SerambiMuslim.com — Setelah menyelesaikan puncak ibadah wukuf di Arafah, jemaah haji Indonesia mulai bergeser menuju Muzdalifah pada Kamis (5/6) malam waktu Arab Saudi (WAS). Pendorongan jemaah dari Arafah dimulai sekitar pukul 19.00 WAS dan jemaah mulai memasuki kawasan Muzdalifah sejak pukul 19.30 WAS.
Bagi jemaah haji Indonesia, kawasan Muzdalifah dibagi dalam sejumlah markas berdasarkan syarikah (penyedia layanan). Setibanya di sana, jemaah diarahkan petugas untuk menempati markas masing-masing dan langsung melaksanakan salat Magrib dan Isya secara jamak dan qasar.
Di Muzdalifah, jemaah melaksanakan mabit (bermalam) hingga melewati tengah malam. Setelah itu, jemaah akan diberangkatkan ke Mina untuk melanjutkan ibadah melempar jumrah dan mabit di Mina.
Para jemaah juga dianjurkan memperbanyak zikir dan doa selama di Muzdalifah, yang juga dikenal sebagai Masy’aril Haram. Selama proses ini, jemaah tetap dalam keadaan ihram dan diminta mematuhi semua larangan ihram. Jemaah akan keluar dari larangan tersebut setelah melempar jumrah aqabah dan melaksanakan tahallul awal, kecuali larangan berhubungan suami istri yang masih berlaku hingga tahallul tsani.
Salah satu kegiatan penting di Muzdalifah adalah mengumpulkan kerikil yang akan digunakan untuk melempar jumrah di Mina. Bila belum sempat mengumpulkan, jemaah dapat memperoleh kerikil dari syarikah.
Adinda, jemaah dari kloter 11 Embarkasi Jakarta Pondok Gede (JKG 11), menyampaikan rasa syukurnya bisa mendampingi ibundanya menunaikan ibadah haji. “Alhamdulillah bisa menemani ibu dengan senang selama Armuzna,” ujar Dinda yang baru berusia 24 tahun dan tiba di Muzdalifah sekitar pukul 20.30 WAS.
Murur untuk Lansia dan Disabilitas
Sementara itu, sekitar 60.000 jemaah Indonesia mengikuti skema murur, yaitu melewati Muzdalifah tanpa turun dari bus. Skema ini diperuntukkan bagi jemaah lanjut usia, disabilitas, serta mereka yang masuk kategori risiko tinggi. Dalam proses ini, jemaah hanya berhenti sejenak di Muzdalifah dan langsung melanjutkan perjalanan ke Mina.
Jalur bus untuk jemaah murur dibedakan dari jalur bus jemaah yang mabit di Muzdalifah, demi kelancaran dan kenyamanan selama proses pergerakan Armuzna (Arafah, Muzdalifah, Mina).







