Berita  

Cara Rasulullah Memuliakan Orang Tanpa Pandang Bulu

Kesaksian Amru bin al-Ash mengungkap akhlak mulia Nabi Muhammad SAW yang penuh kasih, lembut, dan memuliakan sesama. (Foto: iStockphoto/Ilustrasi)

SerambiMuslim.com – Keagungan akhlak Nabi Muhammad SAW tercermin dalam ibadah, keteguhan menegakkan kebenaran, serta sikap penuh kasih kepada sesama.

Rasulullah SAW memperlakukan setiap orang dengan penghormatan dan kelembutan tanpa membedakan latar belakang maupun perangai.

Wajah ramah dan tutur kata lembut Rasulullah SAW membuat setiap orang merasa dihargai saat berinteraksi.

Kesaksian para sahabat menjadi bukti nyata keagungan akhlak Nabi Muhammad SAW. Salah satunya datang dari sahabat Nabi, Amru bin al-Ash.

Ia menceritakan Rasulullah SAW menyambut orang terburuk suatu kaum dengan wajah cerah dan pembicaraan hangat.

Sikap tersebut dilakukan Rasulullah SAW untuk melunakkan hati dan menyenangkan lawan bicaranya.

Amru bin al-Ash menuturkan, Rasulullah SAW selalu menghadapkan wajahnya ketika berbicara dengannya. Perlakuan itu membuat Amru merasa dirinya orang terbaik di tengah kaumnya.

Karena itu, Amru bertanya kepada Rasulullah SAW tentang siapa yang lebih utama. Ia bertanya apakah dirinya atau Abu Bakar yang lebih baik. Rasulullah SAW menjawab, Abu Bakar lebih utama.

Amru kembali bertanya, apakah dirinya atau Umar yang lebih baik. Rasulullah SAW menjawab, Umar lebih utama.

Amru bertanya lagi, apakah dirinya atau Utsman yang lebih baik. Rasulullah SAW menjawab, Utsman lebih utama. Amru kemudian menyesal telah bertanya berulang kali kepada Rasulullah SAW.

Riwayat tersebut disampaikan oleh Ath-Thabrani dengan sanad hasan. Kisah itu juga tercantum dalam kitab Syama’ilul Muhammadiyyah karya Imam At-Tirmidzi.

Kesaksian tersebut menunjukkan betapa mulianya perlakuan Rasulullah SAW kepada para sahabatnya. Akhlak Rasulullah SAW mampu membuat seseorang merasa dihargai dan dicintai.

Aisyah radhiyallahu anha juga meriwayatkan keutamaan akhlak Rasulullah SAW. Ia menyebut Rasulullah SAW bukan pribadi yang keji dan tidak menyukai kekerasan.

Rasulullah SAW tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Sebaliknya, beliau memilih memaafkan dan bersikap lembut kepada sesama.

Hadis tersebut diriwayatkan oleh Imam Ahmad. ***