SerambiMuslim.com – Tawaf wada’ merupakan tawaf perpisahan yang dilakukan jamaah haji sebagai bentuk penghormatan terakhir kepada Baitullah sebelum meninggalkan Makkah.
Ibadah ini dilaksanakan sebanyak tujuh putaran, dimulai dari Hajar Aswad dengan posisi Kabah berada di sebelah kiri, sebagaimana tawaf pada umumnya.
Dalam pandangan mayoritas ulama, seperti Imam Abu Hanifah, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad, tawaf wada’ hukumnya wajib bagi jamaah yang hendak meninggalkan Makkah. Kewajiban ini didasarkan pada hadis riwayat Ibnu Abbas RA.
“Orang-orang yang berhaji diperintahkan untuk mengakhiri manasiknya dengan tawaf di Baitullah, namun diringankan bagi perempuan yang sedang haid,” (HR. Bukhari No. 1755).
Berdasarkan ketentuan tersebut, jamaah yang tidak melaksanakan tawaf wada’ dikenakan dam berupa satu ekor kambing. Namun, terdapat rukhsah (keringanan) bagi perempuan yang sedang haid atau nifas, sehingga tidak diwajibkan melaksanakan tawaf wada’ dan tidak dikenai dam.
Sementara itu, sebagian ulama seperti Imam Malik, Dawud, dan Ibnu Mundzir berpendapat bahwa tawaf wada’ bersifat sunah. Dengan demikian, jamaah yang tidak melaksanakannya tidak dikenakan sanksi dam, terutama bagi mereka yang memiliki uzur seperti sakit.
Bagi jamaah perempuan yang tidak dapat melaksanakan tawaf karena haid atau nifas, dianjurkan tetap memberikan penghormatan kepada Baitullah dengan berdoa di area Masjidil Haram.
Mengacu pada buku Manasik Haji dan Umrah 2026 terbitan Kementerian Haji dan Umrah, berikut doa yang dianjurkan saat tawaf wada’:
Doa Tawaf Wada’
يسْمِ اللهِ اللَّهُ أَكْبَرُ سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اللَّهُمَّ إِيمَانًا بِكَ وَتَصْدِيقًا بِكِتَابِكَ وَاتِّبَاعًا لِسُنَّةِ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الَّذِي فَرَضَ عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لَرَادُّكَ إِلَى مَعَادٍ يَا مُعِيدُ أَعِدْنِي يَا سَمِيعُ أَسْمِعْنِي يَا جَبَّارُ اجْبُرْنِي يَا سَتَّارُ اسْتُرْنِي يَا رَحْمَنُ ارْحَمْنِي يَا رَدَّادُ ارْدُدْنِي إِلَى بَيْتِكَ هَذَا وَارْزُقْنِي الْعَوْدَ ثُمَّ الْعَوْدَ كَرَّاتٍ بَعْدَ مَرَّاتٍ تَائِبُونَ عَابِدُونَ سَائِحُونَ لِرَبِّنَا حَامِدُونَ صَدَقَ اللَّهُ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ اللَّهُمَّ احْفَظْنِي عَنْ يَمِينِي وَعَنْ يَسَارِي وَمِنْ قُدَّامِي وَمِنْ وَرَاءِ ظَهْرِي وَمِنْ فَوْقِي وَمِنْ تَحْتِي حَتَّى تُوَصِّلَنِي إِلَى أَهْلِي وَبَلَدِي اللَّهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا السَّفَرَ وَاطْوِ لَنَا الْأَرْضَ اللَّهُمَّ أَنْتَ الصَّاحِبُ فِي السَّفَرِ وَالْخَلِيفَةُ فِي الْأَهْلِ اللَّهُمَّ اصْحَبْنَا فِي سَفَرِنَا وَاخْلُفْنَا فِي أَهْلِنَا يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ وَيَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.
