SerambiMuslim.com – Sikap tergesa-gesa menanti terkabulnya doa justru dapat membuat seorang Muslim berhenti berdoa.
Ibnu Qayyim al-Jauziyyah menjelaskan hal tersebut dalam kitab Ad-Da’ wa ad-Dawa. Ia mengingatkan pentingnya kesabaran saat menanti jawaban atas doa.
Ketika doa belum terwujud sesuai harapan, seseorang dapat merasa cemas dan kecewa. Perasaan tersebut bahkan bisa membuat seseorang menganggap doanya terlalu lama untuk dikabulkan.
Pada akhirnya, kondisi itu dapat mendorong seseorang meninggalkan doa yang selama ini dipanjatkannya.
Dalam Ad-Da’ wa ad-Dawa, kondisi tersebut digambarkan seperti seorang petani yang menanam benih.
Awalnya, petani tersebut merawat tanaman dengan penuh perhatian dan rutin menyiraminya. Namun, pertumbuhan tanaman yang lambat dapat membuat kesabarannya mulai hilang.
Ketika hasil yang diharapkan belum terlihat, tanaman itu akhirnya tidak lagi dirawat. Akibatnya, tanaman tersebut gagal tumbuh dan tidak menghasilkan panen yang diharapkan.
Gambaran itu menjadi pelajaran agar seorang Muslim tidak mudah menyerah dalam berdoa.
Doa membutuhkan kesabaran, ketekunan, serta keyakinan kepada ketetapan Allah SWT.
Seorang Muslim juga tidak seharusnya menyimpulkan doanya tidak dikabulkan hanya karena jawaban belum terlihat.
Allah SWT mengetahui waktu dan bentuk jawaban terbaik bagi setiap hamba-Nya.
Rasulullah SAW juga telah menjelaskan larangan tergesa-gesa dalam menanti terkabulnya doa.
Dalam Sahih Bukhari, Abu Hurairah Radhiyallahu anhu meriwayatkan sabda Rasulullah SAW, “Akan dikabulkan bagi seseorang di antara kalian selama tidak tergesa-gesa, (apalagi) mengatakan, ‘Aku telah berdoa namun belum juga dikabulkan’.”
Hadis tersebut menunjukkan pentingnya mempertahankan kesabaran ketika doa belum memperoleh jawaban. Hal serupa juga dijelaskan Rasulullah SAW dalam hadis yang diriwayatkan Imam Muslim.
Dalam Sahih Muslim, Nabi Muhammad SAW bersabda, “Akan tetap terkabul bagi seorang hamba selama tidak berdoa untuk perbuatan dosa atau untuk memutus silaturahim dan selama tidak tergesa-gesa.”
Seorang sahabat kemudian bertanya kepada Nabi Muhammad SAW mengenai maksud tergesa-gesa tersebut. “Wahai Rasulullah, apa yang dimaksud dengan tergesa-gesa itu?”
Rasulullah SAW menjelaskan bahwa tergesa-gesa terjadi ketika seseorang merasa doanya tidak memperoleh jawaban.
“Orang yang berkata, ‘Aku telah berdoa, namun aku tidak melihat ijabah untukku.’ la cemas karenanya, lalu meninggalkan doanya.”
Penjelasan serupa juga terdapat dalam riwayat Imam Ahmad dari Anas mengenai sikap seorang hamba dalam berdoa.
Imam Ahmad meriwayatkan dari Anas bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Seorang hamba akan selalu baik selama ia tidak tergesa-gesa dalam berdoa.’ Mereka bertanya, ‘Bagaimana seseorang tergesa-gesa?’ Rasulullah menjawab, ‘Orang tersebut berkata, ‘Aku telah berdoa kepada Tuhan, namun Dia belum menjawab (mengabulkan) doaku’.”
Karena itu, belum terkabulnya doa bukan alasan untuk berhenti memohon kepada Allah SWT. Seorang Muslim dianjurkan tetap berdoa dengan sabar dan penuh keyakinan.
Jawaban atas doa dapat hadir dalam waktu dan bentuk yang tidak selalu sesuai dengan harapan manusia. (*)







