SerambiMuslim.com – Penganugerahan Inspiring Moslem Women (IMW) 2026 menjadi momentum peneguhan peran strategis perempuan Muslim sebagai penggerak perubahan sosial dan peradaban.
Kegiatan yang diselenggarakan Pengurus Pusat (PP) Fatayat NU ini digelar di Ballroom Grand el-Hajj, Kota Tangerang, Sabtu, 7 Februari 2026.
Ketua PP Fatayat NU, Margaret Aliyatul Maimunah, menegaskan perempuan Muslim harus tampil sebagai aktor utama dalam merespons berbagai tantangan global, mulai dari ketimpangan ekonomi hingga maraknya kekerasan berbasis digital.
“Kita tidak bisa hanya menjadi penonton perubahan. Perempuan Muslim harus hadir sebagai pelaku, penggerak, dan penentu arah perubahan di lingkungannya,” ujar Margaret dalam sambutannya.
Margaret menyampaikan, terdapat tiga kekuatan utama yang perlu dimiliki perempuan, yakni kekuatan intelektual, spiritual-moral, serta solidaritas dan kepemimpinan sosial. Ketiga aspek tersebut menjadi fondasi penting dalam membangun keluarga, masyarakat, hingga bangsa.
“Ketika perempuan berdaya, keluarga akan kuat. Ketika keluarga kuat, masyarakat menjadi kokoh. Dan ketika masyarakat kokoh, bangsa akan maju,” tegasnya.
Ajang IMW 2026 merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Lahir Nahdlatul Ulama (NU) dan Fatayat NU tahun ini. Acara berlangsung semarak dengan penampilan Paduan Suara Fatayat NU, Tari Kreasi Nusantara dari IDAQU, serta lantunan shalawat oleh Hanifa.
Dewan Pembina PP Fatayat NU, Anggia Ermarini, menilai IMW tidak hanya menjadi ajang penghargaan, tetapi juga ruang inspirasi bagi perempuan Muslim untuk terus berkontribusi di berbagai sektor kehidupan.
“IMW adalah bukti keberpihakan Fatayat NU terhadap kemajuan perempuan Muslim, sekaligus pengakuan atas peran nyata mereka di ruang sosial, budaya, dan kebangsaan,” ujarnya.
Sementara itu, penerima penghargaan bidang Kepedulian Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat, Alissa Qotrunnada Wahid, menyebut penghargaan tersebut sebagai momentum refleksi atas perjalanan perjuangan perempuan.
“Penghargaan ini bukan semata tentang diapresiasi, tetapi menjadi pengingat atas tujuan perjuangan yang lebih besar,” kata Alissa.
Alissa juga berbagi pengalamannya saat menghadiri forum pemuka agama di Yordania, di mana kiprah perempuan Indonesia mendapat perhatian dari komunitas internasional.
“Fatayat NU memiliki potensi besar untuk menjadi pemandu perempuan Muslim, bahkan pemandu peradaban dunia,” tambahnya.
Pada IMW 2026, penghargaan diberikan kepada delapan tokoh perempuan inspiratif dari berbagai bidang, yaitu Sulis (Seni dan Budaya), Ning Umi Laila (Dakwah), Sally Giovani (Wirausaha), Anggia Ermarini (Kepemimpinan), Amany Lubis (Pendidikan), Rivana Mezaya (Teknologi), Alissa Qotrunnada Wahid (Kepedulian Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat), serta Margaret Aliyatul Maimunah (Pemerhati Anak). ***






