Fikih  

4 Penyakit Hati yang Bisa Merusak Amal, Riya hingga Hasad

ILUSTRASI - Kenali empat penyakit hati yang dapat merusak amal seorang Muslim, mulai dari riya, ujub, sombong, hingga hasad dan dengki. (Foto: Getty Images/iStokphoto)

SerambiMuslim.com – Amal ibadah tidak hanya dinilai dari banyaknya kebaikan yang dilakukan seorang Muslim. Islam juga mengajarkan pentingnya niat dan kebersihan hati dalam setiap amal.

Sebab, penyakit hati dapat merusak nilai amal dan menghilangkan pahala di hadapan Allah SWT.

Seseorang mungkin terlihat rajin beribadah, bersedekah, atau membantu orang lain. Namun, amal tersebut dapat kehilangan nilainya apabila dilakukan dengan hati yang tidak bersih.

Mengutip buku “Mencari Hidayah Tuhan: Berhijrah Menuju Jalan” Allah karya Abdurrohim Harahap, penyakit hati bukan penyakit fisik.

Penyakit hati merupakan sifat buruk yang bersarang dalam hati manusia.

Allah SWT mengingatkan bahaya penyakit hati melalui Surah At-Taubah ayat 125.

وَأَمَّا ٱلَّذِينَ فِى قُلُوبِهِم مَّرَضٌ فَزَادَتْهُمْ رِجْسًا إِلَىٰ رِجْسِهِمْ وَمَاتُوا۟ وَهُمْ كَٰفِرُونَ

Artinya: “Dan adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surah itu bertambah kekafiran mereka, di samping kekafirannya (yang telah ada) dan mereka mati dalam keadaan kafir.”

Alquran juga mengingatkan pentingnya memiliki hati yang bersih ketika menghadap Allah SWT.

يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ ۝ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

Artinya: “Pada hari ketika harta dan anak-anak tidak lagi berguna, kecuali orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (QS Asy-Syu’ara’: 88-89)

Pentingnya menjaga hati juga ditegaskan Rasulullah SAW dalam hadis yang diriwayatkan Nu’man bin Basyir RA.

“Ketahuilah bahwasanya di dalam tubuh manusia itu ada segumpal darah, apabila ia baik maka baiklah seluruh tubuh itu, dan apabila ia rusak maka rusak pulalah seluruh tubuh itu, ketahuilah bahwa ia adalah hati.” (HR Bukhari)

Karena itu, seorang Muslim perlu mengenali penyakit hati yang dapat merusak amal.

Berikut sejumlah penyakit hati yang perlu diwaspadai, sebagaimana dirangkum dari sejumlah literatur keislaman.

1. Riya

Riya merupakan perbuatan amal dengan tujuan agar dilihat dan dipuji manusia.

Seseorang dapat bersedekah, membaca Alquran, salat, atau melakukan kebaikan lainnya. Namun, di dalam hatinya terdapat keinginan agar amal tersebut diketahui orang lain.

Riya berbahaya karena menggeser tujuan ibadah dari mencari rida Allah menjadi mencari perhatian manusia.

Allah SWT mengingatkan bahaya riya dalam Surah Al-Ma’un ayat 4-6.

فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ ۝ الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ ۝ الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ

Artinya: “Maka celakalah orang-orang yang salat, yaitu orang-orang yang lalai terhadap salatnya, yang berbuat riya.”

2. Ujub

Ujub merupakan perasaan kagum terhadap diri sendiri karena merasa memiliki kelebihan. Perasaan tersebut juga dapat muncul ketika seseorang merasa bangga terhadap amal ibadahnya. Misalnya, seseorang merasa lebih rajin beribadah dibandingkan orang lain.

Perasaan serupa dapat muncul karena merasa lebih banyak bersedekah atau membaca Alquran.

Masalahnya bukan terletak pada rasa syukur atas kesempatan beramal. Persoalan muncul ketika seseorang menganggap amal tersebut berasal dari kehebatan dirinya. Perasaan itu kemudian dapat mendorong seseorang merendahkan orang lain.

Ujub membuat seseorang lupa bahwa kemampuan beribadah merupakan nikmat dan pertolongan Allah SWT. Karena itu, amal seharusnya mendorong seseorang semakin rendah hati di hadapan Allah.

3. Sombong atau Takabur

Sombong atau takabur merupakan penyakit hati yang membuat seseorang merasa lebih tinggi. Sifat tersebut juga dapat membuat seseorang menolak kebenaran.

Rasulullah SAW mengingatkan bahaya kesombongan dalam sebuah hadis.

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ

Artinya: “Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan seberat zarah.” (HR Muslim)

Kesombongan dapat muncul karena berbagai hal dalam kehidupan. Penyebabnya dapat berupa ilmu, harta, jabatan, keturunan, penampilan, maupun amal ibadah. Karena itu, kelebihan yang dimiliki seseorang tidak seharusnya menjadi alasan merendahkan orang lain.

4. Hasad dan Dengki

Hasad merupakan keinginan agar nikmat yang dimiliki orang lain hilang. Nikmat tersebut dapat berupa harta, ilmu, kedudukan, keluarga, maupun keberhasilan.

Hasad berbeda dengan keinginan memperoleh kebaikan serupa tanpa mengharapkan nikmat orang lain hilang. Penyakit hati ini berbahaya karena membuat seseorang tidak senang melihat keberhasilan saudaranya.

Dalam kondisi tertentu, hasad bahkan dapat mendorong seseorang merugikan orang lain.

Allah SWT mengajarkan manusia berlindung dari kejahatan orang yang memiliki sifat dengki.

وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ

Artinya: “Dan dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki.” (QS Al-Falaq: 5)

Hasad perlu dilawan dengan memperbanyak rasa syukur kepada Allah SWT. Seseorang juga dapat mendoakan kebaikan bagi orang lain untuk melawan rasa dengki.

Selain itu, penting menyadari bahwa setiap nikmat merupakan ketetapan Allah SWT. Menjaga kebersihan hati menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas amal seorang Muslim.

Banyaknya amal tidak cukup apabila hati masih dipenuhi penyakit yang merusak keikhlasan. Karena itu, introspeksi dan memperbaiki niat perlu dilakukan dalam setiap amal kebaikan. (*)