Fikih  

Tata Cara Mengirim Al-Fatihah untuk Orang Meninggal

FOTO: iStockphoto/Ilustrasi

SerambiMuslim.com – Membaca Surah Al-Fatihah untuk orang yang meninggal dunia menjadi salah satu amalan yang lazim dilakukan umat Islam, terutama dalam rangkaian tahlilan.

Selain Al-Fatihah, terdapat doa-doa yang dipanjatkan sebagai bentuk permohonan ampunan dan rahmat kepada Allah SWT bagi almarhum maupun almarhumah.

Menurut buku “Merayakan Kilafiyah Menuai Rahmat Ilahiah” karya Zikri Darussalam dan Rahman, jumhur ulama berpendapat bahwa mendoakan orang yang telah meninggal serta menghadiahkan pahala sedekah kepada mereka merupakan amalan yang diperbolehkan dalam Islam.

Landasan tersebut di antaranya didasarkan pada hadits dari Abu Hurairah RA. Nabi Muhammad SAW bersabda:

إذا مات الإنسان انقطع عمله إلا من ثلاث: ولد صالح يدعو له، أو صدقة جارية من بعده، أو علم ينتفع به

Latin: Idzā mātal-insānu inqatha’a ‘amaluhu illā min tsalātsin: waladin shālihin yad’ū lahu, au shadaqatin jāriyatin min ba’dihi, au ‘ilmin yuntafa’u bih.

Artinya: “Tatkala manusia meninggal maka putuslah segala amalnya, kecuali tiga macam, yaitu anak saleh yang berdoa untuknya, atau sedekah jariyah setelahnya, atau ilmu yang bermanfaat karenanya.” (HR Muslim)

Selain itu, terdapat pula hadits yang menjelaskan keutamaan membaca Surah Al-Fatihah untuk ahli kubur.

“Barang siapa memasuki kompleks pemakaman kemudian ia membaca surah Al-Fatihah, lalu surah Al-Ikhlas, lalu surah At-Takatsur, kemudian ia mengatakan bahwa saya memberikan pahala bacaan tersebut kepada para ahli kubur dari kalangan orang mukmin laki-laki dan perempuan, maka mereka semua para ahli kubur akan mendapatkan pertolongan dari Allah SWT.”

Cara Mengirim Al-Fatihah untuk Orang yang Meninggal

Masih merujuk pada sumber yang sama, berikut tata cara mengirim doa yang umum dilakukan dalam tahlilan:

  1. Membuka dengan membaca Surah Al-Fatihah.
  2. Membaca Surah Yasin.
  3. Membaca Surah Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas.
  4. Membaca beberapa ayat Surah Al-Baqarah, yaitu ayat 1-5, 163, 255 (Ayat Kursi), dan 284.
  5. Mengucapkan istighfar.
  6. Melafalkan dzikir seperti tahlil (lā ilāha illallāh), takbir, tahmid, dan tasbih.
  7. Bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW.
  8. Membaca Asmaul Husna (99 Nama Allah).
  9. Ditutup dengan doa untuk arwah yang dituju.

Niat Mengirim Surah Al-Fatihah

إِلَى حَضْرَةِ النَّبِيِّ الْمُصْطَفَى سَيِّدِنَا مُحمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاٰلِهِ وَأَزْوَاجِهِ وَأَوْلَادِهِ وَذُرِّيَّاتِهِ الْفَــاتِحَةُ

Latin: Ila ḫadlratin-nabiyyil-musthafâ sayyidinâ Muḫammadin shallallahu ‘alaihi wa sallama wa âlihi wa azwâjihi wa awlâdihi wa dzurriyyâtihi al-fâtiḫah….

Artinya: “Kepada yang terhormat Nabi Muhammad SAW, segenap keluarga, istri-istrinya, anak-anaknya, dan keturunannya. Bacaan Al-Fatihah ini kami tujukan kepada Allah dan pahalanya untuk mereka semua. Al-Fatihah…”

ثُمَّ إِلَى حَضْرَةِ إِخْوَانِهِ مِنَ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ وَالْأَوْلِيَاءِ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِيْنَ وَالصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَالْعُلَمَاءِ الْعَامِلِيْنَ وَالْمُصَنِّفِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ وَجَمِيْعِ الْمَلَائِكَةِ الْمُقَرَّبِيْنَ، خُصُوْصًا إِلَى سَيِّدِنَا الشَّيْخِ عَبْدِ الْقَادِرِ الْجِيْلَانِي وَخُصُوْصًا إِلَى مُؤَسِّسِيْ جَمْعِيَّةِ نَهْضَةِ الْعُلَمَاءِ الْفَــاتِحَةُ

Latin: Tsumma ilâ ḫadlrati ikhwânihi minal-anbiya’i wal-mursalîn wal-auliya’i wasy-syuhadâ’i wash-shâlihîn wash-shaḫâbati wat tâbi’în wal-‘ulamâ’il-‘âmilîn wal-mushannifînal-mukhlishîn wa jamî’il-malâikatil-muqarrabîn, khusûshan ilâ sayyidinâsy-syaikh ‘abdil qâdir al-jîlânî wa khushûshan ilâ muassisî jam’iyyah Nahdlatul Ulama, al-fâtiḫah.

Artinya: “Lalu kepada segenap saudara beliau dari kalangan para nabi, rasul, wali, syuhada, orang-orang saleh, sahabat, tabi’in, ulama al-amilin (yang mengamalkan ilmunya), ulama penulis yang ikhlas, semua malaikat Muqarrabin, terkhusus kepada Syekh Abdul Qadir al-Jilani dan para pendiri organisasi Nahdlatul Ulama. Bacaan Al-Fatihah ini kami tujukan kepada Allah dan pahalanya untuk mereka semua. Al-Fatihah…”

Doa untuk Almarhum

Berikut doa yang diriwayatkan dalam buku Fiqih Doa & Dzikri Jilid 2 karya Syaikh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin al-Badr:

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ، وَعَافِهِ، وَاعْفُ عَنْهُ، وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ، وَوَسِّعْ مُدْخَلَهُ، وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ، وَنَقِّهِ مِنَ الْخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ الْأَبْيَضَ مِنَ الدَّنَسِ، وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ، وَأَهْلًا خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ، وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ، وَأَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ، وَأَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَمِنْ عَذَابِ النَّارِ

Latin: Allāhummaghfir lahu, warhamhu, wa ‘āfihi, wa’fu ‘anhu, wa akrim nuzulahu, wa wassi’ mudkhalahu, waghsilhu bil-mā’i wath-thalji wal-barad, wa naqqihi minal-khaṭāyā kamā naqqaytat-thawbal-abyaḍa minad-danas, wa abdilhu dāran khairan min dārihi, wa ahlan khairan min ahlihi, wa zawjan khairan min zawjihi, wa adkhilhul-jannah, wa a’idhhu min ‘adhābil-qabr, wa min ‘adhābin-nār.

Artinya: “Ya Allah, berilah ampunan kepadanya dan rahmatilah dia, berilah dia afiat dan maafkanlah, muliakan jamuannya, luaskan tempat masuknya, cucilah dia dengan air, salju, dan embun, dan sucikanlah dia dari kesalahan-kesalahan, sebagaimana engkau menyucikan pakaian putih dari kotoran, dan gantikanlah untuknya tempat yang lebih baik daripada tempatnya, keluarga yang lebih baik daripada keluarganya, pasangan yang lebih baik daripada pasangannya, dan masukkanlah dia ke surga, dan lindungilah dia dari azab kubur, dan dari azab neraka.” (*)