PK-TREN Indonesia Kukuhkan Pengurus di Halaqoh Nasional III

Halaqoh Nasional III, Pengukuhan Pengurus PK-TREN di Masjid Istiqlal

SerambiMuslim.com — Masjid Istiqlal Jakarta menjadi saksi sejarah saat Halaqoh Nasional III Pimpinan Pesantren digelar, bersamaan dengan pengukuhan pengurus Forum Persaudaraan dan Kemitraan Pesantren Indonesia (PK-TREN Indonesia). Acara ini bertujuan untuk memperkuat peran pesantren sebagai benteng nilai-nilai Islam dan pilar peradaban bangsa, serta menyatukan langkah dalam menghadapi tantangan zaman.

Dalam acara yang dihadiri oleh sejumlah tokoh nasional, seperti mantan Wakil Presiden KH Ma’ruf Amin, Menteri Agama Nasaruddin Umar, mantan Ketua PBNU KH Said Aqil Siradj, dan Ketua Umum PK-TREN Indonesia KH Ilyas Marwal, serta mantan Ketua MPR Hidayat Nurwahid, pesantren kembali ditekankan sebagai institusi yang memiliki peran fundamental dalam sejarah perjuangan bangsa dan dalam menghadapi tantangan masa depan.

Pesantren bukan hanya lembaga pendidikan agama, tetapi juga bagian integral dari sejarah perjuangan Indonesia, tempat lahirnya semangat kemerdekaan dan pejuang-pejuang bangsa. Ulama dan cendekiawan Islam KH Syukron Makmun menyebutkan bahwa pesantren juga berperan dalam menjaga khasanah intelektual Islam, seperti karya-karya Syekh Nawawi Al-Bantani, serta merangkul dinamika zaman modern. Namun, tantangan seperti perbedaan visi antar pesantren, regulasi yang belum selaras, dan tekanan ekonomi menjadi ujian berat yang harus dihadapi.

Didirikan sejak Oktober 2019, PK-TREN Indonesia hadir sebagai wadah untuk mempererat kolaborasi antar pesantren dalam berbagai bidang, mulai dari pendidikan, dakwah, hingga ekonomi syariah. Forum ini bertujuan untuk menjaga relevansi pesantren di tengah era globalisasi. Ketua Umum PK-TREN Indonesia, KH Ilyas Marwal, menyatakan bahwa pesantren harus beradaptasi dengan tantangan zaman tanpa kehilangan akar nilai-nilai Islam.

“Pesantren bukan hanya pusat pendidikan agama, tetapi juga laboratorium peradaban yang melahirkan solusi bagi tantangan sosial, ekonomi, dan keagamaan. Di tengah disrupsi teknologi, globalisasi, dan perubahan nilai, pesantren harus adaptif,” ujar KH Ilyas. Ia juga menekankan pentingnya pesantren untuk aktif dalam literasi digital, kewirausahaan syariah, dan penguatan kurikulum yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Salah satu isu penting yang dibahas dalam acara ini adalah bagaimana pesantren merespons fenomena kekerasan di dunia pendidikan. Dalam kerja sama dengan Kementerian Agama, PK-TREN menghadirkan narasumber yang kompeten untuk membahas pedoman “Pesantren Ramah Anak”, guna menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, inklusif, dan melindungi anak-anak dari kekerasan.

Halaqoh Nasional III ini bukan hanya seremoni belaka, tetapi sebuah forum strategis untuk merumuskan langkah-langkah konkret yang harus diambil pesantren dalam menghadapi tantangan global. Salah satu langkah utama adalah memperkuat posisi pesantren sebagai mitra strategis pemerintah dalam membangun bangsa, dengan mendorong kebijakan yang mendukung pesantren, termasuk akses pendanaan dan pengakuan kontribusi pesantren dalam pembangunan nasional.

PK-TREN Indonesia berkomitmen untuk menjadikan pesantren sebagai pusat keunggulan yang tidak hanya menjaga tradisi keilmuan Islam, tetapi juga mendorong perkembangan ekonomi syariah dan memperkuat pendidikan berbasis teknologi.

Ketua Dewan Penasehat PK-TREN, KH Ma’ruf Amin, dan mantan Ketua PBNU KH Said Aqil Siradj memberikan dukungan kuat terhadap upaya PK-TREN dalam memajukan pesantren. Mereka menegaskan pentingnya pesantren sebagai penjaga nilai-nilai bangsa dan sebagai inspirasi dalam merespons perubahan zaman.

Dengan dukungan dari berbagai pihak, PK-TREN Indonesia siap untuk terus memperjuangkan regulasi yang mendukung pesantren serta meningkatkan peran pesantren dalam mengatasi tantangan sosial dan ekonomi di Indonesia.