Hikmah  

Kisah Rasulullah Menghibur Anak Yatim di Hari Lebaran

FOTO: iStockphoto/Ilustrasi

SerambiMuslim.com – Di tengah suasana sukacita Idulfitri, tidak semua orang dapat merasakan kebahagiaan yang sama. Bagi sebagian orang, khususnya mereka yang kehilangan orang tercinta, hari raya justru bisa menghadirkan kesedihan yang mendalam.

Sebuah kisah pada masa Nabi Muhammad SAW menggambarkan bagaimana kepedulian dan kasih sayang mampu mengubah duka menjadi kebahagiaan, bahkan di hari yang penuh suka cita.

Dikisahkan, pada suatu hari Idulfitri, Rasulullah SAW berjalan menyusuri perkampungan untuk menyapa serta mendoakan kaum Muslim. Di sepanjang perjalanan, beliau melihat anak-anak bermain dengan riang, mengenakan pakaian terbaik mereka, serta menikmati suasana hari raya dengan penuh kegembiraan.

Namun, di sudut jalan, perhatian Rasulullah SAW tertuju pada seorang anak perempuan kecil yang duduk sendiri. Ia tampak murung, mengenakan pakaian sederhana yang telah usang, berbeda dengan anak-anak lain yang sedang bergembira.

Rasulullah SAW kemudian mendekati anak tersebut. Dengan penuh kelembutan, beliau meletakkan tangan di kepala sang anak dan bertanya, “Wahai anakku, mengapa engkau menangis di hari yang seharusnya membawa kebahagiaan ini?”

Anak itu menjawab dengan suara terbata-bata. Ia mengungkapkan bahwa ia merasa sedih karena tidak lagi memiliki ayah. Ia teringat momen Idulfitri sebelumnya, ketika sang ayah masih hidup dan membelikannya pakaian baru, yang membuatnya sangat bahagia.

Kini, ayahnya telah tiada setelah gugur dalam sebuah peperangan. Sejak saat itu, ia menjadi yatim dan merasa kehilangan sosok yang sangat dicintainya.

Mendengar kisah tersebut, Rasulullah SAW menunjukkan empati yang mendalam. Beliau kemudian berkata dengan penuh kasih, “Wahai anakku, bersediakah engkau jika aku menjadi ayahmu? Dan apakah engkau ridha jika Fatimah menjadi kakakmu serta Aisyah menjadi ibumu?”

Mendengar hal itu, anak perempuan tersebut terkejut. Ia pun menyadari bahwa sosok yang berbicara kepadanya adalah Rasulullah SAW. Kesedihannya perlahan sirna, berganti dengan rasa haru dan bahagia.

Rasulullah SAW kemudian mengajak anak tersebut ke rumahnya. Di sana, Fatimah merawat dan membersihkannya, menyisir rambutnya, serta memakaikannya pakaian yang layak. Ia juga diberikan makanan dan bekal untuk merayakan hari raya.

Tak lama kemudian, anak itu kembali keluar dan bergabung dengan anak-anak lain. Ia pun tampak ceria dan kembali bermain dengan penuh kegembiraan.

Kisah yang termuat dalam buku 115 Kisah Menakjubkan dalam Kehidupan Rasulullah SAW karya Fuad Abdurahman ini menjadi pengingat bahwa kepedulian sosial dan kasih sayang memiliki kekuatan besar untuk menghadirkan kebahagiaan, terutama bagi mereka yang sedang diliputi kesedihan. ***