Menag dan ISMI Bahas Arah Baru Ekonomi Umat

ISMI bertemu Menteri Agama di Masjid Istiqlal bahas strategi penguatan ekonomi umat, termasuk pengelolaan zakat dan pemberdayaan UMKM. (Foto: Kabar Bursa)

SerambiMuslim.com – Pertemuan antara Ikatan Saudagar Muslim Indonesia (ISMI) dan Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar, menandai upaya konsolidasi baru dalam penguatan ekonomi umat.

Audiensi yang berlangsung, Senin, 6 April 2026, di Kompleks Masjid Istiqlal, Jakarta, tak sekadar seremoni, melainkan forum strategis yang membahas arah pengelolaan potensi ekonomi berbasis komunitas Muslim.

Rombongan Pengurus Pusat ISMI dipimpin Ketua Umum Ilham Habibie dan diterima langsung oleh Menteri Agama Nasaruddin Umar, yang juga menjabat sebagai Imam Besar Masjid Istiqlal.

Hadir pula Bendahara Umum ISMI Andi Yusran Paris serta Sekretaris Jenderal Juliana Wahid.

Dalam pertemuan tersebut, ISMI menegaskan komitmennya memperkuat basis ekonomi umat melalui pemberdayaan usaha kecil dan menengah (UKM). Ilham menilai, potensi ekonomi umat selama ini belum sepenuhnya terkelola secara optimal.

“Kontribusi umat dalam aktivitas ekonomi cukup signifikan. Namun dari sisi kekuatan dan dampaknya, masih banyak ruang yang perlu diperkuat,” ujar Ilham.

Menurut Ilham, sektor usaha kecil yang mendominasi struktur ekonomi nasional masih menghadapi persoalan klasik, mulai dari keterbatasan akses pembiayaan, skala usaha, hingga visibilitas pasar. Tanpa intervensi yang terarah, potensi tersebut berisiko tetap tersebar tanpa memberikan dampak signifikan.

Ia menjelaskan, sejak berdiri lebih dari satu dekade lalu, ISMI berfokus pada pemberdayaan pelaku usaha kecil berbasis komunitas. Jaringan organisasi ini kini telah berkembang ke berbagai daerah, bahkan menjangkau luar negeri seperti Jepang dan Amerika Serikat.

“Keberlanjutan organisasi menjadi kunci untuk menjaga konsistensi program dan dampaknya terhadap ekonomi umat,” kata Ilham.

Dalam paparannya, ISMI juga mengusung penguatan sektor strategis seperti pertanian, kelautan, perdagangan, hingga industrialisasi berbasis hasil bumi.

Pendekatan hilirisasi dinilai penting untuk meningkatkan nilai tambah produk lokal, sekaligus memperkuat daya saing.

Selain itu, integrasi inovasi teknologi dengan kewirausahaan disebut sebagai indikator keberhasilan program di lapangan. Ilham menekankan, penguatan nilai keagamaan harus berjalan beriringan dengan penguasaan teknologi.

Sementara itu, Menteri Agama Nasaruddin Umar menyoroti besarnya potensi dana sosial keagamaan seperti zakat, infak, sedekah, fidyah, dan kurban. Menurutnya, potensi tersebut dapat mencapai ratusan triliun rupiah setiap tahun jika dikelola secara sistematis.

“Tanpa manajemen yang baik, potensi besar ini hanya akan menjadi angka, bukan kekuatan ekonomi riil,” ujar Nasaruddin.

Ia juga menekankan pentingnya reformasi tata kelola lembaga pengelola dana umat agar lebih transparan dan akuntabel.

Nasaruddin menyinggung praktik di sejumlah negara yang telah mengintegrasikan pengelolaan zakat dengan kebijakan fiskal, sehingga mampu meningkatkan kepatuhan masyarakat.

Dalam konteks global, dinamika geopolitik dan tekanan ekonomi dinilai menjadi tantangan yang harus diantisipasi. ISMI memandang penguatan ekonomi berbasis umat dapat menjadi salah satu pilar ketahanan nasional di tengah ketidakpastian.

“Ekonomi umat harus menjadi kekuatan strategis yang mampu menopang ketahanan nasional,” kata Ilham.

Audiensi tersebut juga membuka peluang kerja sama antara ISMI dan pengelola Masjid Istiqlal, khususnya dalam program pemberdayaan ekonomi berbasis komunitas. Menteri Agama menyambut baik inisiatif tersebut dan mendorong sinergi yang lebih luas antara pemerintah dan pelaku usaha umat.

Pertemuan ini menegaskan bahwa optimalisasi potensi ekonomi umat membutuhkan kolaborasi lintas sektor. Di tengah tantangan global, langkah konkret dan terukur menjadi kebutuhan mendesak, bukan sekadar wacana. ***