SerambiMuslim.com – Menjelang Iduladha 1447 Hijriah, umat Muslim dianjurkan untuk memperbanyak ibadah sunah, salah satunya dengan menjalankan puasa Tarwiyah dan puasa Arafah.
Kedua amalan ini menjadi bagian dari rangkaian ibadah yang dilakukan pada awal bulan Zulhijah dan memiliki keutamaan tersendiri dalam ajaran Islam.
Puasa Tarwiyah dilaksanakan setiap 8 Zulhijah, sementara puasa Arafah dikerjakan pada 9 Zulhijah, tepat sehari sebelum Hari Raya Iduladha.
Pada saat yang sama, umat Islam yang menunaikan ibadah haji sedang menjalankan puncak rangkaian ibadah, yaitu wukuf di Padang Arafah.
Meski sama-sama termasuk puasa sunah di bulan Zulhijah, keduanya memiliki perbedaan pada waktu pelaksanaan serta niat yang dibaca.
Puasa Arafah memiliki keistimewaan karena bertepatan dengan hari wukuf, yang menjadi inti dari ibadah haji.
Secara umum, tata cara pelaksanaan kedua puasa tersebut tidak berbeda dengan puasa sunah lainnya, yakni dimulai sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Perbedaan utama hanya terletak pada lafal niat sesuai hari pelaksanaannya.
Untuk puasa Tarwiyah (8 Zulhijah), niat yang dibaca adalah:
نَوَيْتُ صَوْمَ تَرْوِيَةَ سُنَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى
Latin: Nawaitu shauma tarwiyatin sunnatan lillaahi ta’aalaa.
Artinya: Saya berniat puasa Tarwiyah sunah karena Allah Ta’ala
Sementara itu, niat puasa Arafah (9 Zulhijah) adalah:
نَوَيْتُ صَوْمَ عَرَفَةَ سُنَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى
Latin: Nawaitu shauma ‘arafata sunnatan lillaahi ta’aalaa
Artinya: Saya berniat puasa Arafah sunah karena Allah Ta’ala.
Sebelum melaksanakan puasa, umat Muslim dianjurkan untuk sahur karena di dalamnya terdapat keberkahan. Hal ini sesuai dengan hadis riwayat Bukhari dan Muslim yang menyebutkan bahwa sahur memiliki nilai keberkahan bagi orang yang berpuasa.
Selama menjalankan ibadah puasa, umat Islam juga dianjurkan menjaga perilaku, lisan, dan sikap agar tidak terjerumus dalam perbuatan yang dapat mengurangi nilai pahala, seperti ghibah, emosi berlebihan, maupun perkataan yang tidak baik.
Saat berbuka, dianjurkan untuk menyegerakan berbuka dengan kurma atau air putih. Salah satu doa berbuka yang umum dibaca adalah:
“Allahumma laka shumtu wa bika aamantu wa ‘alaa rizqika afthartu birahmatika yaa arhamar raahimiin.”
Selain itu, terdapat pula doa berbuka dari riwayat Abu Dawud: “Telah hilang rasa haus, urat-urat telah basah, dan pahala telah tetap insya Allah.”
Hari Arafah sendiri dikenal sebagai salah satu waktu yang paling mustajab untuk berdoa. Rasulullah SAW menyebutkan bahwa doa terbaik adalah doa yang dipanjatkan pada hari Arafah.
Informasi mengenai puasa Tarwiyah dan Arafah ini merujuk pada sejumlah literatur keislaman, di antaranya ‘Buku Pintar Puasa Wajib & Sunah’ karya Nur Solikhin (2018) serta ‘Fiqih Puasa’ karya Thoat Stiawan dkk. (2025), yang menjelaskan perbedaan waktu pelaksanaan serta tata cara niat kedua puasa tersebut. (*)







