Pulang ke Papua, Abdul Latif Bimbing 300 Warga Masuk Islam

Abdul Latif Yelipele pulang ke Papua Pegunungan dan berdakwah. Empat mushala dibangun dan lebih dari 300 orang dibimbing masuk Islam. (Foto: Republika.co.id)

SerambiMuslim.com – Puluhan tahun tinggal dan menempuh pendidikan di Jakarta tidak membuat Abdul Latif Yelipele melupakan tanah kelahirannya.

Setelah menyelesaikan pendidikan di Jakarta, Abdul Latif memilih pulang ke Papua Pegunungan.

Kepulangannya menjadi awal perjalanan panjang dalam mengenalkan Islam kepada masyarakat di daerah asalnya.

Kini, Abdul Latif dipercaya sebagai Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Mamberamo Tengah, Papua Pegunungan.

Jauh sebelum aktif dalam organisasi keagamaan tersebut, ia telah menjalani dakwah di tengah masyarakat yang mayoritas bukan Muslim.

“Setelah lulus SD di Wamena, saya sempat sekolah di Al Azhar Kebayoran Lama Jakarta sekitar 1997. Puluhan tahun saya di Jakarta, lalu saya pulang ke kampung halaman,” ujar Abdul Latif di sela-sela Muktamar NU ke-35 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Jombang, dikutip dari Republika.co.id, Rabu, 9 September 2026.

Ia mengatakan, keputusan pulang ke Papua bukan sekadar untuk berkumpul bersama keluarga. Abdul Latif merasa memiliki tanggung jawab untuk memperkenalkan Islam kepada masyarakat di daerah asalnya.

“Saya perlu pindah di sana, karena di sana Islamnya juga minoritas. Saya harus pindah di sana agar mereka bisa memahami Islam,” ucapnya.

Dakwah tersebut perlahan membuahkan hasil. Dari sejumlah titik yang didatanginya, semakin banyak warga yang tertarik mempelajari Islam.

Abdul Latif kemudian membangun empat mushala sebagai tempat beribadah sekaligus belajar agama.

Dari empat titik tersebut, ia memperkirakan telah membimbing lebih dari 300 orang masuk Islam. “Sekitar, saya hitung-hitung sekitar 300-an lebih,” ujarnya.

Empat Mushala Jadi Pusat Pembinaan

Bagi Abdul Latif, mengajak masyarakat memeluk Islam bukan akhir dari proses dakwah.

Setelah mengucapkan dua kalimat syahadat, warga membutuhkan pendampingan untuk memahami ajaran Islam. Mereka juga perlu dibimbing agar mampu menjalankan ibadah dalam kehidupan sehari-hari.

Karena itu, keberadaan mushala menjadi bagian penting dalam perjalanan dakwahnya.

Tempat-tempat tersebut menjadi pusat pembinaan bagi warga yang baru mengenal Islam.

“Saya yang Islamkan. Yang bimbing syahadatnya. Ada empat titik mushala yang saya bangun. Baru banyak yang Muslim, saya syahadatkan dari semua,” katanya.

Pulang Membawa Ilmu dari Jakarta

Perjalanan Abdul Latif menuju dunia dakwah dimulai sejak masih kecil.

Setelah menyelesaikan pendidikan dasar di Wamena, ia berangkat ke Jakarta sekitar 1997. Ia kemudian melanjutkan pendidikan di Al Azhar Kebayoran Lama, Jakarta.

Abdul Latif tidak berangkat seorang diri. Bersama seorang teman, ia mendapat kesempatan belajar dengan dukungan Dewan Dakwah.

Sejumlah pihak juga ikut membantu biaya pendidikannya selama berada di Jakarta. “Alhamdulillah saat itu dibiayai,” katanya.

Tahun-tahun yang dilaluinya di Jakarta memberikan pengalaman sekaligus bekal pendidikan agama. Bekal tersebut kemudian dibawa pulang untuk digunakan dalam berdakwah di Papua.

