Berita  

Taqwa: Makna dan Pentingnya dalam Kehidupan Sehari-hari

Gambar Ilustrasi (int)

SerambiMuslim.com- Taqwa adalah istilah dalam bahasa Arab yang sering diterjemahkan sebagai “ketaatan” atau “kesadaran kepada Allah.” Dalam konteks Islam, taqwa merujuk pada sikap seseorang yang selalu menyadari kehadiran Allah dan berusaha menjalankan perintah-Nya serta menjauhi larangan-Nya. Secara harfiah, kata “taqwa” berasal dari akar kata “wa-qaya,” yang berarti “melindungi” atau “menjaga.” Oleh karena itu, taqwa dapat diartikan sebagai upaya untuk melindungi diri dari azab Allah melalui kepatuhan dan ketakwaan.

Taqwa adalah istilah yang sering disebut dalam hal ibadah. Orang yang bertakwa akan mendapat banyak kemuliaan baik di dunia maupun di akhirat.

Perintah takwa termaktub dalam QS. Al Maidah ayat 35 sebagai berikut:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَٱبْتَغُوٓا۟ إِلَيْهِ ٱلْوَسِيلَةَ وَجَٰهِدُوا۟ فِى سَبِيلِهِۦ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.” (QS. Al Maidah: 35)

Menurut beberapa ulama seperti Al Ghazali sebagaimana diterangkan Farid Ahmad dalam bukunya Quantum Takwa, takwa dapat didefinisikan sebagai upaya membersihkan diri dari dosa yang sebelumnya belum pernah dilakukan, sehingga lahir motivasi dalam diri untuk meninggalkannya. Dengan kata lain, takwa menjadi upaya untuk menjaga diri dari berbagai kemaksiatan.

Dalam Al Quran, takwa ditafsirkan ke dalam 3 makna. Berikut makna takwa menurut perintah-Nya dalam Al Quran:

1. Khasyyah (takut berbalut cinta) dan haibah (takut berbalut pengagungan)

Allah SWT berfirman dalam QS. Al Baqarah ayat 41 dan 281 sebagai berikut:

وَإِيَّٰىَ فَٱتَّقُونِ

Artinya: “dan hanya kepada Akulah kamu harus bertakwa.” (QS. Al Baqarah: 41)

وَٱتَّقُوا۟ يَوْمًا تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى ٱللَّهِ ۖ

Artinya:”dan Takutlah kalian dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kalian dikembalikan kepada Allah.” (QS. Al Baqarah: 41)

2. Taat dan beribadah

Allah SWT berfirman dalam QS. Ali Imran ayat 102 sebagai berikut:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran: 102).

3. Membersihkan hati dari berbagai dosa

Allah SWT berfirman dalam QS. An-Nur ayat 52 sebagai berikut:

وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَيَخْشَ ٱللَّهَ وَيَتَّقْهِ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْفَآئِزُونَ

Artinya: “Dan barang siapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan.” (QS. An-Nur: 52).

Selain itu, dalam beberapa ayat juga telah dijelaskan ciri-ciri orang yang bertakwa. Dua di antaranya sebagai berikut:

1. Orang yang beriman dan menjalankan perintah-Nya

Allah SWT berfirman dalam QS. Al Baqarah ayat 2-5 sebagai berikut:

ذَٰلِكَ ٱلْكِتَٰبُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ (2) ٱلَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِٱلْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَمِمَّا رَزَقْنَٰهُمْ يُنفِقُونَ (3) وَٱلَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَآ أُنزِلَ إِلَيْكَ وَمَآ أُنزِلَ مِن قَبْلِكَ وَبِٱلْءَاخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ (4) أُو۟لَٰٓئِكَ عَلَىٰ هُدًى مِّن رَّبِّهِمْ ۖ وَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ (5)

Artinya: “Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa,(yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka. dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al Baqarah: 2-5)

2. Orang yang menafkahkan hartanya, menahan amarah, dan mamaafkan kesalahan orang lain

Allah SWT berfirman dalam QS. Ali Imran ayat 133-134 sebagai berikut:

وَسَارِعُوٓا۟ إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَٱلْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ (133) ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ فِى ٱلسَّرَّآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَٱلْكَٰظِمِينَ ٱلْغَيْظَ وَٱلْعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِ ۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ (134)

Artinya: “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali Imran: 133-134).

Ada banyak hal yang bisa dilakukan untuk mencapai derajat takwa. Orang yang dalam ibadahnya terbiasa taat (sesuai yang diperintahkan Allah), berarti ibadahnya sudah sampai pada derajat takwa. Ustadz Hanan Attaki memberikan contoh pada beberapa ibadah seperti sholat, puasa, zakat, hingga haji.