Latin:
Bismillāh, Allāhu akbar, subḥānallāh wal-ḥamdu lillāh wa lā ilāha illallāh wallāhu akbar, wa lā ḥaula wa lā quwwata illā billāhil ‘aliyyil ‘aẓīm. Waṣ-ṣalātu was-salāmu ‘alā Rasūlillāh ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam. Allāhumma īmānan bika wa taṣdīqan bikitābika wattibā‘an lisunnati nabiyyika Muḥammadin ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam. Innal-ladzī faraḍa ‘alaikal-Qur’āna larādduka ilā ma‘ād. Yā Mu‘īdu a‘idnī, yā Samī‘u asmi‘nī, yā Jabbāru ijburnī, yā Sattāru usturnī, yā Raḥmānu irḥamnī, yā Raddādu urdudnī ilā baitika hādzā warzuqnī al-‘auda ṡumma al-‘auda karrātin ba‘da marrāt. Tā’ibūna ‘ābidūna sā’iḥūna lirabbinā ḥāmidūn. Ṣadaqallāhu wa‘dah, wa naṣara ‘abdah, wa hazamal-aḥzāba waḥdah. Allāhumma iḥfaẓnī ‘an yamīnī wa ‘an yasārī wa min quddāmī wa min warā’i ẓahrī wa min fauqī wa min taḥtī ḥattā tuwaṣṣilanī ilā ahli wa baladī. Allāhumma hawwin ‘alainas-safar waṭwi lanal-arḍ. Allāhumma antaṣ-ṣāḥibu fis-safar wal-khalīfatu fil-ahl. Allāhumma iṣḥabnā fī safarinā wakhlufnā fī ahlinā yā arḥamar-rāḥimīn wa yā rabbal-‘ālamīn.
Artinya:
“Dengan nama Allah, Allah Maha Besar, Maha Suci Allah dan segala puji hanya kepada Allah, tidak ada Tuhan selain Allah Yang Maha Besar, tiada daya (untuk meraih manfaat) dan tiada kekuatan (untuk menolak bahaya), kecuali dengan pertolongan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.
Salawat dan salam bagi junjungan Rasulullah SAW.
Ya Allah, aku datang kemari karena iman kepada-Mu, membenarkan kitab-Mu, memenuhi janji-Mu dan karena mengikuti sunnah Nabi-Mu Muhammad SAW.
Sesungguhnya (Allah) yang mewajibkan Engkau (Muhammad) untuk (melaksanakan hukumhukum) Alquran, benar-benar akan mengembalikanmu ketempat kembali.
Wahai Tuhan Yang Maha Kuasa mengembalikan, kembalikan aku ke tempatku. Wahai Tuhan Yang Maha Mendengar, kabulkanlah permohonanku. Wahai Tuhan Yang Maha Memperbaiki, perbaikilah aku. Wahai Tuhan Yang Maha Pelindung, tutuplah aibku. Wahai Tuhan Yang Maha Kasih Sayang, sayangilah aku. Wahai Tuhan Yang Maha Kuasa Mengembalikan, kembalikan aku ke Kabah ini dan berilah aku rezeqi untuk kembali lagi berkali-kali dalam keadaan bertaubat, beribadat, dan berpuasa sambil memuji.
Maha benar Allah dengan janji-Nya, menolong hamba-Nya, yang menghancurkan sendiri musuh-musuhNya.
Ya Allah, peliharalah aku dari sisi kanan dan kiri, depan dan belakang, dari sebelah atas dan bawah sampai Engkau mengembalikan aku kepada keluarga dan Tanah Airku.
Ya Allah, permudahkanlah perjalanan kami, lipatlah bumi untuk kami. Ya Allah, Engkau Pengiring perjalanan dan Pengganti dalam keluarga. Ya Allah, sertailah perjalanan kami dan gantilah kedudukan kami dalam keluarga yang ditinggal, wahai Tuhan Yang Maha Pengasih melebihi segala pengasih, wahai Tuhan Yang Memelihara seluruh alam.”
Doa tersebut berisi permohonan keselamatan, penerimaan ibadah, serta harapan agar dapat kembali ke Tanah Suci di masa mendatang.
Doa Setelah Melakukan Tawaf Wada‘
Setelah menyelesaikan tawaf wada’, jamaah dianjurkan berdoa di Multazam, yakni area antara Hajar Aswad dan pintu Kabah, sebagai bentuk penghambaan dan harapan akan keberkahan.
