart Power for Tolerance and Harmony in the Islamic World” itu berlangsung di Aula PP Muhammadiyah, Jakarta, Kamis, 5 Maret 2026.
Acara tersebut dihadiri Duta Besar Azerbaijan untuk Indonesia Ramil Rzayev, Presiden OIC Youth Indonesia Astrid Nadya Rizqita, Ketua LDK PP Muhammadiyah Muchamad Arifin, serta Dewan Pembina OIC Youth Indonesia Beni Pramula.
Turut hadir sejumlah tokoh diplomasi, di antaranya mantan Duta Besar RI untuk Azerbaijan periode 2016–2020 Husnan Bey Fanani, serta mantan Duta Besar RI untuk Bulgaria dan Albania Bunyan Saptomo.
Presiden OIC Youth Indonesia Astrid Nadya Rizqita menilai Ramadan tidak hanya dimaknai sebagai bulan menahan lapar dan dahaga, tetapi juga sebagai momentum refleksi spiritual dan penguatan nilai kebersamaan.
“Ramadan sering dipahami sebagai bulan puasa. Namun pada hakikatnya, Ramadan adalah bulan Alquran, bulan kejernihan, penyelarasan kembali, dan refleksi. Puasa bukan sekadar menahan diri dari makan dan minum, tetapi disiplin yang membantu kita kembali fokus pada hal-hal yang benar-benar penting dalam kehidupan,” ujar Astrid.
Ia menambahkan, tema kegiatan tersebut mencerminkan keyakinan bahwa harmoni di dunia Islam harus terus dirawat melalui interaksi dan kerja sama antar komunitas.
“Tema pertemuan ini mencerminkan keyakinan bahwa harmoni bukan sesuatu yang otomatis kita miliki, tetapi sesuatu yang harus secara sadar kita perkuat dan pelihara bersama,” katanya.
Sementara itu, Ketua LDK PP Muhammadiyah Muchamad Arifin menjelaskan bahwa lembaganya berfokus pada penguatan dakwah komunitas yang menjangkau berbagai lapisan masyarakat, termasuk wilayah terpencil di Indonesia.
“Dakwah Muhammadiyah tidak hanya dilakukan di mimbar, tetapi juga di luar mimbar. Kami berupaya hadir langsung di tengah masyarakat, termasuk melakukan outreach dakwah hingga ke daerah-daerah terpencil,” ujarnya.
Menurut Arifin, forum buka puasa bersama seperti ini menjadi ruang penting untuk mempererat silaturahmi serta memperluas jaringan kerja sama lintas komunitas.
“Forum buka puasa bersama ini menjadi wadah untuk saling mengenal dan memperkuat jaringan kebersamaan,” katanya.
Ia juga menyoroti kontribusi Muhammadiyah di sektor pendidikan yang menjangkau berbagai wilayah Indonesia, termasuk kawasan timur seperti Papua dan Nusa Tenggara Timur.
“Perguruan Tinggi Muhammadiyah telah hadir di Sorong, Papua, serta di Nusa Tenggara Timur. Bahkan banyak sekolah Muhammadiyah di wilayah tersebut memiliki siswa mayoritas non-Muslim, sekitar 85 persen. Ini menunjukkan bahwa pendidikan Muhammadiyah terbuka bagi semua kalangan,” jelasnya.
Dewan Pembina OIC Youth Indonesia Beni Pramula mengatakan kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari upaya memperkuat hubungan antarnegara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI).
“Forum seperti ini bukan hanya sekadar buka puasa bersama, tetapi juga menjadi ruang untuk mempererat hubungan persahabatan dan memperkuat kerja sama antarnegara anggota OKI, termasuk antara Indonesia dan Azerbaijan,” ujarnya.
Menurutnya, generasi muda memiliki peran strategis sebagai jembatan penghubung masyarakat lintas negara sekaligus penjaga keberlanjutan hubungan diplomatik di masa depan.
Dalam konteks hubungan Indonesia dan Azerbaijan, terdapat pula narasi sejarah yang menunjukkan keterhubungan dunia Islam sejak berabad-abad lalu. Sejumlah kajian akademik, termasuk yang dikemukakan peneliti Azerbaijan Zaur Aliyev, menyebutkan adanya hipotesis keterkaitan Maulana Malik Ibrahim, salah satu tokoh Wali Songo yang dikenal sebagai Sunan Gresik, dengan kawasan Kaukasus, termasuk wilayah Azerbaijan saat ini.
Narasi tersebut menjadi pengingat bahwa hubungan masyarakat di dunia Islam telah lama terjalin melalui jaringan perdagangan, dakwah, serta pertukaran budaya.
Pada kesempatan yang sama, Duta Besar Azerbaijan untuk Indonesia Ramil Rzayev menyampaikan apresiasi kepada OIC Youth Indonesia atas terselenggaranya kegiatan Ramadan Iftar Gathering yang didukung penuh oleh Kedutaan Besar Azerbaijan.
Ia juga menyampaikan bahwa Azerbaijan akan menjadi tuan rumah Konferensi Tingkat Tinggi Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) pada 2026, yang akan mempertemukan para kepala negara anggota OKI.
Selain itu, Azerbaijan selama ini aktif berperan dalam ekosistem OKI, termasuk dalam mendorong diplomasi kepemudaan. Negara tersebut pernah menjadi tuan rumah Sidang Umum pertama Islamic Cooperation Youth Forum dan terus mendukung berbagai institusi regional OKI.
Melalui kegiatan Ramadan Iftar Gathering ini, para peserta juga berdiskusi mengenai pentingnya memperkuat konektivitas pemuda Muslim dari berbagai negara serta peran organisasi masyarakat sipil dalam membangun diplomasi berbasis nilai.
Kegiatan tersebut diharapkan dapat memperkuat kolaborasi antara komunitas pemuda, lembaga dakwah, dan mitra internasional dalam mendorong terciptanya perdamaian, toleransi, dan harmoni di dunia Islam. ***







