Tanda Kiamat Sudah Dekat, Negara Barat Serang Dunia Islam

FOTO: iStockphoto/Ilustrasi

SerambiMuslim.com – Sebuah hadis Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Tsauban memuat peringatan tentang kondisi umat Islam di akhir zaman.

Dalam hadis tersebut, Rasulullah SAW menggambarkan situasi ketika bangsa-bangsa lain bersatu menghadapi kaum Muslimin, meskipun jumlah mereka besar.

Dalam riwayat Imam Abu Dawud, Rasulullah SAW bersabda bahwa umat Islam kelak akan menjadi seperti buih di lautan, banyak secara kuantitas, tetapi kehilangan daya gentar di mata musuh. Penyebabnya adalah penyakit “wahn”.

Ketika para sahabat bertanya tentang maknanya, Rasulullah menjelaskan bahwa wahn adalah cinta dunia dan takut mati.

Riwayat serupa juga tercantum dalam hadis yang diriwayatkan Imam Muslim, yang menegaskan bahwa umat Islam tidak akan dihancurkan sepenuhnya oleh musuh dari luar, kecuali jika kelemahan itu berasal dari internal mereka sendiri.

Tafsir Sejarah atas Hadis

Dalam bukunya Asyratus Sa’ah al-Hasyru wa Qiyamus Sa’ah, Syekh Mahir Ahmad Ash-Shuffi menilai bahwa pesan hadis tersebut menemukan relevansinya dalam berbagai fase sejarah Islam. Ia menyebut, ketika kepemimpinan melemah dan para penguasa larut dalam kemewahan, kekuatan eksternal kerap memanfaatkan situasi tersebut.

Salah satu contoh yang sering dirujuk adalah runtuhnya Kekhalifahan Abbasiyah. Pada abad ke-13, serangan bangsa Tatar dan Mongol berujung pada jatuhnya Baghdad.

Sejarah mencatat, pada 1258 M, kota itu dihancurkan dan khalifah terakhir dieksekusi. Peristiwa ini menjadi simbol berakhirnya satu era kekuasaan Islam klasik.

Namun, sejarah juga menunjukkan dinamika berbeda. Dalam pertempuran Ain Jalut, pasukan Muslim yang dipimpin oleh Sultan Qutuz dan Baybars dari Mesir berhasil menghentikan ekspansi Mongol. Kemenangan tersebut sering dipandang sebagai bukti bahwa faktor kepemimpinan, persatuan, dan kesiapan militer berperan besar dalam menentukan arah sejarah.

Perang Salib dan Runtuhnya Utsmaniyah

Fenomena koalisi lintas bangsa juga tampak dalam rangkaian Perang Salib yang berlangsung selama hampir dua abad. Sejumlah kerajaan Eropa terlibat dalam ekspedisi militer ke wilayah Timur Tengah. Dalam periode itu, tokoh seperti Shalahuddin Al-Ayyubi dikenal karena keberhasilannya merebut kembali Yerusalem pada 1187 M.

Berabad-abad kemudian, dinamika geopolitik kembali berubah saat Khilafah Utsmaniyah melemah dan akhirnya runtuh setelah Perang Dunia I.

Perjanjian Sykes-Picot menjadi tonggak pembagian wilayah bekas Utsmaniyah di Timur Tengah oleh kekuatan Eropa, yang dampaknya masih terasa hingga kini.

Refleksi dan Pesan Moral

Dalam pandangan Syekh Mahir Ahmad Ash-Shuffi, berbagai peristiwa tersebut menunjukkan pola berulang. Ketika terjadi perpecahan internal dan orientasi duniawi menguat, posisi umat menjadi rentan.

Sebaliknya, saat terjadi persatuan dan komitmen terhadap nilai-nilai agama, kebangkitan kembali dimungkinkan.

Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim juga memberi penegasan teologis bahwa umat Islam tidak akan musnah sepenuhnya oleh tekanan eksternal. Keruntuhan, jika terjadi, lebih sering dipicu oleh konflik dan kelemahan internal.

Narasi sejarah ini kerap dijadikan refleksi bahwa kebangkitan tidak hanya ditentukan oleh faktor eksternal, tetapi juga oleh kualitas moral, kepemimpinan, dan persatuan internal umat. ***