SerambiMuslim.com – Sikap pesimis dinilai bukan sekadar kelemahan mental. Dalam ajaran Islam, pesimisme dapat mencerminkan prasangka buruk kepada Allah.
Nabi Muhammad menekankan pentingnya sikap optimistis dalam menghadapi ujian hidup.
Optimisme menjadi bagian dari husnuzan atau prasangka baik kepada Allah. Keyakinan seorang hamba diyakini berbanding lurus dengan pertolongan Allah. Karena itu, umat Islam diajarkan untuk selalu berharap baik.
Sahabat Nabi SWA, Abu Hurairah, meriwayatkan hadis tentang hal tersebut. “Aku sesuai prasangka hamba-Ku kepada-Ku,” demikian firman Allah dalam hadis qudsi.
Hadis tersebut diriwayatkan oleh Muslim. Pesan itu menegaskan pentingnya menjaga keyakinan positif kepada Allah.
Dalam hadis itu juga disebutkan kedekatan Allah kepada hamba-Nya. Semakin seorang hamba mendekat, semakin besar pertolongan Allah.
Umat Islam diingatkan untuk berhati-hati terhadap sikap pesimis. Sikap tersebut berpotensi mengarah pada suudzon kepada Allah.
Ulama Al-Izz bin Abdus Salam turut menjelaskan hal tersebut. Ia menyebut husnuzan sebagai bentuk pengagungan terhadap rahmat Allah.
Menurutnya, harapan kepada Allah harus dijaga dalam segala kondisi. Berbaik sangka adalah bentuk keyakinan pada luasnya ampunan Allah.
Ia mengimbau umat Islam tetap optimistis dalam setiap ujian. Sikap tersebut menjadi bagian dari keimanan yang kuat.
Optimisme juga diyakini memperkuat ketenangan batin. Dengan husnuzan, seorang Muslim diharapkan mampu menghadapi cobaan.
Pesan ini relevan di tengah berbagai tekanan kehidupan modern.
Umat diingatkan untuk menjaga keyakinan dan harapan kepada Allah. ***







