SerambiMuslim.com – Pemerintah Arab Saudi mulai memperketat akses masuk ke Kota Suci Mekkah menjelang puncak penyelenggaraan ibadah haji 2026.
Kebijakan ini berdampak pada mobilitas jemaah, termasuk asal Indonesia, yang diminta meningkatkan kewaspadaan serta disiplin selama beraktivitas di Tanah Suci.
Menanggapi hal tersebut, Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) mengimbau jemaah agar tidak bepergian sendirian. Sistem pendamping atau buddy system dinilai penting untuk meminimalkan risiko.
Minimal Tiga Orang
Kepala Seksi Pelindungan Jemaah (Linjam) PPIH Arab Saudi Daerah Kerja Mekkah, Tulus Widodo, menegaskan setiap aktivitas di luar hotel sebaiknya dilakukan secara berkelompok.
“Untuk petugas maupun jemaah, setiap pergerakan pastikan dilakukan secara buddy system. Dalam hal ini tidak berdua, kami imbau minimal tiga orang,” ujar Tulus di Mekkah, kemarin.
Kata dia, aturan tersebut merupakan langkah antisipatif untuk mencegah berbagai risiko yang dapat merugikan jemaah maupun petugas. “Apabila melakukan perjalanan, pastikan buddy system tidak dua orang, tapi tiga orang,” tegasnya.
Wajib Bawa Kartu Nusuk
Selain pembatasan mobilitas, jemaah juga diwajibkan membawa identitas resmi selama berada di Mekkah, yakni Kartu Nusuk.
“Kami ingatkan jemaah, khususnya yang baru datang dari Madinah, wajib membawa Kartu Nusuk saat beraktivitas di luar hotel,” kata Tulus.
Kartu tersebut menjadi dokumen penting yang berkaitan dengan akses serta identifikasi jemaah selama berada di wilayah Mekkah.
Gunakan Taksi Resmi
PPIH juga mengingatkan jemaah untuk menggunakan transportasi resmi selama di Tanah Suci, terutama saat menuju Masjidil Haram.
“Di sini ada dua taksi resmi, yaitu taksi warna putih dan hijau. Kami imbau jemaah tidak menggunakan taksi gelap karena berpotensi menurunkan penumpang di lokasi yang jauh dari Masjidil Haram,” jelasnya.
Menurut Tulus, penggunaan transportasi tidak resmi dapat menyulitkan jemaah dalam menjalankan ibadah, terutama di tengah pembatasan akses yang semakin ketat. ***







