Global  

UNESCO Tetapkan Sebastia Palestina sebagai Warisan Dunia

UNESCO menetapkan Sebastia di Tepi Barat sebagai Warisan Dunia dan Warisan Dunia Terancam. Palestina berharap status ini melindungi situs bersejarah dari ancaman penyitaan dan perluasan kendali Israel. (Foto: AFP)

SerambiMuslim.com – Pemerintah Palestina menyambut keputusan UNESCO yang menetapkan Sebastia, situs arkeologi kuno di Tepi Barat yang diduduki Israel, sebagai Warisan Dunia sekaligus Warisan Dunia yang Terancam.

Status tersebut diharapkan menjadi instrumen internasional untuk melindungi kawasan bersejarah itu dari ancaman penyitaan lahan dan perluasan kendali Israel.

Keputusan UNESCO disambut positif oleh otoritas Palestina. Sebaliknya, Israel mengecam langkah tersebut dan menilainya sebagai keputusan yang bermuatan politik.

Wakil Wali Kota Sebastia, Nizar Kayed, mengatakan pengakuan UNESCO membawa harapan baru bagi pelestarian kota kuno yang telah berdiri lebih dari 3.000 tahun.

“Keputusan ini diambil setelah perintah penyitaan yang dikeluarkan oleh otoritas pendudukan Israel, yang menghancurkan daerah ini dari sudut pandang budaya dan sejarah, serta menghancurkan mata pencaharian masyarakat. Ini adalah bagian dari proyek perluasan permukiman di daerah ini,” kata Kayed dikutip dari Reuters.

Sebastia merupakan salah satu situs arkeologi terpenting di Tepi Barat. Kawasan itu dikelilingi kebun zaitun dan menyimpan beragam peninggalan sejarah, mulai dari kolom Romawi, tembok kuno, tangga batu, hingga amfiteater yang merekam perjalanan panjang berbagai peradaban.

Bagi warga Palestina, situs tersebut tidak hanya memiliki nilai sejarah, tetapi juga menjadi sumber penghidupan melalui sektor pariwisata. Namun, mereka menghadapi ancaman setelah otoritas Israel mengumumkan rencana mengambil alih sekitar 180 hektare lahan di dalam dan sekitar kawasan arkeologi dengan alasan pelestarian dan pengembangan kawasan.

Palestina juga menyoroti rancangan undang-undang baru Israel yang dinilai berpotensi memperluas kendali atas situs-situs arkeologi di Tepi Barat.

Jika disahkan, regulasi itu dinilai dapat mengurangi kewenangan Otoritas Palestina dalam mengawasi situs arkeologi di wilayah administratifnya sebagaimana diatur dalam Perjanjian Oslo pada 1990-an.

Sejarah Sebastia

Mengutip Al Jazeera, Sebastia diyakini sebagai lokasi Samaria, ibu kota Kerajaan Israel kuno. Kota tersebut diperkirakan telah berdiri lebih dari tiga milenium dan menjadi salah satu pusat peradaban penting di kawasan itu.

Pada era Romawi, Herodes Agung membangun kembali kota tersebut dan menamainya Sebaste sebagai penghormatan kepada Kaisar Augustus. Sejak itu, Sebastia berkembang menjadi kota megah dengan kuil, stadion, jalan berkolonade, serta berbagai bangunan monumental.

Selain peninggalan Romawi, Sebastia juga menyimpan warisan dari masa Helenistik dan Bizantium. Kawasan ini memiliki nilai religius bagi umat Islam dan Kristen karena dikaitkan dengan makam Nabi Yahya AS atau Yohanes Pembaptis.

Berbagai temuan arkeologi, seperti tembok kota, istana kerajaan, gudang penyimpanan kuno, hingga bangunan Romawi, menunjukkan Sebastia pernah menjadi pusat berbagai peradaban, mulai dari Kanaan, Israel kuno, Asyur, Persia, Yunani, Romawi, Bizantium, Islam, masa Perang Salib, hingga Kesultanan Ottoman.

Alasan UNESCO Menetapkan Sebastia sebagai Warisan Dunia

Menteri Pariwisata dan Purbakala Palestina, Hani al-Hayek, mengatakan Komite Warisan Dunia UNESCO telah menyetujui nominasi Palestina untuk memasukkan Sebastia ke dalam daftar Warisan Dunia.

Menurutnya, UNESCO menilai Sebastia sebagai saksi unik perjalanan berbagai peradaban dan budaya yang berkembang di kawasan tersebut selama ribuan tahun.

“Dalam keputusannya, komite menegaskan bahwa Sebastia memiliki ciri khas berupa banyaknya lapisan arkeologis dan kejelasan urutan sejarahnya, yang mencerminkan perkembangan berkelanjutan sebuah pusat perkotaan, politik, dan keagamaan selama lebih dari 2.000 tahun,” ujar al-Hayek.

Ia menambahkan, nilai universal luar biasa yang dimiliki Sebastia menjadikannya layak memperoleh perlindungan berdasarkan Konvensi Warisan Dunia UNESCO.

Komite Warisan Dunia juga memasukkan Sebastia ke dalam daftar Warisan Dunia yang Terancam. Status itu diberikan karena adanya ancaman terhadap kelestarian situs, termasuk rencana penyitaan lahan, perubahan karakter sejarah dan arkeologi kawasan, serta pembatasan upaya perlindungan dan konservasi akibat pendudukan Israel.

Al-Hayek mengatakan pemerintah Palestina akan bekerja sama dengan berbagai mitra lokal dan internasional untuk memperbarui rencana pengelolaan kawasan serta memperkuat perlindungan dan pemantauan agar nilai sejarah Sebastia tetap terjaga bagi generasi mendatang.

Meski demikian, penetapan status oleh UNESCO tidak secara otomatis mengubah kendali Israel atas kawasan tersebut.

Palestina menilai pengalaman sebelumnya menunjukkan keputusan internasional belum tentu diikuti perubahan di lapangan. Pada 2017, misalnya, UNESCO menetapkan Kota Tua Hebron sebagai Warisan Dunia. Namun, Israel tetap mempertahankan permukiman di pusat kota Palestina serta mengambil alih pengelolaan Masjid Ibrahimi meski mendapat penolakan dari pihak Palestina. (*)