Berita  

100 Kepala KUA Ikuti Bimtek Fasilitator Ketahanan

Ilsutrasi

SerambiMuslim.com — Sebanyak 100 Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) dari berbagai daerah mengikuti Bimbingan Teknis Fasilitator Jaringan Lokal yang digelar di Jakarta pada 16 hingga 19 Juni 2025. Kegiatan ini bertujuan memperkuat peran KUA dalam membangun ketahanan keluarga di tingkat akar rumput.

Bimtek ini menjadi langkah strategis yang diambil oleh Kementerian Agama dalam merespons berbagai persoalan sosial, seperti tingginya angka perceraian dan pernikahan usia anak. Para kepala KUA didorong menjadi penggerak kerja sama lintas sektor demi menciptakan keluarga yang berkualitas dan tangguh.

Instruktur Nasional Bina Keluarga Sakinah, Sugeng Widodo, mengatakan bahwa dalam pelatihan ini para peserta memetakan beragam tantangan ketahanan keluarga di wilayah masing-masing. Isu-isu yang menjadi perhatian meliputi perceraian, pernikahan anak, hingga rendahnya literasi keuangan keluarga.

“Pelatihan ini berpeluang melahirkan peta jalan ketahanan keluarga berbasis data empiris dan jejaring yang kuat. Peta jalan ini akan menjadi acuan kebijakan dan program pendampingan yang lebih tepat sasaran di masa mendatang,” ujarnya pada Selasa, 17 Juni 2025.

Selain mengidentifikasi tantangan, peserta juga melakukan analisis terhadap para pemangku kepentingan yang berpotensi menjadi mitra strategis. Mereka antara lain berasal dari pemerintah daerah, tokoh agama, lembaga pendidikan, hingga organisasi masyarakat.

Kepala Subdirektorat Bina Keluarga Sakinah, Zudi Rahmanto, menekankan pentingnya peran Kepala KUA sebagai fasilitator jaringan lokal. Menurutnya, fungsi KUA tidak hanya sebatas pelayanan administrasi pernikahan, namun juga sebagai motor penggerak ketahanan keluarga.

“Dengan membangun jaringan lokal, KUA dapat bergerak lebih masif menjangkau keluarga yang rentan. Local networking ini juga menjadi bagian dari penguatan layanan keluarga pasca-akad nikah. Kolaborasi multipihak adalah kunci keberhasilan program ketahanan keluarga,” jelas Zudi.

Dalam kegiatan ini, para peserta turut mendapatkan pelatihan praktik analisis pemangku kepentingan dengan pendekatan partisipatif. Tujuannya untuk menggali dukungan dari berbagai unsur masyarakat sehingga program-program ketahanan keluarga dapat berjalan secara optimal.

“Selain itu, bimtek ini juga membuka ruang pertukaran pengalaman antardaerah. Beberapa Kepala KUA berbagi strategi inovatif, mulai dari pendampingan keluarga pranikah, edukasi kesehatan reproduksi, hingga penguatan ekonomi keluarga berbasis komunitas,” pungkasnya.