Fikih  

Enam Amalan Malam 1 Muharram yang Dianjurkan Islam

Malam 1 Muharram menjadi momen istimewa bagi umat Islam. Simak amalan yang dianjurkan, mulai dari dzikir, istighfar, muhasabah, membaca Al-Qur'an hingga doa awal tahun Hijriah. (Foto: iStockphoto/Ilustrasi)

SerambiMuslim.com – Malam 1 Muharram menjadi momen istimewa bagi umat Islam. Pergantian tahun dalam kalender Hijriah tidak hanya menandai perubahan angka, tetapi juga menjadi waktu yang tepat untuk bermuhasabah, memperbaiki amal, dan memulai lembaran baru dengan meningkatkan ketaatan kepada Allah SWT.

Muharram termasuk satu dari empat bulan haram atau bulan yang dimuliakan dalam Islam. Pada bulan ini, umat Islam dianjurkan memperbanyak amal saleh serta menjauhi segala bentuk kemaksiatan.

Keutamaan Bulan Muharram

Mengacu pada buku “Siapa Berpuasa Dimudahkan Urusannya” karya Khalifa Zain Nasrullah, Muharram merupakan bulan pertama dalam kalender Hijriah sekaligus salah satu bulan yang dimuliakan Allah SWT.

Sebelum masa Rasulullah SAW, masyarakat Arab Jahiliyah mengenal Muharram dengan sebutan Shafar Awwal. Secara bahasa, Muharram berarti bulan yang diharamkan.

Pada masa itu, masyarakat Arab sangat menghormati Muharram dengan menghentikan peperangan selama bulan suci tersebut. Muharram terdiri atas 30 hari dalam kalender Hijriah.

Keutamaan Muharram juga dijelaskan dalam hadis Rasulullah SAW:

“Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadan adalah puasa pada bulan Allah, yaitu bulan Muharram.” (HR Muslim).

Amalan yang Dianjurkan pada Malam 1 Muharram

1. Memperbanyak Dzikir dan Istighfar

Dalam buku “Khotbah Jumat Sepanjang Tahun” karya M. Rouful Wahab dan S.M. Hamzah, memperbanyak dzikir serta istighfar menjadi salah satu amalan yang dianjurkan pada malam 1 Muharram.

Dzikir dapat menenangkan hati sekaligus mendekatkan diri kepada Allah SWT. Sementara itu, istighfar menjadi sarana memohon ampun atas dosa dan kesalahan yang telah dilakukan.

Berikut bacaan istighfar yang dapat diamalkan:

أَسْتَغْفِرُ الله

Arab Latin: Astaghfirullah

Artinya: “Aku memohon ampun kepada Allah.”

Adapun bacaan Sayyidul Istighfar adalah sebagai berikut:

أَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَاسْتَطَعْتُ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوْهُ لَكَ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي إِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلَّا أَنْتَ

Arab Latin: allahumma anta rabbi, la ilaha illa anta, khalaqtani wa ana ‘abduka, wa ana ‘ala ‘ahdika wa wa’dika mastata’tu, wa a’udzu bika min syarri ma shana’tu, abuu’u laka bini’matika ‘alayya wa abuu’u laka bidzanbi, faghfirlī innahu la yagfirud dzunuba illa anta.

Artinya: “Ya Allah, Engkau adalah Tuhanku. Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau. Engkau yang menciptakanku dan aku adalah hamba-Mu. Aku berpegang pada janji-Mu semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan yang telah aku lakukan. Aku mengakui nikmat-Mu kepadaku dan mengakui dosaku. Maka ampunilah aku, karena tidak ada yang dapat mengampuni dosa selain Engkau.” (HR Bukhari).

2. Melakukan Muhasabah Diri

Tahun Baru Islam menjadi momentum yang tepat untuk mengevaluasi perjalanan hidup selama satu tahun terakhir.

Muhasabah dapat dilakukan dengan menilai kualitas ibadah, memperbaiki hubungan dengan Allah SWT, menjaga hubungan baik dengan sesama, serta menyesali kesalahan yang pernah dilakukan.

3. Memperbanyak Membaca Alquran

Malam 1 Muharram juga dapat diisi dengan membaca Al-Qur’an. Selain membaca, umat Islam dianjurkan mentadabburi dan mengamalkan kandungannya dalam kehidupan sehari-hari.

Rasulullah SAW bersabda:

“Bacalah Al-Qur’an, karena sesungguhnya ia akan datang pada hari Kiamat sebagai pemberi syafaat bagi para pembacanya.” (HR Muslim).

4. Melaksanakan Sholat Sunnah

Tidak terdapat riwayat sahih yang menetapkan adanya sholat khusus pada malam 1 Muharram.

