Berita  

Pesantren Jalan Cahaya, Mencerahkan Komunitas Punk

Baznas menggelar Program Pesantren Jalan Cahaya untuk memberikan pendidikan agama kepada komunitas marjinal seperti anak jalanan dan komunitas punk. (Foto: iStockphoto/Ilustrasi)

SerambiMuslim.com – Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) RI meluncurkan Program Pesantren Jalan Cahaya untuk memberikan pendidikan agama inklusif bagi anak jalanan, komunitas punk, penyandang disabilitas, serta kelompok rentan lainnya.

Program yang dilaksanakan selama bulan Ramadan ini diadakan di 20 titik se-Indonesia.

Pelaksanaan perdana Pesantren Jalan Cahaya diselenggarakan di Masjid Jami’ Nurul Hidayah, Kampung Sawah, Cilincing, Jakarta Utara, Sabtu, 21 Februari 2026.

Program ini bertujuan untuk menguatkan keimanan masyarakat melalui pendidikan agama yang mudah diakses oleh mereka yang selama ini terpinggirkan.

“Ramadan adalah momentum terbaik untuk menguatkan keimanan. Melalui Pesantren Jalan Cahaya, kami ingin memastikan zakat menjadi cahaya perubahan bagi saudara-saudara kita yang selama ini terpinggirkan,” ujar Pimpinan Baznas RI Bidang Pendistribusian dan Pendayagunaan, Saidah Sakwan, dalam keterangannya, Senin, 23 Februari 2026.

Saidah menambahkan, Pesantren Jalan Cahaya merupakan bagian dari komitmen Baznas untuk mengoptimalkan distribusi zakat yang tidak hanya berdampak secara spiritual, tetapi juga sosial, sejalan dengan motto ‘Ramadhan Baznas: Zakat Menguatkan Indonesia.’

Komitmen Baznas untuk Komunitas Marjinal

Kepala Divisi Pendidikan dan Dakwah Baznas RI, Farid Septian, menjelaskan bahwa program ini dirancang untuk menjangkau komunitas yang selama ini minim akses terhadap pembinaan keagamaan formal. Dalam pelaksanaannya, Baznas menargetkan dua ribu peserta dari berbagai kalangan marjinal yang bisa tercerahkan melalui program ini.

“Kami ingin menyasar komunitas-komunitas yang terabaikan dari sentuhan dakwah. Harapannya mereka bisa kembali menemukan cahaya agar semakin dekat kepada Allah SWT, kata Farid.

Menurut Farid, pelatihan yang diberikan selama Ramadan ini juga akan menjadi langkah awal untuk program lanjutan dalam pendekatan Zakat Community Development, yang melibatkan pemberdayaan ekonomi dan sosial agar perubahan yang dibangun bisa bersifat berkelanjutan.

Puji, salah satu peserta dari Cilincing, mengungkapkan rasa senangnya bisa mengikuti program ini. “Alhamdulillah, senang dengan adanya program Baznas ini. Selain beribadah di bulan Ramadhan, kami bisa mempererat silaturahim dan menimba ilmu agama. Semoga tidak hanya di bulan Ramadhan saja,” ujarnya.

Zakat Inklusif untuk Penyandang Disabilitas

Selain memperhatikan komunitas marjinal lainnya, Baznas juga memberikan perhatian khusus kepada penyandang disabilitas. Saidah Sakwan menegaskan bahwa kebijakan Baznas untuk mendukung penyandang disabilitas sudah menjadi bagian dari kebijakan nasional. Ia berharap zakat inklusif ini mampu mendukung perempuan, anak, dan penyandang disabilitas.

“Baznas memfasilitasi seribu penyandang disabilitas untuk mengikuti pelatihan dan dapat bekerja di perusahaan-perusahaan yang telah berkomitmen untuk merekrut karyawan disabilitas yang kompeten,” jelas Saidah.

Baznas bekerja sama dengan Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) untuk memberikan pelatihan yang memadai dan membuka akses pasar kerja bagi penyandang disabilitas. Salah satu contoh kesuksesan adalah Sri, yang berhasil membuat kaki buatan, serta Z-Coffee Hening di Yogyakarta yang dikelola oleh penyandang disabilitas tunarungu.

“Kami menginginkan mereka bisa mandiri dan berpartisipasi secara setara dengan teman-teman yang lain. Dana zakat memiliki peran penting dalam membantu mereka hidup lebih normal dan mandiri,” tambah Saidah.

Baznas juga mencetak Alquran Bahasa Isyarat dan memberikan pelatihan kepada penyandang disabilitas tunarungu agar mereka bisa membaca Alquran, memenuhi kebutuhan spiritual mereka. ***