Berita  

Antropolog ANU: Dakwah Ekologis Perlu Lintas Agama

Antropolog Australian National University, Eva Fahrun Nisa Amrullah

SerambiMuslim.com — Antropolog dari Australian National University, Eva Fahrun Nisa Amrullah, menekankan pentingnya pendekatan lintas agama dalam memperkuat dakwah ekologis di masjid. Pendekatan ini dinilai mampu membuka wawasan umat Islam dalam menjaga kelestarian alam secara lebih luas dan inklusif.

Hal tersebut ia sampaikan saat menjadi narasumber dalam Focus Group Discussion Pembinaan Dakwah Ekologis Masjid yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama di Bogor, Sabtu, 14 Juni 2025.

“Berbagai agama telah memberi perhatian serius terhadap isu lingkungan sejak lama. Al-Qur’an dan Al-Kitab sama-sama menempatkan manusia sebagai khalifah di bumi, dengan mandat untuk memelihara keseimbangan alam,” ujar Eva.

Ia juga mengutip dokumen Laudato Si’ yang diterbitkan oleh Paus Fransiskus pada 2015. Dokumen tersebut menggabungkan perspektif teologi dan ekologi, serta menggambarkan bumi sebagai saudara dan ibu yang menjaga kehidupan manusia.

Menurut Eva, pandangan lintas agama tersebut seharusnya menjadi pijakan dalam mendorong perubahan perilaku umat dalam berinteraksi dengan alam. Ia menilai pendekatan lintas agama dapat memperkuat pesan dakwah ekologis yang inklusif dan relevan dengan tantangan zaman.

Eva juga menyoroti isu kelebihan penduduk yang sering dianggap sebagai penyebab utama krisis iklim. Ia menjelaskan bahwa justru pola konsumsi negara-negara maju memberi tekanan lebih besar terhadap lingkungan dibandingkan jumlah penduduk negara berkembang.

“Sepuluh persen populasi terkaya di dunia berkontribusi hampir setengah dari total emisi karbon global. Sementara itu, masyarakat miskin justru menjadi korban utama dari kerusakan lingkungan, meskipun mereka tidak memiliki kuasa untuk mencegahnya,” paparnya.

Untuk itu, Eva mendorong dakwah ekologis yang berkeadilan dan menyentuh aspek distribusi kekayaan, kekuasaan, dan akses terhadap sumber daya. Ia menilai masjid memiliki peran penting sebagai lokomotif perubahan gaya hidup umat menuju pola yang lebih berkelanjutan.

“Masjid dapat menjadi pusat perubahan perilaku umat menuju gaya hidup yang ramah lingkungan, berkeadilan, dan menghargai bumi sebagai rumah bersama,” tutup Eva.