SerambiMuslim.com – Alquran memberikan pelajaran berharga tentang watak manusia yang kerap dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Salah satunya tertuang dalam firman Allah SWT berikut:
اِنْ تَمْسَسْكُمْ حَسَنَةٌ تَسُؤْهُمْۖ وَاِنْ تُصِبْكُمْ سَيِّئَةٌ يَّفْرَحُوْا بِهَا ۗ وَاِنْ تَصْبِرُوْا وَتَتَّقُوْا لَا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْـًٔا ۗ اِنَّ اللّٰهَ بِمَا يَعْمَلُوْنَ مُحِيْطٌ ࣖ
Latin: In tamsaskum ḥasanatun tasu’hum, wa in tuṣibkum sayyi’atuy yafraḥū bihā, wa in taṣbirū wa tattaqū lā yaḍurrukum kaiduhum syai’ā(n), innallāha bimā ya‘malūna muḥīṭ(un).
Artinya: “Jika kamu memperoleh kebaikan, (niscaya) mereka bersedih hati. Adapun jika kamu tertimpa bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kamu bersabar dan bertakwa, tidaklah tipu daya mereka akan menyusahkan kamu sedikit pun. Sesungguhnya Allah Maha Meliputi segala yang mereka kerjakan.” (QS Ali Imran: 120).
Ayat ini menggambarkan adanya manusia yang merasa tidak nyaman melihat kebahagiaan orang lain. Mereka tampak tersenyum dan mengucapkan selamat, tetapi hatinya dipenuhi rasa tidak suka. Sebaliknya, ketika orang lain mengalami kesulitan, mereka justru merasa senang.
Alquran mengungkap karakter semacam ini secara gamblang. Menurut Imam al-Tabari, kata hasanah dalam ayat tersebut mencakup segala bentuk kebaikan yang diberikan Allah kepada orang beriman, mulai dari kemenangan, kemuliaan, rezeki, persatuan, hingga berbagai keberhasilan dalam kehidupan.
Kebaikan itu tidak menyakiti mereka secara fisik, tetapi melukai sesuatu yang lebih dalam, yakni kedengkian yang bersemayam di dalam hati.
Fenomena tersebut masih mudah ditemukan hingga saat ini. Ada orang yang sulit ikut bergembira ketika sahabatnya berhasil meraih jabatan lebih tinggi. Ada yang diam-diam berharap usaha orang lain mengalami kegagalan. Ada pula yang lebih sibuk menghitung nikmat yang diterima orang lain daripada mensyukuri karunia yang telah Allah berikan kepadanya.
Hasad memiliki sifat yang unik sekaligus berbahaya. Ia tidak selalu mendorong seseorang untuk menjadi lebih baik, tetapi justru membuatnya berharap orang lain kehilangan kelebihan yang dimiliki.
Karena itu Allah berfirman, “Dan jika kamu tertimpa bencana, mereka bergembira karenanya.”
Menurut penjelasan Ibn Katsir, kegembiraan tersebut bukan lahir karena mereka memperoleh manfaat tertentu, melainkan karena melihat orang lain kehilangan sesuatu. Mereka menikmati penderitaan orang lain, bukan keberhasilan dirinya sendiri.
Penyakit hati semacam ini telah hadir sejak awal sejarah manusia. Qabil membunuh Habil bukan karena kekurangan harta. Saudara-saudara Nabi Yusuf AS tidak membuangnya ke dalam sumur karena kemiskinan. Mereka terdorong oleh rasa iri terhadap keutamaan dan kasih sayang yang diterima orang lain.
Benteng Kesabaran dan Ketakwaan
Meski demikian, Alquran tidak hanya menjelaskan penyakit hati manusia. Allah juga menunjukkan jalan keluarnya.
“Dan jika kamu bersabar dan bertakwa…”
Dalam Tafsir al-Sa’di dijelaskan bahwa sabar adalah kemampuan menahan diri dari respons yang keliru, sedangkan takwa merupakan upaya menjaga hubungan dengan Allah dalam setiap keadaan.