Menurutnya, orang yang mengerjakan sholat tetapi belum terbebas dari kemungkaran, berarti sholatnya orang tersebut belum mencapai derajat takwa. Derajat takwa dalam ibadah sholat adalah ketika seseorang menyegerakan untuk sholat saat panggilan adzan berkumandang.

Selain sholat, ibadah yang melatih untuk mencapai derajat takwa adalah puasa. Allah SWT memerintahkan hamba-Nya untuk menahan hawa nafsu dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari. Orang yang taat akan menjalankan apa yang telah diatur oleh Allah, seperti makan sahur, menahan diri, dan berbuka ketika sudah waktunya.

Dilansir dari situs Kemenag Bengkulu, ada empat hal yang bisa dilakukan untuk mencapai takwa, antara lain 1) tawadhu’ atau rendah hati, 2) qona’ah atau ridho dan rela, 3) wara’ atau terhindar dari sifat ragu, dan 4) yakin.

Allah SWT terlibat dalam setiap masalah hamba-Nya yang bertakwa. Dia akan memberikan jalan keluar dari setiap masalah tersebut. Sebagaimana firman-Nya dalam QS. Ath Thalaq ayat 3 sebagai berikut:

وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُۥٓ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ بَٰلِغُ أَمْرِهِۦ ۚ قَدْ جَعَلَ ٱللَّهُ لِكُلِّ شَىْءٍ قَدْرًا

Artinya: “Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (QS. Ath Thalaq: 3).

Pengertian Takwa

Takwa (تقوى) berarti melindungi, menjaga, atau menghindari. Secara umum, takwa dalam konteks Islam merujuk pada keadaan atau tindakan seorang individu untuk menjaga dirinya dari dosa dan perilaku yang tidak sesuai dengan ajaran agama.
Ini mencakup perilaku yang merusak hubungan seseorang dengan Tuhan dan manusia. Takwa juga sering dijelaskan sebagai “kesadaran akan Allah” atau “kewaspadaan terhadap dosa.”
Takwa juga dapat dipahami sebagai sikap hati yang mendorong seseorang untuk mematuhi perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Hal ini melibatkan kesadaran akan keberadaan Allah yang selalu mengawasi, serta niat yang tulus untuk mematuhi-Nya.

Pentingnya Takwa dalam Islam

Takwa bukan hanya sekadar konsep teoritis, tetapi sebuah prinsip yang dijalani umat Islam dalam kehidupan sehari-hari. Konsep takwa berfungsi sebagai pedoman moral dan etika dalam perilaku individu. Beberapa alasan mengapa takwa sangat penting dalam Islam adalah:

1. Menghindari Dosa

Takwa membantu seseorang untuk menghindari dosa dan perilaku yang tak sesuai dengan ajaran Islam. Dengan kesadaran akan Allah, individu cenderung untuk tak melanggar perintah-Nya.

2. Penguatan Iman

Takwa memperkuat iman seseorang. Dengan menjalani hidup yang sesuai dengan ajaran agama, seseorang merasa lebih dekat dengan Allah dan memperkuat ikatan spiritualnya.

3. Keselamatan Dunia dan Akhirat

Takwa adalah kunci keselamatan, baik di dunia maupun di akhirat. Dengan menjaga diri dari perbuatan dosa, seseorang menghindari konsekuensi negatif di dunia dan mendapatkan pahala di akhirat.

4. Hubungan Sosial yang Baik

Takwa juga berdampak positif pada hubungan sosial. Seseorang yang takwa cenderung berperilaku baik dan adil terhadap sesama, menciptakan masyarakat yang lebih harmonis.
Karena menjadi pondasi moralitas yang kuat dalam Islam, takwa tak hanya menciptakan individu yang baik, tetapi juga masyarakat yang baik. Kesadaran akan Allah dan keseriusan dalam menjalani ajaran agama adalah kunci bagi perkembangan masyarakat yang beradab.”

Takwa dalam Kehidupan Sehari-hari

Takwa bukan hanya sekadar konsep teoritis, tetapi juga harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Ini mencakup perilaku yang baik, integritas, kejujuran, dan kepatuhan terhadap ajaran agama.
Seseorang yang bertakwa berusaha untuk menjalani hidup yang sesuai nilai-nilai Islam, seperti menjaga salat, berbuat baik ke sesama, dan menghindari perbuatan dosa.
Takwa tak hanya terlihat dalam ibadah ritual, tetapi juga dalam bagaimana seseorang bersikap terhadap orang lain. Hal ini termasuk berbicara dengan baik, menjaga komitmen, dan memberi kontribusi positif ke masyarakat.