SerambiMuslim.com – Ketegangan antara umat Islam dan Yahudi di Madinah meningkat tajam pasca kemenangan kaum Muslimin dalam Perang Badr.
Kemenangan umat Islam dalam Perang Badr disebut memperkuat posisi kaum Mukmin di Madinah. Namun, situasi itu justru memicu peningkatan permusuhan dari kalangan Yahudi.
Dalam kitab Sirah Nabawiyah karya Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri, disebutkan bahwa salah satu tokoh Yahudi yang paling menonjol adalah Ka’b bin Al-Asyraf.
Selain itu, kelompok Yahudi Bani Qainuqa disebut sebagai golongan yang paling keras menunjukkan permusuhan. Mereka dikenal sebagai perajin logam dan pembuat peralatan perang di Madinah.
“Bani Qainuqa memiliki sekitar 700 prajurit dan dikenal paling berani di antara kelompok Yahudi,” tulis Al-Mubarakfuri.
Keberanian itu, menurutnya, menjadikan mereka sebagai kelompok pertama yang melanggar perjanjian dengan kaum Muslimin.
Setelah Perang Badr, tindakan provokatif Bani Qainuqa semakin terbuka. Mereka disebut kerap mengolok-olok dan mengganggu kaum Muslim, termasuk perempuan yang datang ke pasar.
Situasi ini mendorong Rasulullah untuk mengumpulkan mereka dan memberikan peringatan.
“Rasulullah mengajak mereka kepada kebaikan dan mengingatkan agar tidak memicu permusuhan,” demikian dikisahkan dalam riwayat.
Namun, peringatan tersebut tidak diindahkan. Dalam riwayat Ibnu Abbas yang dicatat Abu Dawud, Rasulullah menyeru:
“Wahai orang-orang Yahudi, masuklah Islam sebelum kalian mengalami nasib seperti Quraisy.”
Seruan itu justru dibalas dengan tantangan. “Jangan engkau tertipu oleh kemenanganmu atas Quraisy. Mereka tidak pandai berperang. Jika melawan kami, engkau akan tahu siapa kami,” demikian jawaban mereka.
Peristiwa tersebut kemudian diiringi turunnya firman Allah SWT dalam Al-Qur’an:
قُلْ لِّلَّذِيْنَ كَفَرُوْا سَتُغْلَبُوْنَ وَتُحْشَرُوْنَ اِلٰى جَهَنَّمَ ۗ وَبِئْسَ الْمِهَادُ
قَدْ كَانَ لَكُمْ اٰيَةٌ فِيْ فِئَتَيْنِ الْتَقَتَا ۗفِئَةٌ تُقَاتِلُ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَاُخْرٰى كَافِرَةٌ يَّرَوْنَهُمْ مِّثْلَيْهِمْ رَأْيَ الْعَيْنِ ۗوَاللّٰهُ يُؤَيِّدُ بِنَصْرِهٖ مَنْ يَّشَاۤءُ ۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَعِبْرَةً لِّاُولِى الْاَبْصَارِ
Qul lil-lażīna kafarū satuglabūna wa tuḥsyarūna ilā jahannam(a), wa bi’sal-mihād(u). Qad kāna lakum āyatun fī fi’atainil taqatā, fi’atun tuqātilu fī sabīlillāhi wa ukhrā kāfiratuy yaraunahum miṡlaihim ra’yal-‘ain(i), wallāhu yu’ayyidu binaṣrihī may yasyā'(u), inna fī żālika la‘ibratal li’ulil-abṣār(i).
Artinya:
“Katakanlah kepada orang-orang yang kafir, ‘Kamu pasti akan dikalahkan dan digiring ke dalam neraka Jahanam…” (QS Ali Imran: 12-13).
Al-Mubarakfuri menjelaskan, respons Bani Qainuqa menunjukkan indikasi kuat keinginan untuk berkonflik terbuka. Meski demikian, Rasulullah dan para sahabat memilih menahan diri.
“Kaum Muslim bersabar dan menunggu perkembangan berikutnya,” tulisnya.
Ketegangan memuncak saat terjadi insiden di pasar Bani Qainuqa. Seorang wanita Muslimah disebut mengalami pelecehan oleh pengrajin perhiasan.
Dalam riwayat Ibnu Hisyam dari Abu Aun, disebutkan bahwa pelaku mengikat ujung pakaian wanita tersebut hingga auratnya tersingkap saat berdiri.
Peristiwa itu memicu reaksi spontan. Seorang pria Muslim membunuh pelaku, namun kemudian ia juga dibunuh oleh kelompok Yahudi.
Insiden tersebut menyebar cepat di kalangan kaum Muslimin dan memicu kesiapan untuk menghadapi konflik terbuka.
Peristiwa ini menjadi salah satu titik awal eskalasi konflik antara kaum Muslimin dan Bani Qainuqa di Madinah, yang kemudian berujung pada konfrontasi lebih besar. ***







