SerambiMuslim.com – Bagi seorang Muslim, bekerja bukan sekadar aktivitas duniawi, melainkan bagian dari ibadah.
Setiap usaha mencari nafkah dapat bernilai pahala jika diawali dengan niat yang benar, seperti mengharap ridha Allah SWT, menjalankan sunnah Rasulullah SAW, hingga memenuhi kebutuhan keluarga.
Dengan niat yang baik, aktivitas bekerja, termasuk bagi para buruh, menjadi bagian dari amal saleh yang bernilai di sisi Allah.
Berikut tiga keutamaan bagi umat Islam yang bekerja dan mencari nafkah:
1. Nafkah untuk Keluarga Lebih Utama
Memberikan nafkah kepada keluarga dari hasil kerja keras memiliki keutamaan besar dalam Islam. Bahkan, pahalanya disebut lebih tinggi dibandingkan sedekah kepada orang lain.
Hal ini sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah:
دِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِى رَقَبَةٍ وَدِينَارٌ تَصَدَّقْتَ بِهِ عَلَى مِسْكِينٍ وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ أَعْظَمُهَا أَجْرًا الَّذِى أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ
“Satu dinar yang engkau keluarkan di jalan Allah, satu dinar untuk memerdekakan budak, satu dinar untuk orang miskin, dan satu dinar yang engkau nafkahkan untuk keluargamu, maka yang paling besar pahalanya adalah yang engkau nafkahkan untuk keluargamu” (HR Muslim).
Dalam Islam, menafkahi keluarga menunjukkan besarnya tanggung jawab seorang Muslim dalam menjaga kesejahteraan rumah tangganya.
2. Bekerja Termasuk Jalan Jihad
Dalam Islam, bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga juga termasuk bagian dari jihad di jalan Allah SWT.
Rasulullah SAW menegaskan bahwa jihad tidak hanya dimaknai sebagai perang, tetapi juga segala upaya yang dilakukan untuk kebaikan, termasuk bekerja demi keluarga.
عن أبي هُريرةَ ؛ قالَ : بَيْنَا نحنُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ _ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ _ ، إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا شَابٌّ منَ الثَنِيَّةِ ، فَلَمَّا رَمَيْنَاهُ بِأَبْصَارِنَا ، قُلْنَا : لَوْ أنَّ ذَا الشَّابَّ جَعَلَ نَشَاطَهُ وَشَبَابَهُ وقوَّتَهُ في سَبِيلِ اللَّهِ ، فَسَمِعَ مَقَالَتَنَا رَسُولُ اللَّهِ _ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ _ ؛ فقالَ : ” ومَا سَبِيلُ اللَّهِ إلاَّ منْ قُتِلَ ؟ ، مَنْ سَعَى عَلَى وَالِدَيْهِ ؛ فَفِي سَبِيلِ اللَّهِ ، ومَنْ سَعَى عَلَى عِيَالِهِ ؛ فَفِي سَبِيلِ اللَّهِ ، ومَنْ سَعَى مُكَاثِراً ؛ فَفِي سَبِيلِ الشَّيطَانِ ”
Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah jalan Allah hanya bagi yang gugur di medan perang. Siapa yang bekerja untuk kedua orang tuanya, maka ia di jalan Allah. Siapa yang bekerja untuk keluarganya, maka ia di jalan Allah. Namun siapa yang bekerja untuk memperbanyak harta semata, maka ia di jalan setan.”
“Ini menunjukkan bahwa bekerja dengan niat yang benar dapat mengangkat derajat seseorang layaknya pejuang di jalan Allah,” ujar seorang dai dalam ceramahnya.
Bahkan, dalam sejumlah riwayat disebutkan bahwa seseorang yang wafat saat bekerja untuk menafkahi keluarganya dapat dinilai sebagai syahid.
3. Menjadi Pelindung dari Api Neraka
Keutamaan lain dari mencari nafkah adalah menjadi sebab perlindungan dari api neraka, terutama jika penghasilan tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, termasuk anak atau kerabat.
Sebagaimana dalam hadis riwayat Ahmad:
مَنْ أَنْفَقَ عَلَى ابْنَتَيْنِ أَوْ أُخْتَيْنِ أَوْ ذَوَاتَىْ قَرَابَةٍ يَحْتَسِبُ النَّفَقَةَ عَلَيْهِمَا حَتَّى يُغْنِيَهُمَا اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ عَزَّ وَجَلَّ أَوْ يَكْفِيَهُمَا كَانَتَا لَهُ سِتْراً مِنَ النَّارِ
“Barang siapa menafkahi dua anak perempuan, dua saudara perempuan, atau kerabat perempuan dengan mengharap pahala dari Allah hingga mereka tercukupi, maka hal itu akan menjadi penghalang baginya dari api neraka” (HR Ahmad).
Dengan demikian, bekerja tidak hanya berdampak pada kesejahteraan dunia, tetapi juga keselamatan di akhirat. ***







