SerambiMuslim.com – Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) yang semakin pesat dinilai tidak akan mampu menggantikan peran manusia dalam pembentukan karakter, adab, dan tradisi keilmuan Islam.
Direktur Penerangan Agama Islam Kementerian Agama RI, Muchlis M Hanafi, menegaskan AI hanya berfungsi sebagai alat bantu yang tidak memiliki sanad keilmuan, guru, maupun tanggung jawab moral.
“AI dapat membantu menemukan ayat, hadis, kitab tafsir, atau pendapat ulama dalam hitungan detik,” ujar Muchlis saat menyampaikan Orasi Ilmiah pada Wisuda Santri Akhirussanah XIX Pondok Pesantren Al-Qur’aniyyah di Gedung SC STAN Bintaro, Tangerang Selatan, Ahad, 21 Juni 2026.
Meski demikian, ia menilai kemampuan AI tetap memiliki keterbatasan yang tidak dapat menggantikan proses pembelajaran dalam tradisi Islam.
“AI tidak memiliki sanad, tidak memiliki guru, tidak memiliki pengalaman spiritual, dan tidak memikul tanggung jawab moral atas jawaban yang diberikannya,” kata Muchlis.
Dalam orasi bertajuk “Dari Tradisi Keilmuan Menuju Peradaban: Menjadi Generasi Qurani di Era Kecerdasan Buatan,” Muchlis menjelaskan bahwa ilmu dalam Islam tidak hanya berkaitan dengan kebenaran informasi.
Menurutnya, ilmu juga menyangkut proses memperoleh pengetahuan, sosok yang mengajarkannya, serta nilai dan adab yang menyertai proses tersebut.
“Dalam tradisi Islam, ilmu bukan sekadar soal informasi yang benar, tetapi juga tentang siapa yang mengajarkannya, bagaimana cara memperolehnya, serta nilai-nilai dan adab yang menyertainya,” ujarnya.
Karena itu, kehadiran AI dapat dimanfaatkan untuk memperluas akses pengetahuan dan mendukung proses belajar. Namun, teknologi tersebut tidak akan pernah menggantikan peran guru, ulama, maupun tradisi talaqqi yang menjadi fondasi transmisi ilmu Islam sejak masa Rasulullah SAW.
Muchlis juga mengingatkan agar kemajuan teknologi tidak membuat generasi muda kehilangan semangat belajar dan dedikasi dalam menuntut ilmu.
Ia menilai generasi terdahulu mampu melahirkan karya-karya besar meski hidup dengan fasilitas yang terbatas.
“Kita hari ini memiliki sarana yang melimpah, tetapi sering kali kekurangan kesungguhan. Yang melahirkan karya besar bukan teknologi, melainkan ketulusan dalam berdedikasi dan kesungguhan dalam memanfaatkan teknologi,” ujarnya.
Sebagai contoh, Muchlis mengangkat perjuangan para ulama dalam menjaga integritas keilmuan. Ia menyebut Imam al-Bukhari yang menempuh perjalanan panjang untuk memverifikasi hadis serta Imam Ahmad bin Hanbal yang rela dipenjara dan disiksa demi mempertahankan kebenaran ilmiah.
“Para ulama dahulu membayar ilmu dengan usia, tenaga, harta, bahkan penderitaan,” katanya.
Menurut Muchlis, keberadaan pesantren justru semakin relevan di tengah perkembangan teknologi modern. Pesantren tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter, akhlak, integritas, dan keteladanan.
Selain itu, pesantren berperan menjaga kesinambungan sanad keilmuan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Ia menegaskan bahwa masa depan tidak membutuhkan manusia yang hanya menguasai informasi, melainkan individu yang memiliki karakter, kebijaksanaan, dan tanggung jawab moral.
“Dunia masa depan membutuhkan manusia yang memiliki karakter, akhlak, kebijaksanaan, dan tanggung jawab moral. Di sinilah nilai-nilai Alquran menjadi semakin penting dan semakin dibutuhkan di era kecerdasan buatan,” ujarnya.
Kepada para wisudawan, Muchlis berpesan agar tidak berhenti pada kemampuan membaca dan menghafal Alquran. Ia mendorong generasi muda menjadikan nilai-nilai Alquran sebagai landasan berkarya dan berkontribusi bagi masyarakat.
“Jangan hanya menjadi penjaga bacaan Alquran. Jadilah pembangun peradaban dengan Alquran. Jadilah generasi yang memadukan kemurnian wahyu dengan kecanggihan teknologi, memadukan kedalaman ilmu dengan kemuliaan akhlak, serta menghadirkan manfaat bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan,” tuturnya. (*)







