SerambiMuslim.com – Rasulullah SAW menyebut ada 70 ribu umat Muslim yang mendapat keistimewaan masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab.
Golongan tersebut memiliki karakter khusus sebagaimana dijelaskan Rasulullah SAW dalam hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim.
Dari Imran bin Hushain RA, Nabi Muhammad SAW bersabda:
“Telah diperlihatkan kepadaku umat-umat terdahulu. Aku melihat seorang nabi bersama sekelompok kecil pengikutnya, ada nabi yang hanya diikuti beberapa orang, ada nabi yang hanya bersama seorang atau dua orang, bahkan ada nabi yang tidak memiliki seorang pengikut pun.
Kemudian diperlihatkan kepadaku suatu kumpulan besar manusia, lalu aku mengira mereka adalah umatku.
Namun dikatakan kepadaku, ‘Itu adalah Nabi Musa dan kaumnya.’ Setelah itu diperlihatkan kepadaku kumpulan yang lebih besar lagi, lalu dikatakan, ‘Inilah umatmu. Bersama mereka ada tujuh puluh ribu orang yang akan masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab.’”
Setelah mendengar sabda tersebut, para sahabat Rasulullah SAW kemudian mendiskusikan siapa yang dimaksud 70 ribu orang tersebut.
Sebagian sahabat menduga mereka adalah orang-orang yang pernah mendampingi Rasulullah SAW. Sebagian lainnya menduga mereka adalah orang-orang yang lahir dalam Islam dan tidak pernah menyekutukan Allah.
Rasulullah SAW kemudian menjelaskan karakter golongan tersebut.
“Mereka adalah orang-orang yang tidak meminta diruqyah, tidak mempercayai pertanda sial, tidak berobat dengan kay (pengobatan menggunakan besi atau api panas), dan mereka bertawakal sepenuhnya kepada Rabb mereka.” (HR Bukhari dan Muslim)
Hadis tersebut menunjukkan kesempurnaan tauhid dan tawakal sebagai karakter utama golongan yang mendapat keistimewaan tersebut.
Tidak Membatasi Hanya 70 Ribu Orang
Penyebutan angka 70 ribu tidak selalu dipahami ulama sebagai pembatasan jumlah secara mutlak.
Dalam riwayat lain disebutkan adanya tambahan jumlah yang sangat besar bersama golongan tersebut.
Rasulullah SAW bersabda:
ومعهم سبعون ألفًا، ومع كل ألفٍ سبعون ألفًا؛ يدخلون الجنة بغير حسابٍ ولا عذاب
“Bersama mereka ada tujuh puluh ribu lagi, dan bersama setiap seribu orang terdapat tujuh puluh ribu orang lainnya yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab.”
Karena itu, umat Islam dianjurkan memohon kepada Allah agar termasuk golongan yang memperoleh keutamaan tersebut.
Golongan tersebut berusaha merealisasikan tauhid kepada Allah. Mereka juga berusaha menyempurnakan penghambaan kepada-Nya selama hidup di dunia.
Salah satu cirinya adalah tidak meminta orang lain melakukan ruqyah untuk dirinya. Hal tersebut dikaitkan dengan kuatnya tawakal kepada Allah.
Meminta ruqyah kepada orang yang terpercaya tetap diperbolehkan dalam Islam. Namun, seseorang juga dapat meruqyah dirinya sendiri dengan ayat Alquran dan doa yang diajarkan syariat.
Di antaranya dengan membaca Surah Al-Fatihah, Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Nas, dan Ayat Kursi.
Tidak Mempercayai Pertanda Sial
Golongan tersebut juga tidak melakukan tathayyur, yaitu mempercayai pertanda tertentu sebagai pembawa kesialan.
Mereka tidak menganggap waktu, hewan, seseorang, atau keadaan tertentu sebagai sumber kesialan.
Sikap tersebut berkaitan dengan keyakinan terhadap takdir Allah. Mereka juga memiliki ketergantungan hati dan tawakal kepada-Nya.
Selain itu, mereka tidak memilih pengobatan dengan kay, yaitu membakar bagian tubuh tertentu menggunakan api untuk tujuan pengobatan.
Padahal, pengobatan dengan metode tersebut pada dasarnya diperbolehkan dalam syariat.
Rasulullah SAW bersabda:
إن يكن الطب في شيءٍ ففي ثلاث: لعقةٌ من عسل، وشَرطةُ مِحجم، وكيةٌ من نار، وأنا أكرهُ النار
“Jika kesembuhan terdapat pada sesuatu, maka ada pada tiga hal: satu sendok madu, sayatan alat bekam, dan kay dengan api. Namun aku tidak menyukai pengobatan dengan api.”
Hadis tersebut menunjukkan bahwa kay diperbolehkan. Namun, meninggalkannya dinilai lebih utama bagi orang yang ingin mencapai kesempurnaan tauhid dan tawakal.
Masuk Surga Tanpa Hisab Bukan Satu-Satunya Keutamaan
Keistimewaan masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab tidak berarti hanya golongan tersebut yang memiliki kedudukan tinggi. Sebagian orang beriman tetap menjalani hisab dengan bentuk yang berbeda. Ada yang mendapatkan hisab ringan dan dosa-dosanya diperlihatkan sebelum Allah mengampuninya.
Ada pula orang yang diperiksa secara rinci dalam hisabnya. Nabi Muhammad SAW menjelaskan bahwa orang yang diperiksa secara rinci akan menghadapi kesulitan.
Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menjelaskan adanya riwayat lain mengenai keutamaan 70 ribu orang tersebut.
Imam Ahmad meriwayatkan hadis dari Rifa’ah Al-Juhani. Hadis tersebut dinyatakan sahih oleh Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban.
Dalam riwayat itu disebutkan Rasulullah SAW bersabda:
“Tuhanku telah menjanjikan kepadaku bahwa Dia akan memasukkan tujuh puluh ribu orang dari umatku ke dalam surga tanpa hisab. Dan aku berharap mereka tidak memasukinya hingga kalian, serta istri-istri dan keturunan kalian yang saleh, telah menempati tempat tinggal kalian di surga.”
Penjelasan tersebut menunjukkan bahwa masuk surga tanpa hisab bukan satu-satunya ukuran kemuliaan seorang hamba. Sebagian orang yang menjalani hisab dapat memiliki kedudukan lebih tinggi. Mereka bahkan dapat memperoleh hak memberikan syafaat kepada orang lain.
Inti dari hadis tentang 70 ribu orang tersebut adalah pentingnya kesempurnaan tawakal dan ketergantungan hati kepada Allah.
Keutamaan tersebut menjadi pelajaran bagi umat Islam untuk memperkuat tauhid, menjauhi keyakinan yang bertentangan dengan tawakal, dan menyerahkan urusan kepada Allah. (*)







