Persiapan Haji 2026 Fokus Pada Keamanan dan Layanan

Profesor studi Islam Prof Shahul Hameed menjelaskan makna ibadah haji sebagai perjalanan spiritual penuh nilai persatuan, kesetaraan, dan penghambaan kepada Allah SWT. (Foto: AFP/Ilustrasi)

SerambiMuslim.com – Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI mempercepat persiapan haji 1447 H/2026 M.
Fokus utama diarahkan pada aspek keselamatan jamaah.

Langkah ini diambil di tengah dinamika geopolitik kawasan Timur Tengah.
Pemerintah juga menyiapkan skema layanan ibadah yang lebih fleksibel.

Direktur Jenderal PHU, Puji Raharjo, menegaskan pentingnya mitigasi risiko.

“Keselamatan jamaah menjadi prioritas utama,” ujar Puji di Jakarta, Selasa, 31 Maret 2026.

Ia menyebut pemerintah menyiapkan skenario mitigasi komprehensif. Langkah tersebut untuk mengantisipasi potensi eskalasi konflik.

Selain itu, pemerintah menerapkan skema layanan fleksibel bagi jamaah. Di antaranya melalui mekanisme tanazul dan murur. Skema tersebut bertujuan menjaga kelancaran mobilitas jamaah.

Pemerintah juga mempermudah mekanisme pembayaran dam. “Jamaah diberikan kebebasan sesuai keyakinan masing-masing,” kata Puji.

Ia menegaskan pemerintah hanya memfasilitasi kebutuhan ibadah. Persiapan teknis juga terus dimatangkan menjelang keberangkatan kloter pertama. Layanan transportasi, akomodasi, dan katering disiapkan secara intensif.

Pembantu Teknis KUH Jeddah, Zakaria Anshori, memastikan kesiapan lapangan. Seluruh fasilitas ditargetkan siap sebelum kedatangan jamaah.

Dari sisi pengawasan, Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI turut memberikan catatan. Wakil Ketua Komite III DPD RI, Dailami Firdaus, menekankan pentingnya pengawasan.

“Pengawasan layanan di Madinah harus tetap ketat,” ujar Dailami.

Ia menyoroti kesiapan petugas dan kualitas akomodasi.

Sementara itu, Wakil Menteri Haji dan Umrah, Dahnil Anzar Simanjuntak, meninjau layanan kesehatan. Peninjauan dilakukan di fasilitas kesehatan mitra di Makkah.

Ia menyebut isu kesehatan menjadi perhatian utama setiap musim haji. Sebagian besar jamaah Indonesia termasuk kategori lansia dan risiko tinggi.

“Model pelayanan kesehatan harus terus ditingkatkan,” kata Dahnil.

Pemerintah menyiapkan penguatan layanan berbasis lapangan. Langkah tersebut meliputi optimalisasi klinik satelit dan mobile clinic. Fasilitas ini akan ditempatkan di wilayah Armuzna.

Selain itu, layanan kesehatan diperkuat di dalam negeri. Asrama haji akan dilengkapi klinik permanen.

Penguatan juga dilakukan melalui Klinik Kesehatan Haji Indonesia di Arab Saudi. Langkah ini untuk memastikan layanan berkelanjutan.

Pemerintah berharap seluruh upaya ini meningkatkan perlindungan jamaah.
Jamaah diharapkan dapat beribadah dengan aman dan nyaman. ***