Namun, Abdul Latif segera menemukan tantangan berbeda ketika kembali ke tanah kelahirannya. Salah satu tantangan terbesar adalah persoalan bahasa.

Berdakwah dengan Bahasa Lokal Papua

Menurut Abdul Latif, sejumlah warga yang telah memeluk Islam masih kesulitan memahami ceramah berbahasa Indonesia. Kondisi tersebut terutama dialami warga lanjut usia yang menjadi mualaf.

“Lihat orang tua yang mualaf. Mereka ini setiap Jumatan masuk. Tapi mereka tidak bisa memahami ceramah karena bahasa Indonesianya tidak mengerti sama sekali,” ujarnya.

Situasi tersebut membuat Abdul Latif memilih menggunakan bahasa daerah ketika menyampaikan dakwah. “Makanya saya dakwah pakai bahasa sana,” katanya.

Menurutnya, bahasa bukan sekadar alat komunikasi dalam berdakwah. Di tengah masyarakat Papua yang memiliki beragam bahasa lokal, kemampuan memahami bahasa setempat menjadi pintu penting.

Kemampuan tersebut membantu pesan agama lebih mudah diterima masyarakat.

Abdul Latif bahkan menilai dakwah di Papua akan lebih efektif jika dilakukan putra daerah.

“Kalau orang luar tidak bisa bahasa Papua asli, sulit menerima karena terkendala bahasa. Jadi yang berdakwah harus seorang Papua sendiri,” katanya.

Berdakwah dengan Dukungan Terbatas

Dalam menjalankan dakwah di Tanah Papua, Abdul Latif mendapat dukungan untuk menjalankan tugas secara lebih terstruktur. Ia memperoleh surat keputusan sebagai dai yang bertugas di wilayah tersebut.

Dakwah di kawasan Pegunungan Papua dijalaninya dengan berbagai keterbatasan. Honor yang diterimanya ketika itu hanya sekitar Rp250 ribu.

“Alhamdulillah, honornya Rp250 ribu waktu itu,” katanya.

Dukungan tersebut hingga kini masih berjalan. Surat keputusan sebagai dai masih aktif dan honor yang diterimanya meningkat menjadi sekitar Rp500 ribu.

Dorong Materi Islam Berbahasa Lokal Papua

Puluhan tahun berdakwah membuat Abdul Latif melihat kebutuhan lain yang masih mendesak.

Ia menilai materi keislaman dalam bahasa-bahasa lokal Papua perlu diperbanyak.

Menurutnya, sejumlah materi keagamaan telah diterjemahkan ke berbagai bahasa daerah. Namun, bahasa-bahasa lokal Papua dinilai belum mendapatkan perhatian yang sama.

“Bahasa Papua belum,” katanya.

Padahal, menurut Abdul Latif, penerjemahan materi keagamaan ke bahasa lokal penting untuk memperluas pemahaman masyarakat.

“Pasti perlu, cuma bahasanya banyak juga. Tapi sampai saat ini belum,” ujarnya.

Bagi Abdul Latif, dakwah di Papua Pegunungan bukan sekadar membangun tempat ibadah. Dakwah juga bukan hanya mengajak seseorang mengucapkan syahadat.

Lebih dari itu, dakwah berarti hadir dan memahami bahasa serta budaya masyarakat.

Setelah itu, warga yang memilih Islam perlu mendapatkan pendampingan secara berkelanjutan.

Abdul Latif berangkat ke Jakarta sebagai seorang anak Papua selepas lulus sekolah dasar. Puluhan tahun kemudian, ia memilih kembali membawa ilmu ke tanah kelahirannya.

Empat mushala telah berdiri dari perjalanan dakwah tersebut. Lebih dari 300 orang telah ia bimbing masuk Islam.

Bagi Abdul Latif, perjalanan dakwah di Papua Pegunungan masih jauh dari selesai. (*)