Fikih  

5 Peristiwa Bersejarah yang Terjadi di Bulan Muharram

FOTO: iStockphoto/Ilustrasi

SerambiMuslim.com – Bulan Muharram tidak hanya menandai pergantian tahun dalam kalender Islam. Bulan pertama dalam kalender Hijriah ini juga menyimpan sejumlah peristiwa penting yang menjadi pelajaran berharga bagi umat Islam sepanjang sejarah.

Sejumlah peristiwa tersebut bahkan dikaitkan dengan tanggal 10 Muharram atau hari Asyura.

Hari itu dikenal sebagai momentum penuh makna karena berkaitan dengan kisah para nabi hingga peristiwa besar dalam perjalanan umat Islam.

Sebagian kisah tersebut bersumber dari Alquran dan hadits Nabi Muhammad SAW. Sementara lainnya tercatat dalam berbagai kitab sejarah Islam yang ditulis para ulama.

Berikut lima peristiwa penting yang kerap dikaitkan dengan bulan Muharram.

1. Penetapan Kalender Hijriah

Muharram dikenal sebagai bulan pertama dalam kalender Islam. Meski demikian, peristiwa hijrah Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah sebenarnya terjadi pada bulan Rabiul Awal.

Mengutip buku “Perkembangan Perumusan Kalender Islam Internasional” karya Muh Rasywan Syarif, penetapan kalender Hijriah dilakukan pada masa Khalifah Umar bin Khattab RA.

Saat itu para sahabat bermusyawarah untuk menentukan titik awal penanggalan Islam. Mereka kemudian sepakat menjadikan peristiwa hijrah sebagai patokan awal kalender.

Muharram dipilih sebagai bulan pertama karena menjadi awal perencanaan hijrah setelah berakhirnya musim haji.

2. Nabi Musa AS dan Bani Israil Diselamatkan dari Firaun

Peristiwa yang paling sering dikaitkan dengan hari Asyura adalah keselamatan Nabi Musa AS dan Bani Israil dari kejaran Firaun.

Dalam buku “Selamat Tinggal Susah” karya Asrifin An-Nakhrawie, dikisahkan Allah SWT membelah Laut Merah untuk menyelamatkan Nabi Musa AS beserta pengikutnya.

Ketika Nabi Musa dan kaumnya berhasil menyeberang, laut kembali menyatu dan menenggelamkan Firaun bersama pasukannya.

Peristiwa ini menjadi alasan kaum Yahudi berpuasa pada hari Asyura sebagai bentuk syukur kepada Allah SWT.

Saat tiba di Madinah, Rasulullah SAW mendapati kaum Yahudi menjalankan puasa tersebut. Beliau kemudian bersabda:

“Kami lebih berhak terhadap Musa daripada mereka.” Lalu beliau berpuasa pada hari tersebut dan memerintahkan umat Islam untuk melakukannya. (HR Bukhari dan Muslim)

3. Disyariatkannya Puasa Asyura

Hari Asyura juga menjadi momen disyariatkannya puasa sunnah yang memiliki keutamaan besar bagi umat Islam.

Puasa Asyura dilaksanakan setiap tanggal 10 Muharram dan dianjurkan oleh Rasulullah SAW.

Dalam hadits riwayat Muslim, Rasulullah SAW menjelaskan keutamaan puasa tersebut.

“Nabi SAW ditanya mengenai keutamaan puasa Arafah? Beliau menjawab, ‘Puasa Arafah akan menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.’ Beliau juga ditanya mengenai keistimewaan puasa Asyura? Beliau menjawab, ‘Puasa Asyura akan menghapus dosa setahun yang lalu’.” (HR Muslim)

Hadits ini menjadi dasar utama anjuran menjalankan puasa Asyura bagi umat Islam.

4. Bahtera Nabi Nuh AS Selamat dari Banjir Besar

Muharram juga dikaitkan dengan berakhirnya musibah banjir besar pada masa Nabi Nuh AS.

Kisah tersebut tercantum dalam buku “Kisah Para Nabi” karya Imam Ibnu Katsir.

Dalam riwayat yang dinukil dari Qatadah dan sejumlah ulama lainnya disebutkan:

“Nabi Nuh dan para pengikutnya menaiki kapal pada tanggal sepuluh bulan Rajab, mereka berlayar selama 150 hari, setelah itu mereka berlabuh di Gunung Judi selama 1 bulan, dan mereka baru keluar dari kapal pada tanggal 10 bulan Muharram.”

Peristiwa tersebut menjadi simbol pertolongan Allah SWT kepada hamba-hamba-Nya yang beriman.

5. Syahidnya Husain bin Ali RA di Karbala

Selain membawa kisah kemenangan dan keselamatan, tanggal 10 Muharram juga menyimpan peristiwa memilukan dalam sejarah Islam.

Pada hari tersebut, cucu Rasulullah SAW, Husain bin Ali RA, gugur dalam peristiwa Karbala. Tragedi itu terjadi pada 10 Muharram 61 Hijriah di wilayah Karbala, Irak.

Dalam kitab Al-Bidayah wan Nihayah, Ibnu Katsir menjelaskan kronologi tragedi tersebut dan menuliskan:

“Yang membunuh Husein dengan tombak adalah Sinan bin Anas bin Amr Nakhai, dan kemudian dia menggorok leher Husein dan menyerahkan kepala Husein kepada Khawali bin Yazid.” (Al-Bidayah, 8/204)

Bagi umat Islam, khususnya dalam sejarah peradaban Islam, tragedi Karbala menjadi simbol keteguhan dalam mempertahankan kebenaran.

Peristiwa tersebut juga dikenang sebagai bentuk pengorbanan besar demi menjaga prinsip keadilan dan nilai-nilai agama di tengah konflik politik yang terjadi saat itu. (*)