SerambiMuslim.com – Julukan “Hujjatul Islam” melekat pada sosok Imam Al-Ghazali. Gelar itu merujuk pada perannya dalam membela akidah Islam.
Ulama abad ke-11 tersebut dikenal aktif merespons tantangan pemikiran. Ia menghadapi arus filsafat Yunani yang memengaruhi kalangan intelektual Muslim.
Nama-nama seperti Socrates, Plato, dan Aristotle menjadi rujukan saat itu. Sebagian pemikir bahkan menjauh dari ajaran agama.
Imam Ghazali awalnya mempelajari filsafat secara mendalam. Namun, ia mengalami kegelisahan intelektual di puncak karirnya.
Ia kemudian meninggalkan jabatan di Baghdad dan menempuh jalan sufistik. Keputusan itu menjadi titik balik dalam perjalanan intelektualnya.
Dalam masa pengembaraan, ia tetap produktif menulis. Salah satu karyanya adalah Tahafut al-Falasifah.
Buku tersebut mengkritik pemikiran metafisika filsafat Yunani. Ia menilai konsep ketuhanan filsafat bertentangan dengan akidah Islam.
Cendekiawan Muslim Yusuf al-Qaradawi menjelaskan konteks kritik tersebut. Menurutnya, filsafat saat itu mencakup berbagai disiplin ilmu.
Imam Ghazali menyoroti bahaya pada aspek metafisika. Ia menilai pandangan tersebut berpotensi mereduksi ajaran agama.
Beberapa pemikir menganggap wahyu setara dengan pemikiran filosofis. Pandangan ini ditentang keras oleh Imam Ghazali.
Ia juga mengkritik gagasan tentang kebangkitan akhirat yang bersifat ruhani semata. Menurutnya, pandangan itu menyimpang dari ajaran Islam.
Imam Ghazali membagi filsafat menjadi tiga kategori. Sebagian ditolak, sebagian dianggap bidah, dan sebagian diterima.
Ia tidak menolak akal secara mutlak. Sebaliknya, ia mendorong penggunaan nalar secara kritis. “Carilah kebenaran tanpa taklid buta,” demikian pesan Imam Ghazali.
Ia mengingatkan bahaya mengikuti otoritas tanpa pemikiran mandiri. Perannya dalam merespons tantangan intelektual membuatnya dihormati luas. Ia dinilai berhasil menguatkan kembali fondasi keilmuan Islam.
Julukan Hujjatul Islam mencerminkan kontribusi tersebut. Ia dianggap sebagai pembela akidah di tengah krisis pemikiran.
Sejumlah ulama juga mengaitkannya dengan konsep pembaharu agama. Hal ini merujuk pada hadis riwayat Abu Dawud dan ulama lain.
Dalam tradisi Islam, pembaharu muncul setiap abad. Imam Ghazali sering disebut sebagai pembaharu abad kelima Hijriah. ***







