SerambiMuslim.com – Nabi Muhammad SAW menggambarkan sedekah sebagai amalan mulia yang menghubungkan kehidupan dunia dan akhirat.
Dalam sejumlah hadits, sedekah diibaratkan seperti pohon yang batangnya berada di surga.
Dahan pohon tersebut menjulur ke dunia sebagai pegangan menuju keselamatan dan kebahagiaan abadi.
Imam Abu Laits As-Samarqandi meriwayatkan keutamaan sedekah dalam kitab Tanbihul Ghafilin.
Aisyah Radhiyallahu anha meriwayatkan sabda Nabi Muhammad SAW tentang perumpamaan sedekah dan kikir.
“Derma adalah pohon di surga, sedangkan kikir adalah pohon di neraka,” sabda Rasulullah SAW.
Nabi menjelaskan orang yang berpegang pada sedekah akan ditarik menuju surga. Sebaliknya, orang yang mengikuti sifat kikir akan terseret menuju neraka.
Rasulullah SAW juga menyebut orang kikir jauh dari Allah dan dekat dengan neraka. Sebaliknya, orang dermawan dekat dengan Allah, manusia, dan surga.
Dalam hadits lain, Nabi menganjurkan menjaga harta dengan zakat dan mengobati penyakit dengan sedekah.
Rasulullah juga mengajarkan menghadapi musibah dengan doa.
Allah SWT berfirman tentang tipu daya setan dalam Alquran Surah Al-Baqarah ayat 268.
Setan menakut-nakuti manusia dengan kemiskinan dan mendorong sifat kikir. Sementara itu, Allah menjanjikan ampunan dan karunia bagi orang yang berinfak.
Ayat tersebut menegaskan keluasan rahmat dan pengetahuan Allah SWT.
Setan membujuk manusia agar menahan harta demi rasa aman semu. Allah mengecam keengganan menafkahkan harta terbaik sebagai bentuk kejahatan. Sikap tersebut menunjukkan ketidakpercayaan pada kekuasaan dan kemurahan Allah.
Allah menjanjikan ampunan atas kesalahan, khususnya terkait kecintaan pada harta.
Orang yang berinfak dijanjikan pengganti atas harta yang dikeluarkannya.
Di dunia, mereka memperoleh kemuliaan dan nama baik di tengah masyarakat. Di akhirat, mereka dijanjikan pahala berlipat ganda. ***







