Berita  

Haedar Nashir: Kader Muhammadiyah Pahami Ideologi Utuh

SerambiMuslim — Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, menegaskan pentingnya memahami ideologi Muhammadiyah secara menyeluruh agar kader tidak mudah terombang-ambing oleh arus pemikiran yang tampak serupa, namun sejatinya berbeda.

Pesan ini ia sampaikan dalam Studium General Sekolah Ideologi Muhammadiyah Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DIY di Universitas Ahmad Dahlan, Senin (11/8/2025).

Haedar mengingatkan, sejarah panjang tradisi intelektual Islam menunjukkan pendidikan dan pembentukan ideologi bukan sekadar urusan ruang kelas. Sejak akhir abad pertama Hijriah, madrasah menjadi pusat perdebatan pemikiran keislaman—mulai dari fikih, tafsir, hadis, hingga falsafah—dengan ragam corak pendekatan.

“Madrasah hadis di Hijaz cenderung bayani atau literal, sedangkan madrasah ra’yi di Kufah, yang dipengaruhi Imam Abu Hanifah, menonjolkan pendekatan burhani atau rasional,” jelasnya. Perbedaan itu, lanjutnya, menjadi kekayaan khazanah pemikiran Islam, sebagaimana perdebatan antara Al-Ghazali dan Ibn Rusyd.

Haedar juga menyinggung tradisi intelektual Barat, seperti Frankfurt School di Jerman yang melahirkan teori kritis sebagai respons terhadap positivisme ala Auguste Comte, hingga perkembangan postmodernisme dan neo-Marxisme.

Memasuki inti pembahasan, Haedar menjelaskan ideologi sebagai sistem perjuangan yang memuat worldview, cita-cita, dan strategi pencapaiannya. “Kalau worldview-nya sekuler, cita-citanya akan sekuler. Kalau dari agama, maka worldview-nya agama,” ujarnya.

Ia menegaskan, Muhammadiyah memiliki orientasi khas yang membedakannya dari kelompok lain, namun kerap ada kader yang tanpa sadar terlibat dalam gerakan yang sepintas mirip, tetapi berbeda secara substansi.

Islam yang dijalankan Muhammadiyah, kata Haedar, merujuk pada Al-Qur’an dan Sunnah al-Maqbūlah dengan menggunakan akal pikiran. Dua sumber ini tidak hanya memuat perintah dan larangan, tetapi juga petunjuk hidup yang luas (al-irsyādāt), mulai dari penciptaan langit dan bumi hingga fenomena kehidupan manusia.

 

Karena itu, ia mendorong umat Islam menghindari cara pandang hitam-putih dalam beragama. Pendekatan yang digunakan harus mengintegrasikan tiga kerangka: bayani, burhani, dan irfani. “Inilah metode yang diajarkan KH Ahmad Dahlan, memahami Islam secara utuh, tidak hitam-putih, dan tidak parsial,” tegasnya.