Berita  

Nasihat Rasulullah yang Akan Membawa ke Surga

Kesaksian Amru bin al-Ash mengungkap akhlak mulia Nabi Muhammad SAW yang penuh kasih, lembut, dan memuliakan sesama. (Foto: iStockphoto/Ilustrasi)

SerambiMuslim.com – Seorang sahabat pernah meminta Rasulullah SAW satu amalan sederhana yang mengantarkannya ke surga. Jawaban Nabi Muhammad SAW singkat, namun penuh makna tentang pengendalian diri.

Abu Darda pernah bertanya tentang amalan surga yang tidak memberatkan. Rasulullah SAW menjawab dengan satu pesan tegas, yaitu jangan marah.

Wasiat ini diriwayatkan melalui berbagai jalur hadits yang sahih. Imam Al-Bukhari meriwayatkan kisah serupa dari Abu Hurairah.

Seorang laki-laki meminta nasihat kepada Rasulullah SAW. Nabi Muhammad SAW menjawab singkat, “Jangan marah.”

Permintaan itu diulang berkali-kali oleh penanya. Namun Rasulullah SAW tetap mengulang jawaban yang sama.

Wasiat tersebut bukan hanya untuk satu sahabat. Pesan itu berlaku bagi seluruh umat Nabi Muhammad SAW.

Rasulullah SAW memahami penyakit jiwa manusia beserta obatnya. Setiap sahabat menerima nasihat sesuai kebutuhannya.

Ada sahabat dinasihati bertakwa kepada Allah. Ada pula yang diperintahkan berbakti kepada ibu.

Sebagian sahabat diarahkan untuk berjihad di jalan Allah. Semua nasihat itu lahir dari hikmah dan kebijaksanaan Rasulullah SAW.

Pesan Nabi mampu melembutkan hati dan membentuk akhlak mulia. Marah tidak dibenarkan untuk urusan sepele.

Marah hanya dibenarkan jika karena Allah semata. Marah demi menjaga kehormatan agama dan syariat Allah.

Hal ini dikutip dari buku Wasiat Rasul Buat Lelaki karya Muhammad Khalil Itani. Amarah dan dendam dapat merusak nilai Islam dan akhlak mulia.

Allah memerintahkan hamba-Nya untuk menjauhi sikap marah. Allah berfirman dalam Surah Al-A’raf ayat 199.

“Jadilah pemaaf, perintahkan yang makruf, dan berpaling dari orang bodoh.” Kesadaran akan kekuasaan Allah menahan seseorang dari kemarahan.

Diriwayatkan seorang pendosa dibawa kepada Ibnu Zubair. Awalnya Ibnu Zubair berniat menjatuhkan hukuman. Pelaku memohon ampun dengan mengingatkan hari kiamat. Ibnu Zubair kemudian memaafkannya dengan penuh kerendahan hati.

Marah membawa banyak dampak buruk bagi kehidupan sosial. Ia dapat merusak persatuan dan memecah kebersamaan umat.

Marah menumbuhkan permusuhan dan memutus hubungan antar manusia.
Cepat marah adalah ciri kebodohan. Menahan amarah merupakan tanda akal dan kebijaksanaan. ***