SerambiMuslim.com – Bulan Muharram merupakan salah satu bulan yang dimuliakan dalam kalender Hijriah. Pada bulan ini, umat Islam dianjurkan memperbanyak ibadah, termasuk menjalankan puasa sunnah yang memiliki keutamaan besar di sisi Allah SWT.
Di antara puasa sunnah yang dianjurkan selama Muharram adalah puasa Tasua pada 9 Muharram dan puasa Asyura pada 10 Muharram. Kedua amalan tersebut memiliki landasan kuat dalam hadis Rasulullah SAW dan telah lama menjadi tradisi ibadah umat Islam.
Dalam buku “Seri Fikih Kehidupan” karya Ahmad Sarwat dijelaskan bahwa puasa Tasua dan Asyura berstatus sunnah, bukan wajib. Dasar pelaksanaannya merujuk pada hadis yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas RA.
Ibnu Abbas RA menceritakan bahwa ketika Rasulullah SAW tiba di Madinah, beliau melihat kaum Yahudi berpuasa pada hari Asyura. Saat ditanya alasannya, mereka menjelaskan bahwa hari tersebut merupakan hari ketika Allah SWT menyelamatkan Nabi Musa AS dan Bani Israil dari musuh mereka.
Mendengar penjelasan itu, Rasulullah SAW bersabda bahwa umat Islam lebih berhak mengikuti Nabi Musa AS. Beliau kemudian berpuasa pada hari tersebut dan menganjurkan para sahabat untuk melaksanakannya. Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari.
Keutamaan puasa Muharram juga dijelaskan dalam hadis riwayat Muslim dari Abu Hurairah RA. Rasulullah SAW menyebut puasa Muharram sebagai puasa sunnah paling utama setelah Ramadan.
Dalam buku “Ternyata Shalat & Puasa Sunah Dapat Mempercepat Kesuksesan” karya Ceceng Salamudin, M.Ag., disebutkan sabda Rasulullah SAW:
“Puasa yang paling utama setelah Ramadan adalah puasa pada bulan Allah, Muharram. Sedangkan salat yang paling utama setelah salat wajib adalah salat malam.” (HR Muslim)
Puasa Muharram Berapa Hari?
Puasa sunnah yang paling dianjurkan pada bulan Muharram dilaksanakan selama dua hari, yakni:
- 9 Muharram (Puasa Tasua
- 10 Muharram (Puasa Asyura)
Selain dua hari tersebut, sebagian umat Islam juga melaksanakan puasa sunnah pada awal Muharram. Namun, puasa Tasua dan Asyura menjadi amalan yang paling ditekankan karena memiliki keutamaan yang disebutkan secara khusus dalam hadis.
Rasulullah SAW bersabda:
“Puasa pada hari Asyura menghapuskan dosa setahun yang lalu.” (HR Muslim)
Selain itu, terdapat riwayat dari Imam Ahmad bin Hanbal yang bersumber dari Ibnu Abbas RA:
“Berpuasalah kalian pada hari Asyura dan selisihilah orang-orang Yahudi, berpuasalah sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya.”
Niat Puasa Muharram
Berikut bacaan niat puasa sunnah Muharram yang umum diamalkan umat Islam.
Niat Puasa Muharram
نَوَيْتُ صَوْمَ الْمُحَرَّمِ لِلّٰهِ تَعَالَى
Latin: Nawaitu shaumal Muharrami lillâhi ta’âlâ.
Artinya: “Aku niat puasa Muharram karena Allah Ta’ala.”
Niat Puasa Tasua
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ التَا سُوعَاء لِلهِ تَعَالَى
Latin: Nawaitu shauma ghadin ‘an adâ’i sunnatit Tasû’â lillâhi ta’âlâ.
Artinya: “Aku berniat puasa sunnah Tasua esok hari karena Allah Ta’ala.”
Niat Puasa Asyura
نَوَيْتُ صَوْمَ عَشْرَ سُنَّةً لِلَّهِ تَعَالَى
Latin: Nawaitu shauma ‘Asyura sunnatan lillâhi ta’âlâ.
Artinya: “Aku berniat puasa Asyura, sunnah karena Allah Ta’ala.”
Puasa Tasua dan Asyura menjadi salah satu amalan yang dianjurkan pada bulan Muharram. Selain mengikuti sunnah Rasulullah SAW, ibadah ini juga menjadi sarana meningkatkan ketakwaan sekaligus meraih keutamaan penghapusan dosa sebagaimana disebutkan dalam hadis. (*)