Karena itu, umat Islam dianjurkan berhati-hati terhadap amalan yang tidak memiliki dasar kuat. Sebagai gantinya, dapat memperbanyak sholat sunnah yang telah disyariatkan, seperti tahajud, witir, taubat, hajat, dan rawatib.

5. Memperbanyak Doa Menyambut Tahun Baru Hijriah

Malam pergantian tahun Hijriah juga dapat dimanfaatkan untuk memperbanyak doa. Salah satu amalan yang kerap dibaca adalah doa akhir tahun dan doa awal tahun.

Mengutip laman Majelis Ulama Indonesia (MUI), berikut doa akhir tahun yang dibaca setelah Ashar menjelang pergantian tahun:

اَللّٰهُمَّ مَا عَمِلْتُ مِنْ عَمَلٍ فِي هٰذِهِ السَّنَةِ مَا نَهَيْتَنِي عَنْهُ وَلَمْ أَتُبْ مِنْهُ وَحَلُمْتَ فِيْها عَلَيَّ بِفَضْلِكَ بَعْدَ قُدْرَتِكَ عَلَى عُقُوْبَتِيْ وَدَعَوْتَنِيْ إِلَى التَّوْبَةِ مِنْ بَعْدِ جَرَاءَتِيْ عَلَى مَعْصِيَتِكَ فَإِنِّي اسْتَغْفَرْتُكَ فَاغْفِرْلِيْ وَمَا عَمِلْتُ فِيْهَا مِمَّا تَرْضَى وَوَعَدْتَّنِي عَلَيْهِ الثَّوَابَ فَأَسْئَلُكَ أَنْ تَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَلَا تَقْطَعْ رَجَائِيْ مِنْكَ يَا كَرِيْمُ

Latin: Allâhumma mâ ‘amiltu min ‘amalin fî hâdzihis sanati mâ nahaitanî ‘anhu, wa lam atub minhu, wa hamalta fîhâ ‘alayya bi fadhlika ba’da qudratika ‘alâ ‘uqûbatî, wa da’autanî ilat taubati min ba’di jarâ’atî ‘alâ ma’shiyatik. Fa innî astaghfiruka, faghfirlî wa mâ ‘amiltu fîhâ mimmâ tardhâ, wa wa’attanî ‘alaihis tsawâba, far as aluka an tataqabbala minnî wa lâ taqtha’ rajâ’î minka yâ karîm.

Artinya: “Ya Allah, ampunilah segala perbuatan yang Engkau larang dan belum sempat aku sesali. Terimalah amal yang Engkau ridhai dan jangan jadikan aku berputus asa dari rahmat-Mu.”

Sementara doa awal tahun yang dibaca setelah Magrib adalah:

اَللّٰهُمَّ أَنْتَ الأَبَدِيُّ القَدِيمُ الأَوَّلُ وَعَلَى فَضْلِكَ العَظِيْمِ وَكَرِيْمِ جُوْدِكَ المُعَوَّلُ، وَهٰذَا عَامٌ جَدِيْدٌ قَدْ أَقْبَلَ، أَسْأَلُكَ العِصْمَةَ فِيْهِ مِنَ الشَّيْطَانِ وَأَوْلِيَائِهِ، وَالعَوْنَ عَلَى هٰذِهِ النَّفْسِ الأَمَّارَةِ بِالسُّوْءِ، وَالاِشْتِغَالَ بِمَا يُقَرِّبُنِيْ إِلَيْكَ زُلْفَى يَا ذَا الجَلَالِ وَالإِكْرَامِ

Latin: Allâhumma antal abadiyyul qadîmul awwal. Wa ‘alâ fadhlikal ‘azhîmi wa karîmi jûdikal mu’awwal. Hâdzâ ‘âmun jadîdun qad aqbal. As’alukal ‘ishmata fîhi minas syaithâni wa auliyâ’ih, wal ‘auna ‘alâ hâdzihin nafsil ammârati bis sû’i, wal isytighâla bimâ yuqarribunî ilaika zulfâ, yâ dzal jalâli wal ikrâm.

Artinya: “Ya Allah, Engkau Yang Maha Awal dan Maha Abadi. Aku memohon perlindungan dari godaan setan serta pertolongan-Mu agar mampu mengendalikan hawa nafsu dan senantiasa mendekat kepada-Mu.”

6. Menyambung Silaturahmi

Menyambung silaturahmi juga menjadi amalan yang dianjurkan pada awal Muharram.

Momentum Tahun Baru Islam dapat dimanfaatkan untuk memperbaiki hubungan dengan keluarga, sahabat, maupun tetangga yang sempat renggang.

Rasulullah SAW bersabda:

“Tidak akan masuk surga orang yang memutus tali silaturahmi.” (HR Bukhari dan Muslim).

Karena itu, menjaga hubungan baik dengan sesama menjadi bagian penting dalam upaya memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas ibadah. (*)