SerambiMuslim.com – Lembaga riset Institute for Demographic and Affluence Studies (IDEAS) memperkirakan potensi zakat fitrah nasional pada Ramadan 2026 cukup besar.
Potensinya diproyeksikan berada pada kisaran 480,1 hingga 541,4 ribu ton beras. Jika dikonversi ke nilai ekonomi, jumlah tersebut setara Rp6,4 hingga Rp7,1 triliun.

Perhitungan ini didasarkan pada estimasi jumlah muzakki di Indonesia.
IDEAS memperkirakan jumlah muzakki mencapai 192,0 hingga 216,6 juta jiwa. Angka itu setara sekitar 80 hingga 90 persen dari total penduduk Muslim.
Meski volumenya meningkat dibandingkan tahun sebelumnya, nilai ekonominya diperkirakan menurun.
Pada 2025, potensi zakat fitrah diperkirakan mencapai 476,3 hingga 536,8 ribu ton beras. Nilai ekonominya saat itu diperkirakan berkisar Rp6,8 hingga Rp7,5 triliun.
Peneliti IDEAS, Tira Mutiara, mengatakan peningkatan volume zakat dipicu bertambahnya jumlah muzakki. Namun, penurunan harga beras memengaruhi nilai rupiah zakat fitrah.
“Secara volume zakat fitrah meningkat karena jumlah muzakki bertambah,” ujar Tira dalam keterangan tertulis, Sabtu, 14 Maret 2026.
“Namun jika dihitung dalam rupiah, potensinya turun sekitar 5,5 hingga 6,39 persen dibandingkan tahun lalu,” lanjutnya.
Menurut Tira, penurunan tersebut berkaitan dengan turunnya harga rata-rata beras yang dikonsumsi masyarakat.
Dalam simulasi IDEAS, potensi zakat dihitung dari total beras zakat yang dikalikan harga rata-rata beras rumah tangga.
Perhitungan tersebut juga mempertimbangkan kelompok pengeluaran masyarakat serta wilayah kabupaten atau kota.
IDEAS mencatat setidaknya ada dua faktor yang memengaruhi penurunan nilai zakat fitrah. Pertama, harga beras yang sebelumnya sempat melonjak kini mulai menunjukkan tren penurunan.
Sebelumnya harga beras berada di kisaran Rp16 ribu per kilogram. Saat ini harga rata-rata beras diperkirakan sekitar Rp15 ribu per kilogram.
Faktor kedua adalah perubahan pola konsumsi masyarakat. Sebagian rumah tangga mulai beralih dari beras premium ke beras dengan harga lebih terjangkau.
Perubahan tersebut mencerminkan penyesuaian konsumsi di tengah tekanan daya beli masyarakat.
Menurut Tira, penurunan nilai zakat paling besar terjadi pada kelompok muzakki kelas menengah atas. Nilainya turun dari sekitar Rp3,8 triliun pada 2025 menjadi Rp3,5 triliun pada 2026.
“Penurunan ini menunjukkan tekanan ekonomi mulai dirasakan oleh kelompok kelas menengah,” kata Tira.
Ia menilai kondisi tersebut membuat ruang fiskal rumah tangga semakin terbatas. Keterbatasan itu termasuk dalam memenuhi kewajiban sosial keagamaan seperti zakat fitrah.
Tekanan terhadap kelas menengah juga terlihat dari perubahan komposisi kelompok ekonomi nasional.
Pada 2025, jumlah kelas menengah tercatat sekitar 46,6 juta orang. Angka itu setara sekitar 16,6 persen dari total penduduk Indonesia. Jumlah tersebut turun sekitar 1,1 juta orang dibandingkan tahun sebelumnya.
Data lain juga menunjukkan penurunan tabungan kelompok menengah. Mandiri Saving Index per 24 Januari 2026 tercatat sebesar 100,7. Angka tersebut menurun dari 101,2 pada Desember 2025.
“Ketika kelas menengah mengalami tekanan, dampaknya tidak hanya pada konsumsi rumah tangga,” ujar Tira.
“Hal itu juga memengaruhi aktivitas filantropi seperti zakat, infak, sedekah, dan donasi sosial,” tambahnya.
Meski nilainya menurun, zakat fitrah tetap berperan penting bagi masyarakat miskin dan rentan.
Zakat fitrah sebesar 2,5 kilogram bahan makanan pokok dapat membantu menjaga akses pangan.
Dalam simulasi IDEAS, mustahik zakat fitrah diperkirakan berasal dari kelompok ekonomi terbawah. Kelompok tersebut diperkirakan berjumlah sekitar 24,1 juta penduduk Muslim.
Jika mereka menerima zakat sebesar 480,1 hingga 541,4 ribu ton beras, konsumsi beras mereka meningkat.
Konsumsi beras harian berpotensi naik dari 0,210 kilogram menjadi sekitar 0,873 hingga 0,958 kilogram.
Jika zakat fitrah dibayarkan dalam bentuk uang, nilainya diperkirakan mencapai Rp6,4 hingga Rp7,1 triliun. Setiap mustahik diperkirakan menerima sekitar Rp265 ribu hingga Rp296 ribu per kapita.
Tambahan tersebut berpotensi meningkatkan pengeluaran makanan kelompok termiskin selama Ramadan.
Pengeluaran makanan yang sebelumnya sekitar Rp322 ribu dapat meningkat menjadi Rp588 ribu hingga Rp618 ribu.
“Zakat fitrah tidak hanya membantu menjaga konsumsi pangan kelompok rentan,” ujar Tira.
“Distribusinya juga mendorong perputaran ekonomi di tingkat masyarakat,” pungkasnya. ***






