Fikih  

Mengapa Nabi Muhammad SAW Memilih Madinah untuk Hijrah?

FOTO: iStockphoto/Ilustrasi

SerambiMuslim.com – Hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah merupakan salah satu peristiwa penting dalam sejarah Islam. Perpindahan tersebut tidak dilakukan secara tiba-tiba, melainkan melalui pertimbangan yang matang demi keberlangsungan dakwah Islam.

Madinah dipilih sebagai tujuan hijrah karena memiliki kondisi yang lebih kondusif dibandingkan Makkah. Salah satu faktor utama yang melatarbelakangi keputusan tersebut adalah kesiapan masyarakat Madinah dalam menerima ajaran Islam.

Berbeda dengan penduduk Makkah yang sebagian besar menolak dakwah Rasulullah SAW, masyarakat Madinah justru menunjukkan ketertarikan untuk mengenal dan memeluk Islam. Bahkan, mereka berupaya menemui Nabi Muhammad SAW untuk menyatakan keimanan dan kesetiaan kepada beliau.

Dalam bukunya “Madinah Era Kenabian”, KH Ahmad Sarwat menjelaskan bahwa warga Madinah memanfaatkan musim haji dan berbagai kesempatan lainnya untuk bertemu dengan Rasulullah SAW dan menyatakan keislaman mereka.

Ketertarikan masyarakat Madinah terhadap Islam tidak terlepas dari pengaruh komunitas Yahudi yang lebih dahulu tinggal di wilayah tersebut. Mereka sering menyampaikan kabar tentang akan datangnya seorang nabi terakhir, sehingga ketika mendengar tentang Nabi Muhammad SAW, sebagian warga Madinah menyambutnya dengan antusias.

Dukungan masyarakat Madinah semakin nyata ketika mereka meminta Rasulullah SAW mengirimkan seorang sahabat untuk mengajarkan Islam kepada penduduk setempat. Menanggapi permintaan itu, Nabi Muhammad SAW mengutus Mush’ab bin Umair untuk berdakwah dan membimbing masyarakat Madinah.

Pada musim haji selama dua tahun berturut-turut, sejumlah pemimpin kabilah Madinah melakukan Baiat Aqabah kepada Rasulullah SAW. Melalui baiat tersebut, mereka berjanji untuk melindungi Islam dan mendukung perjuangan Nabi Muhammad SAW. Selain itu, mereka juga mengundang Rasulullah SAW untuk menjadikan Madinah sebagai pusat dakwah Islam.

Keputusan hijrah ke Madinah terbukti menjadi langkah strategis. Jika di Makkah dakwah Islam menghadapi tekanan dari para pemimpin Quraisy, di Madinah Rasulullah SAW justru memperoleh dukungan luas dari masyarakat.

Tidak hanya mendapat perlindungan, Nabi Muhammad SAW juga dipercaya menjadi pemimpin masyarakat Madinah. Posisi tersebut memberikan ruang yang lebih besar bagi beliau untuk membangun tatanan sosial, politik, dan keagamaan yang berlandaskan nilai-nilai Islam.

Perkembangan Islam di Madinah pun berlangsung pesat. Jika di Makkah jumlah pemeluk Islam masih terbatas dan didominasi kalangan lemah serta mereka yang mengalami tekanan, di Madinah Islam dengan cepat diterima oleh berbagai lapisan masyarakat.

Selain itu, keamanan Rasulullah SAW lebih terjamin setelah hijrah. Bahkan, sebagai pemimpin Madinah, beliau tidak hanya melindungi umat Islam, tetapi juga menjamin hak dan keselamatan warga non-Muslim yang hidup berdampingan dalam masyarakat Madinah.

Karena itu, hijrah ke Madinah tidak sekadar perpindahan geografis, melainkan langkah penting yang menjadi fondasi lahirnya peradaban Islam dan berkembangnya dakwah secara lebih luas. (*)