Kesabaran menjaga seseorang dari dorongan membalas kebencian dengan kebencian. Sementara takwa membuat hati tetap yakin bahwa Allah tidak pernah lengah terhadap segala bentuk kezaliman.
Kemudian Allah memberikan janji yang menenangkan:
“Tidaklah tipu daya mereka akan menyusahkan kamu sedikit pun.”
Janji ini tidak berarti bahwa orang beriman akan terbebas dari fitnah, gangguan, atau makar manusia. Namun, Allah menegaskan bahwa segala upaya tersebut tidak akan mampu menggagalkan ketetapan terbaik yang telah Dia siapkan bagi hamba-Nya yang sabar dan bertakwa.
Imam al-Qurthubi menjelaskan bahwa perlindungan Allah dalam ayat ini bukan berarti terbebas dari ujian, melainkan terjaganya tujuan akhir yang telah Allah tetapkan bagi seorang mukmin.
Manusia mungkin dapat menghambat langkah seseorang, tetapi tidak dapat mencabut takdir yang telah Allah tetapkan. Mereka mungkin dapat melukai perasaan, tetapi tidak dapat mengambil rezeki yang telah digariskan.
Karena itu ayat ini ditutup dengan kalimat yang sangat agung:
“Sesungguhnya Allah Maha Meliputi segala yang mereka kerjakan.”
Tidak ada bisikan dengki yang luput dari pengawasan-Nya. Tidak ada rencana buruk yang tersembunyi dari ilmu-Nya. Tidak ada air mata orang yang dizalimi yang tidak diketahui oleh Allah SWT.
Hasad, Penyakit Hati yang Paling Berbahaya
Tidak sedikit orang yang justru lebih tersiksa oleh keberhasilan orang lain daripada kegagalannya sendiri. Inilah salah satu bentuk hasad yang paling halus sekaligus paling berbahaya.
Hasad sering kali tidak tampak dalam bentuk permusuhan terbuka. Ia dapat bersembunyi di balik senyum, ucapan selamat, bahkan pujian. Namun di dalam hati terdapat kegelisahan yang tidak mampu menerima kenyataan bahwa orang lain memperoleh nikmat yang tidak dimilikinya.
Penyakit ini muncul ketika seseorang menjadikan kehidupan orang lain sebagai ukuran kebahagiaan dirinya. Ia tidak lagi fokus pada karunia yang telah diterimanya, tetapi sibuk mempertanyakan mengapa orang lain memperoleh nikmat tertentu.
Akibatnya, hati kehilangan ketenangan. Kesuksesan orang lain dianggap ancaman. Rezeki orang lain dipandang sebagai pengurangan atas hak dirinya. Kebahagiaan orang lain terasa seperti penghinaan pribadi.
Padahal orang yang didengki sering kali tidak mengalami kerugian apa pun. Sebaliknya, hasad pertama kali membakar pemiliknya sendiri. Ia membuat seseorang sulit bersyukur, sulit merasa cukup, dan sulit menikmati hidup.
Para ulama bahkan menyebut hasad sebagai bentuk ketidakrelaan terhadap pembagian takdir Allah. Seolah-olah seseorang mempertanyakan hikmah Allah dalam memberikan karunia kepada hamba-Nya.
Karena itu, orang yang matang secara spiritual tidak menjadikan keberhasilan orang lain sebagai ancaman. Ia melihatnya sebagai bukti bahwa Allah masih membuka pintu-pintu kebaikan bagi siapa saja yang Dia kehendaki.
Sementara orang yang dikuasai hasad akan terus hidup dalam kegelisahan. Ia tidak terluka oleh apa yang terjadi pada dirinya, tetapi tersiksa oleh apa yang terjadi pada orang lain.
Maka ketika menghadapi kedengkian manusia, fokus utama seorang mukmin bukanlah membalas, melainkan memperkuat kesabaran, meningkatkan ketakwaan, dan memperbaiki diri. Sebab makar manusia memiliki batas, sedangkan penjagaan Allah SWT tidak pernah berbatas. (*)







