SerambiMuslim.com – Hubungan Nabi Muhammad SAW dengan komunitas Yahudi di Madinah sejak awal tidak harmonis.
Perbedaan keyakinan dan kepentingan politik memicu ketegangan antar kelompok. Faktor ekonomi juga memperkuat potensi konflik yang berkembang.

Dakwah Islam dinilai mengancam dominasi sosial dan ekonomi Yahudi. Ajaran tentang keadilan dan larangan riba menjadi titik sensitif.
Di Madinah, terdapat tiga kabilah Yahudi yang berpengaruh. Mereka adalah Bani Qainuqa, Bani Nadhir, dan Bani Quraizhah.
Ketiga kabilah memiliki hubungan lama dengan suku Aus dan Khazraj. Mereka turut berperan dalam konflik antarsuku sebelum Islam datang.
Sejarawan Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri mencatat sikap Yahudi terhadap Islam cenderung negatif.
“Orang Yahudi memandang Islam dengan kebencian dan kedengkian,” tulisnya.
Fanatisme rasial juga memengaruhi sikap penolakan tersebut. Nabi Muhammad SAW tidak berasal dari garis keturunan Yahudi. Hal ini memperkuat resistensi terhadap ajaran yang dibawa.
Dakwah Islam justru menekankan persatuan dan keadilan sosial. Ajaran tersebut berpotensi menyatukan suku-suku Arab di Madinah.
Kondisi ini dikhawatirkan melemahkan pengaruh ekonomi Yahudi. Praktik riba yang sebelumnya dominan terancam ditinggalkan.
Jika terjadi, sumber keuntungan ekonomi mereka akan berkurang. Potensi tuntutan atas harta riba juga menjadi kekhawatiran. Sejak awal, tanda-tanda penolakan mulai terlihat.
Riwayat dari Ibn Ishaq menggambarkan reaksi tokoh Yahudi. Kesaksian disampaikan oleh Safiyyah bint Huyayy.
Ia menceritakan perubahan sikap keluarganya setelah bertemu Nabi. “Ayahku berkata, aku akan memusuhinya selama hidup,” ujarnya.
Pernyataan itu mencerminkan permusuhan yang mulai terbentuk.
Namun, tidak semua tokoh Yahudi menolak Islam. Sebagian justru menerima ajaran yang dibawa Nabi.
Tokoh tersebut adalah Abdullah bin Salam. Ia dikenal sebagai ulama Yahudi terkemuka di Madinah.
Setelah berdialog, ia meyakini kebenaran ajaran Nabi. “Aku bersaksi Muhammad adalah Rasul Allah,” katanya.
Ia juga mengingatkan sikap kaumnya yang cenderung menyangkal. “Jika mereka tahu aku masuk Islam, mereka akan mendustakan,” ujarnya.
Peristiwa ini menunjukkan dinamika hubungan yang kompleks. Resistensi dan penerimaan terjadi dalam waktu bersamaan.
Kondisi tersebut menjadi tantangan awal dakwah Islam di Madinah. ***






