Fikih  

Mengapa Harus Menoleh Kanan dan Kiri Saat Salam Salat?

ILUSTRASI - Mengapa umat Islam menoleh ke kanan dan kiri saat salam salat? Simak makna, dasar hadis, serta hukum salam ke kanan dan ke kiri menurut ulama. (Foto: iStockphoto)

SerambiMuslim.com – Salam menjadi penutup salat yang menandai berakhirnya rangkaian ibadah. Saat mengucapkan salam, umat Islam dianjurkan menoleh ke kanan dan ke kiri.

Ternyata, gerakan tersebut bukan sekadar tradisi, tetapi memiliki makna spiritual dan sosial yang mendalam.

Dalam buku “Tuntunan Shalat Lengkap dan Benar” karya Neni Nuraeni dijelaskan bahwa salam termasuk salah satu rukun salat. Dari seluruh rukun salat, bacaan yang wajib hanya meliputi takbiratul ihram, Surah Al-Fatihah, bacaan tasyahud beserta selawat, dan salam.

Perintah menegakkan salat sendiri dijelaskan dalam Alquran, salah satunya pada Surah Al-Baqarah ayat 43:

وَاَقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَاٰتُوا الزَّكٰوةَ وَارْكَعُوْا مَعَ الرّٰكِعِيْنَ

Artinya: “Tegakkanlah salat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk.”

Makna Salam Menoleh ke Kanan dan Kiri

Dalam buku “Rahasia Shalatnya Orang-orang Makrifat” susunan Imam Al Ghazali yang diterbitkan Pustaka Media dijelaskan, salam pertama ditujukan kepada malaikat yang berada di sebelah kanan dan kiri. Kedua malaikat tersebut bertugas mencatat amal perbuatan manusia.

Sementara itu, salam kedua diperuntukkan bagi seluruh makhluk Allah yang berada di sekitar orang yang sedang salat.

Penjelasan serupa juga disampaikan dalam buku “Nikmatnya Ibadah” karya H. Ahmad Zacky El-Syafa. Menurutnya, menoleh ke kanan dan ke kiri saat mengucapkan salam bertujuan menyampaikan pesan kedamaian kepada orang-orang yang berada di sekitar.

Ucapan Assalamualaikum warahmatullah bermakna doa agar keselamatan dan rahmat Allah SWT tercurah kepada orang lain. Dengan menoleh ke kanan dan kiri, pesan kasih sayang serta perdamaian tersebut disampaikan kepada sesama jemaah.

Gerakan itu juga dipahami sebagai bentuk penghormatan kepada makhluk Allah yang berada di sekitar, baik sesama jemaah, malaikat, maupun makhluk lain. Hal ini didasarkan pada sejumlah hadis, di antaranya:

“Nabi itu pernah salat sebelum Asar sebanyak empat rakaat yang dipungkasi dengan bacaan salam terhadap malaikat yang selalu mendekatkan diri pada Allah, muslim, dan mukmin.” (HR Abu Daud)

“Rasulullah memerintahkan kami untuk menjawab salam imam, dan saling berkasih sayang, dan saling menjawab salam satu sama lain.” (HR Abu Daud)

Bolehkah Salam Hanya ke Kanan?

Masih merujuk pada sumber yang sama, salam ke arah kanan merupakan bagian wajib sebagai penutup salat. Salam ini menjadi penanda berakhirnya ibadah sekaligus mengandung makna tanggung jawab sosial terhadap sesama. Dalam Alquran, kelompok yang memperoleh keselamatan disebut sebagai ash-hab al-yamin atau golongan kanan.

Sementara itu, salam ke arah kiri berstatus sunnah. Gerakan ini menjadi simbol ajakan untuk menebarkan kedamaian kepada seluruh manusia, baik sesama muslim maupun nonmuslim.

Makna salam ke kiri juga menjadi pengingat bahwa Islam mengajarkan kasih sayang, toleransi, dan perdamaian yang tidak hanya diucapkan melalui lisan, tetapi juga diwujudkan dalam sikap dan perilaku sehari-hari. (*)