SerambiMuslim.com – Dalam kitab Al-Hikam, Syekh Ibnu Athaillah As-Sakandari menasihatkan agar seorang hamba tidak terjebak rasa bangga atas ketaatan yang ia lakukan.
Ketaatan tidak seharusnya melahirkan perasaan seolah-olah itu muncul dari kekuatan diri sendiri. Sebaliknya, seorang hamba justru dianjurkan untuk bergembira karena ketaatan tersebut merupakan karunia Allah yang dianugerahkan kepadanya.
Kegembiraan itu bukan bersumber dari pencapaian pribadi, melainkan dari kesadaran bahwa Allah telah melimpahkan rahmat dan kasih sayang-Nya.
Sebagaimana perintah Allah agar manusia bergembira dengan karunia dan rahmat-Nya, karena hal itu jauh lebih berharga dibandingkan apa pun yang dikumpulkan di dunia.
Syekh Abdul Majid Asy-Syarnubi Al-Azhari dalam Syarah Al-Hikam menjelaskan bahwa rasa senang terhadap ketaatan akan menjadi berbahaya apabila muncul dari keyakinan bahwa semua itu berasal dari usaha dan kemampuan diri semata. Perasaan seperti ini berpotensi menumbuhkan sifat ujub dan kesombongan dalam hati seorang hamba.
Namun, apabila kegembiraan itu disertai kesadaran bahwa seluruh ketaatan terjadi berkat taufik, keutamaan, dan kasih sayang Allah, maka kegembiraan tersebut menjadi ibadah tersendiri. Seorang hamba akan semakin rendah hati dan semakin bergantung kepada Allah dalam setiap amalnya.
Allah SWT menegaskan dalam Surah Ash-Shaffat ayat 96:
“Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu.”
Hikmah ini sejalan dengan firman Allah dalam Surah Yunus ayat 58, yang memerintahkan manusia untuk bergembira dengan karunia dan rahmat Allah. Kegembiraan tersebut merupakan nikmat yang jauh lebih bernilai dibandingkan seluruh kenikmatan dunia yang bersifat sementara. ***