اللَّهُمَّ إِنَّ البَيْتَ بَيْتَكَ وَالْعَبْدَ عَبْدُكَ وَابْنُ عَبْدِكَ وَابْنُ أَمَتِكَ حَمَلْتَنِي عَلَى مَا سَخَّرْتَ لِي مِنْ خَلْقِكَ حَتَّى سيرتنِي فِي بِلَادِكَ وَبَلَغَتَنِي بِنِعْمَتِكَ حَتَّى أَعَنْتَنِي عَلَى قَضَاءِ مَنَاسِكِك،َ فَإِنْ كُنْتَ رَضِيْتَ عَنِّي فَازْدَدْ عَنِّي رِضًا وَإِلَّا فَمُنَّ الأَنَ عَلَى قَبْلَ تَبَاعُدِي عَنْ بَيْتِكَ وَهَذَا أَوَانُ انْصِرَافِي إِنْ أَذِنْتَ لِي غَيْرَ مُسْتَبْدَلٍ بِكَ وَلَا بِبَيْتِكَ وَلَا رَاغِبْ عَنْكَ وَلَا عَنْ بَيْتِكَ اللَّهُمَّ فَأَصْحِبْنِي الْعَافِيَةَ فِي بَدَنِي وَالْعِصْمَةَ فِي دِيْنِي وَأَحْسِنُ مُنْقَلَبِي وَارْزُقْنِي طَاعَتَكَ مَا أَحْيَنِتَنِي مَا أَبْقَيْتَنِي وَاجْمَعْ لِي خَيْرَي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِي اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْ هَذَا آخِرَ عَهْدِي بَيْتِكَ الْحَرَامِ وَإِنْ جَعَلْتَهُ أَخِرَ عَهْدِي فَعَوَضْنِي عَنْهُ الْجَنَّةَ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِين،َ أَمِينَ يَا رَبَّ الْعَالَمِين
Latin:
Allāhumma innal-baita baituka wal-‘abda ‘abduka wabnu ‘abdika wabnu amatika ḥamaltanī ‘alā mā sakhkharta lī min khalqika ḥattā sīratanī fī bilādika wabalaghtanī bini‘matika ḥattā a‘antanī ‘alā qaḍā’i manāsikika, fa in kunta raḍīta ‘annī fazdad ‘annī riḍā, wa illā famunna al-āna ‘alayya qabla tabā‘udī ‘an baitika wa hādzā awānu inṣirāfī in adzinta lī ghaira mustabdalin bika wa lā bibaitika wa lā rāghibin ‘anka wa lā ‘an baitika. Allāhumma fa aṣḥibnī al-‘āfiyata fī badanī wal-‘iṣmata fī dīnī wa aḥsin munqalabī warzuqnī ṭā‘ataka mā aḥyaytanī mā abqaytanī wajma‘ lī khairayid-dunyā wal-ākhirah innaka ‘alā kulli syai’in qadīr. Allāhumma lā taj‘al hādzā ākhira ‘ahdī baitakal-ḥarām wa in ja‘altahu ākhira ‘ahdī fa‘awwiḍnī ‘anhu al-jannata biraḥmatika yā arḥamar-rāḥimīn, āmīn yā rabbal-‘ālamīn.
Artinya:
“Ya Allah, rumah ini adalah rumah Mu, aku ini hamba-Mu, anak hamba-Mu yang laki-laki dan anak hamba-Mu yang perempuan.
Engkau telah membawa aku di atas kendaraan ciptaan-Mu (unta) yang Engkau tundukkan untukku, dan Engkau sendiri memudahkan perjalananku, serta mengantarkan aku sampai ke negeri-Mu ini dan menolongku dengan nikmat-Mu sehingga dapat menunaikan ibadah haji.
Kalau Engkau rida padaku, maka tambahkanlah keridaan itu padaku. Jika tidak, maka karuniailah aku sekarang sebelum aku jauh dari rumah-Mu.
Sekarang sudah waktunya aku pulang, jika Engkau izinkan aku tidak menukar sesuatu dengan-Mu atau pun rumah-Mu, tidak benci pada-Mu dan tidak juga benci pada rumah-Мu.
Ya Allah, maka bekalilah aku dengan kesehatan pada tubuhku, dan pemeliharaan pada agamaku, perbaikilah tempat kembaliku dan bantulah aku untuk taat padamu selama hidupku dan kumpulkanlah bagiku dua kebajikan dunia dan akhirat. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala se-suatu.
Ya Allah, jangan jadikan ini masa terakhirku bertemu dengan rumahMu. Namun kalau memang menjadi masa terakhirku, maka gantilah dengan surga, berkat rahmat-Mu, wahai Tuhan Yang Maha Pengasih dari segala yang pengasih, āmīn. Wahai Tuhan Maha Pemelihara seluruh alam.”
Jamaah yang Boleh Tidak Tawaf Wada’
- Perempuan haid atau nifas
- Jamaah dengan kondisi medis tertentu (istihadhah, beser, luka)
- Anak-anak
- Jamaah dengan gangguan psikologis atau tertinggal rombongan
- Lansia atau jemaah sakit yang tidak mampu secara fisik
Hikmah Tawaf Wada’
Tawaf wada’ memiliki sejumlah makna spiritual, di antaranya sebagai ungkapan syukur atas selesainya rangkaian ibadah, harapan memperoleh haji mabrur, serta doa keselamatan dalam perjalanan pulang.
Selain itu, momen ini juga menumbuhkan kerinduan mendalam untuk kembali ke Baitullah. Banyak jemaah yang merasakan haru saat harus meninggalkan Ka’bah, seraya memanjatkan doa agar suatu saat dapat kembali lagi. ***






