Perpecahan Sunni-Syiah Rekayasa Zionis

Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi (kanan), menilai perpecahan Sunni dan Syiah kerap dimanfaatkan pihak luar untuk melemahkan umat Islam. (Foto: Istimewa)

SerambiMuslim.com – Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, menilai perpecahan Sunni dan Syiah kerap dimanfaatkan pihak luar untuk melemahkan umat Islam.

Boroujerdi menyebut perbedaan mazhab sejatinya hal yang wajar dalam kehidupan beragama. Namun, menurut dia, konflik yang membesar justru tidak terjadi secara alami.

“Perpecahan antar mazhab dan agama itu dikondisikan. Ketika umat terpecah, mereka menjadi lemah dan mudah dihancurkan,” ujar Boroujerdi saat bertemu dengan Ketua PP Muhammadiyah periode 2005–2015, Din Syamsuddin, dan sejumlah tokoh Islam di kawasan Pondok Labu, Jakarta Selatan,  Jumat, 3 April 2026.

Ia menilai pihak luar, khususnya kelompok yang ia sebut sebagai Zionis, memanfaatkan perbedaan tersebut di tengah konflik geopolitik dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel.

Boroujerdi mencontohkan situasi di Iran, menurut dia, telah melampaui perdebatan Sunni dan Syiah. Ia mengatakan masyarakat dari berbagai mazhab hidup berdampingan.

“Di Iran tidak lagi dipersoalkan Sunni atau Syiah. Ada wilayah yang mayoritas Ahlussunnah dan mereka hidup berdampingan,” katanya.

Ia menambahkan, komunitas Sunni di Iran juga memiliki ruang dalam berbagai sektor strategis, termasuk pemerintahan dan militer.

“Sebagian dari mereka menjadi tentara, bahkan ada yang menduduki posisi panglima,” ujar dia.

Boroujerdi menekankan bahwa konflik bersenjata tidak membedakan latar belakang mazhab. Ia menyinggung dampak serangan yang dirasakan seluruh warga tanpa pengecualian.

“Ketika rudal dijatuhkan, tidak ada yang memilih siapa Sunni atau Syiah. Semua terdampak,” katanya.

Ia mengajak umat Islam meneladani persatuan pada masa Nabi Muhammad SAW, ketika para sahabat tetap bersatu menghadapi ancaman bersama.

Menurut dia, perbedaan mazhab tidak semestinya diperbesar, terutama dalam situasi konflik.

Selain itu, Boroujerdi juga mengkritik kebijakan Israel yang dinilainya diskriminatif terhadap warga Palestina. Ia menyebut adanya perbedaan perlakuan hukum antara warga Yahudi dan Palestina.

Di sisi lain, ia mengklaim Iran memberikan ruang bagi berbagai kelompok agama, seperti Nasrani, Yahudi, dan Zoroaster, untuk berpartisipasi dalam kehidupan bernegara.

“Mereka memiliki perwakilan di parlemen dan dilibatkan dalam berbagai sektor,” katanya.

Ia juga menegaskan bahwa dalam konteks pertahanan negara, Iran tidak membedakan latar belakang agama.

“Mereka yang gugur membela negara disebut syuhada, termasuk non-Muslim,” ujar Boroujerdi.

Pertemuan tersebut turut dihadiri sejumlah organisasi Islam, antara lain Al Washliyah, Bakomubin, Majelis Ulama Indonesia, dan Wanita Islam.

Boroujerdi menegaskan bahwa persatuan lintas mazhab dan agama menjadi kunci menghadapi tantangan global yang semakin kompleks. ***